Ilmuwan Muslim di Era Kerajaan-Kerajaan Kecil di Andalusia

0
1176

BincangSyariah.Com – Dalam kisaran 79 tahun sejak munculnya kerajaan-kerajaan kecil di Andalusia (terkenal dengan sebutan Muluk at-Thawaif) sampai keruntuhannya (1031-1110), terdapat beberapa ilmuwan muslim yang berperan di masing-masing dinastinya. Meski perang saudara, pertikaian antar dinasti, dan kelemahannya dalam menghadapi pasukan Kristen, tiap-tiap dinasti tetap melahirkan ilmuwan yang unggul dan menciptakan banyak karya.

Di antara ilmuwan tersebut ialah Ibn Hazm al-Andalus yang bernama lengkap Abu Muhammad Ali bin Ahmad bin Sa’id bin Hazm al-Farisi. Ia merupakan agamawan dan sejarawan yang lahir di pemerintahan Bani Juhur di Cordoba. Ibn Hazm lahir di Cordoba pada tahun 994 M, tumbuh dan belajar di sana. Selain ahli dalam ilmu agama dan sejarah, ia juga merupakan seorang menteri di Cordoba. Ibnu al-Hazm hidup di mengalami Fitnah al-Andalus (921-1031 M).

Masih tentang Cordoba, ilmuwan berikutnya adalah Abu Marwan Ibnu Hayyan. Ia bernama lengkap Abu Marwan bin Hayyan bin Khalaf bin Husein bin Hayyan bin al-Qurthubi al-Umawi. Ayahnya merupakan seorang menteri Khalifah Manshur bin Abi ‘Amir era Dinasti Umayyah. Ibnu Hayyan mengalami masa-masa saat berdirinya Muluk at-Thawaif dan sosok yang paling banyak menuliskan sejarah tentangnya. Selain dikenal sebagai sejarawan ia juga dikenal sebagai sastrawan. Dua karya peninggalannya yang terkenal ialah al-Muqtabis fi al-Andalus dan al-Matin fi Tarikh al-Andalus.

Bergeser ke sebelah barat daya, kita menemui Sevilla yang dikuasai oleh Bani Abbad. Dinasti ini juga memiliki perhatian khusus kepada ilmuwan baik yang menggeluti sastra, sejarah, maupun fikih. Para ilmuwannya diberi jaminan berupa harta dan tempat tinggal juga jabatan di pemerintahan. Hal tersebut karena pemerintahnya merupakan sastrawan dan sangat mencintai ilmu, terutama di masa perimntahan al-Mu’tamid.

Baca Juga :  Pencapaian Dinasti Bani Abbad dan Keruntuhannya

Penyair yang terkenal pada masa pemerintahan Banu Abbad adalah Ibn Zaidun yang  bernama lengkap Abu al-Walid Ahmad bin Zaidun al-Makhzumi. Ia terkenal sebagai penyair beraliran neo-klasik yang lahir pada tahun 1003 M dan wafat 1071 M. Syiir-syiir yang dibuat olehnya banyak terinspirasi dari pengalaman pribadinya dan kisah cintanya dengan Wallada bint al-Mustakfi, putri Khalifah Umayyah II, Muhammad bin Abdurrahman bin Ubaidillah.

Selain Ibn Zaidun, terdapat juga Ibn al-Labanah yang bernama lengkap Muhammad bin Isa bin al-Labanah (w. 1113 M). Ia terkenal sebagai penyair yang isinya bertujuan untuk memuji para penguasa termasuk kepada al-Mu’tamid bin Abbad. Selain itu juga terdapat penyair dan politikus yaitu, Ibnu Ammar yang bernama lengkap Abu Bakar bin Ammar.

Bergerser ke arah barat laut dari Sevilla, yaitu Badajoz yang merupakan wilayah kekuasaan Bani al-Afthos. Pimpinannya sendiri, Abu Bakar Muhammad bin Abdullah bin Maslamah yang dikenal dengan Ibn al-Afthos merupakan sastrawan dan penyair unggul. Ia juga memiliki karya tulis berupa buku yang berjudul “al-Mudhzoffar”  yang judulnya diambil dari nama julukannya, al-Mudhzoffar. Kitab tersebut berisi tentang teori sastra dan jenis-jenis karya sastra.

Selain Ibn al-Afthos terdapat putranya, Umar al-Mutawakkil yang juga dikenal sebagai sastrawan dan penyair. Ditemukan dalam beberapa buku sejarah dan biografi syiir dan prosa karya Umar al-Mutawakkil. Selain putra kerajaan, Bani al-Afthos memiliki Ibnu Abdun. (w. 1135 M) yang merupakan sastrawan dan Menteri pada masanya. Ada juga Abu al-Walid al-Baji (w. 1081 M) dan Abdu al-Barr al-Maliki (w. 1071 M), seorang ahli fikih mazhab Maliki dan ahli sejarah.

Kemudian di sebelah timur laut, terdapat kota Toledo yang menjadi wilayah kekuasaan Bani Zunnun. Dinasti ini tidak melahirkan sastrawan kecuali satu, yaitu Ibnu Arfa’ Ra’si. Tetapi lebih melahirkan cendekiawan di bidang kedokteran dan kesehatan seperti Ibnu Basol an-Nabati selaku ahli gizi, Ibnu Wafid selaku dokter, ar-Riyadhi Ibn Sa’id pengarang buku sejarah keilmuan yang berjudul Thobaqoh al-Umam.

Ada juga Zaragoza yang memiliki intelektual cerdas yaitu, Ibnu Bajah yang terkenal sebagai ahli Filsafat, at-Thortusyi al-Faqih, Ismail bin Kholaf al-Qari dan kedua pemimpin dari Bani Hud sendiri, al-Muqtadir Ahmad bin hud dan putranya, al-Mu’tamin Yusuf yang terkenal cerdas dalam bidang filsafat, matematika, dan ilmu falak.

Baca Juga :  Kerajaan Islam di Zaragoza: Dari Banu Tajib sampai Bani Hud

Demikian beberapa ilmuwan yang unggul dalam berbagai bidang dan berpengaruh dalam menghidupkan nuansa keilmuan di dinastinya masing-masing.

*diolah dari buku Qisshoh al-Andalus min al-Fathi ila as-Shuquti karya dr. Raghib as-Sirjani

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here