Imaji Orang Jawa terkait Datangnya Nabi Khidr

0
261

BincangSyariah.Com – Untuk memahami pengetahuan dan imajinasi orang Jawaterkait datangnya Nabi Khidr, maka bisa ditelisik dalam Kosmologi Jawa. Banyak masyarakat percaya bahwa Nabi Khidr datang dengan menjelma sesuka yang Nabi Khidr inginkan.

Namun, tidak banyak yang tahu, bahwa kedatangan Nabi Khidrbisa dirasakan melalui kondisi alam. Dalam kosmologi filsafat Jawa Nabi Khidr berasal dari kata khidr atau al-khadra, yang artinya “hijau”. Pada karya Lorong-lorong Istana Presiden dijelaskan tentang Mitos orang Jawa warna hijau konon berhubungan dengan Nabi Khidr. Ternyata pernyataan tersebut sesuai dengan hadis riwayat Imam al-Bukhari dalam kitabShahih-nya (j. 9 h. 156),

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ سَعِيدٍ ابْنُ الأَصْبِهَانِيِّ، أَخْبَرَنَا ابْنُ المُبَارَكِ، عَنْ مَعْمَرٍ، عَنْ هَمَّامِ بْنِ مُنَبِّهٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: «إِنَّمَا سُمِّيَ الخَضِرَ أَنَّهُ جَلَسَ عَلَى فَرْوَةٍ بَيْضَاءَ، فَإِذَا هِيَ تَهْتَزُّ مِنْ خَلْفِهِ خَضْرَاء»

Beliau dinamai Khidr karena beliau duduk diatas tanah putih, tiba tiba berguncang dibelakang beliau berwarna hijau. (H.R Bukhori)

Nama asli Khidr di kalangan ahli sejarah dan ulama memang ada perbedaan pendapat, salah satunya pendapag Kamaluddin ad-Damiri (w. 808 H.) pada kitab Hayat al-Hayawanal-Kubro (j. 1 h. 271), yang mengatakan,

إن اسم الخضر مضطرب فيه اضطرابا متباينا والأصح -كما نقله أهل السير وثبت عن النبى صلى الله عليه وسلم كما نقله البغوى وغيره -أن اسمه “بليا”، وأن أباه يسمى “ملكان”، وكان من بنى إسرائيل ومن أبناء الملوك ، وفر من الملك وانصرف إلى العبادة

Nama Khidr diperselisihkan. Dan yang benar, sebagaimana yang dinukil ahli sirah, dan berdasarkan hadis nabi shallallahu ‘alaihiwasallam sebagaimana yang dinukil oleh al-Baghawi dan yang lainnya, bahwa nama beliau adalah Balyan. Dan ayahnya bernama Malkan. Termasuk keturunan bani Israil dan keturunan raja-raja. Beliau lari dari kerajaan dan menghabiskan waktunya untuk ibadah.

Namun, kali ini kami hanya akan membahas Nabi Khidr atas dasar pandangan kosmologi dan imaji masyarakat Jawa. Alasan penggunaan perspektif kosmologi Jawa adalah agar dapat memahami bagaimana resepsi masyarakat Jawa terkait datangnya Nabi Khidr yang hanya menjumpai manusia yang memiliki kesucian seperti halnya wali atau seseorang yang diberi karomah oleh Allah.

Baca Juga :  Meneladani Toleransi Wali Songo

Konsep kosmologi dalam pemahaman orang Jawa dimaknai sebagai kepercayaan tentang alam (cosmos). Ronald mengatakan ada empat unsur yang digunakan dalam memahami kosmologi Jawa, yaitu kepercayaan, mitos, norma-norma, dan pandangan hidup. Dari semua unsur-unsur tersebut berkaitan dengan filsafat Jawa sebagai tanda-tanda yang melekat dalam masyarakat Jawa. Tanda-tanda tersebut berupa, makna, simbol-simbol dan kepercayaan tentang supranatural.

Al-Khidir memiliki makna harfiah yang berarti seseorang yang hijau, maksudnya seseorang yang mempunyai kesegaran akan pengetahuan atau memiliki kesucian jiwa. Salah satu kisah yang saya akan kutip dalam menjelaskan tema ini iadalah kisah Habib Soleh Jember.

Habib Sholeh mendapatkan amalan sholawat yang mansub (disandarkan) olehnya kepada Nabi Khidr. Habib Sholeh merupakan seorang wali Allah yang sempat tinggal di Jember Jawa Timur, dan dimakamkan di daerah Tanggul, di kota yang sama. Habib Sholeh dipercaya memiliki karomah yaitu sholawat Mansub.Masyarakat Jember percaya, jika Sholawat Mansub dipraktikkan amalannya, maka hajat mereka akan dimudahkan oleh Allah SWT.

Saat itu Habib Sholeh bertemu Nabi Khidr ketika berada di Stasiun Jember. Nabi Khidr menjelma menjadi seorang pengemis yang meminta uang kepada Habib Sholeh. Namun Habib Sholeh hanya memiliki uang 10 rupiah dan tidak memberikan uang tersebut pada pengemis. Pengemis lantas pergi dan balik lagi meminta uang pada Habib Sholeh hingga Habib Sholeh curiga dan menjabat tangan pengemis tersebut. Ternyata jempol tangan pengemis tidak bertulang, sontan Habib Sholeh menyadari, bahwa jelmaan pengemis tersebut ialah Nabi Khidr.

Selain ditandai kosmologi, ada tanda lain yaitu berada di ciri fisik Nabi Khidr yaitu Nabi Khidr tidak mempunyai tulang jempol. Selain tulang jempol, memang sulit mengetahui bahwa itu adalah Nabi Khidr, karena wajahnya yang sering berganti-ganti serta penampilannya tidak menunjukkan dari kalangan orang alim. Terkadang Nabi Khidr terlihat pakaiannya compang camping tidak karuan dan menjelma menjadi seorang pengemis. Begitu sebaliknya, terkadang Nabi Khidr juga berpenampilan layaknya preman, hingga orang-orang sekitar takut melihatnya dan akan beranggapan buruk tentang jelmaan Nabi Khidir tersebut.

Baca Juga :  Ini Lima Nama Lain Bulan Rajab

Selain kisah Habib Sholeh, ada juga kisah Syekh Malaya atau yang lebih terkenal dengan nama Sunan Kalijaga. Ia bertemu dan berguru dengan Nabi Khidir saat perjalanan spiritual menuju Makkah untuk beribadah haji atas titah Sunan Bonang, setelah ia melakukan khalwat atau bertapa. Kehadiran Nabi Khidr ketika Syekh Malaya berada di tengah-tengah samudera saat menyebrang lautan dalam perjalanan ke Mekkah, di samudera itulah muncul sosok Nabi Khidir yang kemudian berdialog dengan Syekh Malaya yang memberikan pengajaran sufistik, seperti tauhid hidayah, iman hidayah, ma’rifat, Insan Kamil dan ruh idafi. Ajaran tersebut disampaikan melalui dialog antara Nabi Khidir dan Syekh Malaya. Keduanya memiliki ikatan mengenai penyucian jiwa untuk menuju Insan Kamil dan hakikat manusia sebagai perwujudan.

Dari kisah Syekh Malaya tersebut bisa ditarik kesimpulan bahwa seorang ulama atau wali yang mencapai tingkatan sufi tidak mustahil untuk bertemu Nabi Khidir, tidak hanya sekedar bertemu tapi memberikan sebuah amalan dan pengajaran. Begitu pula dari pertemuan Habib Sholeh dengan Nabi Khidir muncullah SholawatMansub yang dipercayai dan diamalkan akan mendatangkan kemudahan setelah kesulitan, menghilangkan segala penyakit dan mengabulkan segala hajat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here