Ilmu Tafsir Mimpi Menurut Ibnu Khaldun

0
1217

BincangSyariah.Com – Dalam tulisan Kelebihan Mengetahui Hal Ghaib menurut Ibnu Khaldun, telah dijelaskan bagaimana fenomena ketersingkapan tabir ilahi atau kasyaf yang dialami oleh kaum sufi terjadi. Fenomena mimpi (ar-ru’ya as-solihah) menurut Ibnu Khaldun kira-kira hampir mirip dengan fenomena kasyaf namun tentu dengan perbedaan yang cukup mendasar.

Dalam kasyaf, fenomena yang dilihat oleh seorang sufi-wali ialah “kebenaran” sejati, sebuah kebenaran yang tidak dapat dibahasakan dengan kata-kata karena kata-kata tidak mampu menampung sesuatu yang berasal dari alam ruhani. Sementara itu, fenomena mimpi yang dilihat oleh seseorang yang sedang tidur terlelap ialah gambaran dan replika dari kebenaran, bukan kebenaran itu sendiri.

Dengan kata-kata lain, bukan hakikat kebenarannya yang dilihat. Yang dilihat dalam mimpi hanyalah simbol-simbol kenyataan yang merupakan cerminan dari kebenaran itu sendiri. Sebab itu, gambaran-gambaran dan replika-replika kebenaran (mitsalat) dalam mimpi tersebut, menurut Ibnu Khaldun, perlu ditafsirkan.

Penafsiran dilakukan untuk melihat acuan yang direpresentasikan simbol-simbol tersebut. Dalam mimpi, replika-replika dari kebenaran ini juga harus disingkap makna-maknanya. Kesesuaian antara simbol dan acuan itulah yang kemudian disebut sebagai kebenaran mimpi.

Berdasarkan kerangka ini, pertanyaan yang dapat diajukan ialah bagaimana Ibnu Khaldun dapat melegitimasi mimpi sebagai bentuk kebenaran dan bagaimana pula simbol-simbol yang ada di dalamnya dapat ditafsirkan?

Ibnu Khaldun dalam karyanya, al-Muqaddimah, menjelaskan secara menarik terkait fenomena mimpi ini:

Mimpi pada dasarnya ialah hasil pengamatan jiwa aktif terhadap kilasan gambaran-gambaran kenyataan yang terdapat dalam entitas ruhani. Ketika memasuki alam ruh jiwa dapat melihat gambaran-gambaran kenyataan secara langsung. Gambaran-gambaran kenyataan ini sama halnya dengan entitas-entitas ruhani lainnya (seperti malaikat, ruh dan seterusnya).

Jiwa akan memasuki alam ruh ketika ia mampu melepaskan dirinya dari belenggu-belenggu tubuh dan mekanisme jasmani. Masuknya jiwa ke alam ruh terkadang terjadi ketika tidur terlelap. Pada saat itu, jiwa dapat menangkap dan memahami pengetahuan tentang peristiwa-peristiwa yang akan terjadi di masa yang akan datang dan mampu menghadirkannya kembali ke dalam memori.

Jika penangkapan dan penyerapan pengetahuan tersebut lemah dan tidak terlalu jelas, pengetahuan tersebut biasanya hanya berupa simbol-simbol dan replika-replika yang hadir dalam fantasi kita. Sebab itu, simbol-simbol ini harus ditafsirkan ulang. Terkadang penangkapan pengetahuan [tentang masa depan] oleh jiwa ini juga sangat jelas dan tidak berbentuk simbol-simbol sehingga tidak perlu ditafsirkan.”

Jadi mimpi ialah hasil dari cara kerja jiwa dalam menangkap fenomena-fenomena di alam ruhani saat kita tidur. Fenomena yang tertangkap oleh jiwa ini disimpan dan dihadirkan kembali dalam memori kita saat kita terbangun.

Jika proses penyerapan jiwa terhadap entitas-entitas ruhani ini berlangsung secara jelas, yang muncul ialah mimpi yang benar dan tak perlu ditafsirkan namun jika proses penyerapan jiwa terhadap entitas-entitas ruhani ini terjadi secara kurang jelas dan samar, yang muncul ialah simbol-simbol yang perlu pemaknaan ulang, atau perlu ditafsirkan oleh pakar yang mampu menafsirkan mimpi dengan benar.

Melalui keterangan di atas, dapat kita lihat bahwa cara kerja jiwa dalam mengamati fenomena di alam ruhani hampir mirip dengan cara kerja rasio/akal dalam mengamati entitas-entitas konkret di alam nyata. Seperti halnya rasio yang cara kerjanya ialah menangkap entitas-entitas inderawi lalu menyerap dan mengirimkannya ke imaginasi, jiwa juga, ketika kita bermimpi, kata Ibnu Khaldun, mengirimkan fenomena-fenomena yang dilihatnya ke imaginasi. Hanya saja fenomena-fenomena yang dilihat oleh jiwa ini berbentuk gambaran-gambaran atau berbentuk simbol-simbol. Misalnya:

Baca Juga :  Mimpi Menikah, Apa Maknanya?

“seseorang melihat ‘raja’ lalu digambarkan oleh imaginasinya dalam bentuk ‘laut’ atau melihat ‘permusuhan’ lalu tergambarkan oleh imaginasinya dalam bentuk ‘ular’.”

Ketika seseorang terbangun dari tidurnya, yang diingatnya hanyalah bentuk ‘laut’ dan ‘ular’ ini, bukan ‘raja’ dan ‘permusuhan’. ‘Laut’ dan ‘ular’ itulah yang disebut gambaran-gambaran kenyataan dalam mimpi. Sebut saja ‘laut’ dan ‘ular’ ini sebagai simbol-simbol. Jadi dua simbol ini diciptakan oleh imaginasi dan masing-masingnya merepresentasikan kebenaran yang diacunya: ‘raja’ dan ‘permusuhan’. Hadirnya simbol-simbol seperti ini disebabkan oleh ketidakmampuan jiwa dalam menyerap kebenaran di alam ruhani secara jelas.

Sebab itu, dibutuhkanlah seseorang yang mampu menafsirkan simbol-simbol mimpi. Seseorang yang pakar dalam tafsir mimpi akan mampu memahami simbol-simbol yang dilihat oleh orang yang bermimpi tersebut serta dapat mencarikan acuan-acuan yang dirujuk simbol tadi (asybah).

Jadi bisa diibaratkan ada aturan-aturan umum (qawanin kulliyyah) yang menjelaskan relasi simbol dalam mimpi dan acuan yang dirujuknya itu. Mungkin bisa kita ibaratkan kamus untuk aturan umum ini. Kamus ini fungsinya ialah menjelaskan ‘kebenaran’ yang diwakili simbol dalam mimpi.

Jadi orang yang pakar dalam tafsir mimpi ini kira-kira menggunakan kamus ini dengan melihat:

“petunjuk-petunjuk yang memberikan informasi soal makna apa yang tepat untuk disematkan kepada simbol-simbol yang hadir dalam mimpi tersebut.”

Tapi tentunya, tidak semua yang dilihat seseorang dalam mimpi berbentuk simbol-simbol yang bisa ditafsirkan. Jadi selain ada mimpi yang benar atau ar-ru’ya as-salihah, ada juga mimpi yang hanya sekedar mimpi tanpa menyiratkan makna apa pun. Mimpi seperti ini prosesnya ialah berupa gambaran-gambaran inderawi yang disimpan oleh memori lalu dikirimkan ke imaginasi saat tidur.

Pada tahap selanjutnya, gambaran-gambaran yang dikirim ke imaginasi ini dapat dilihat kembali oleh orang yang sedang tidur. Jadi gambaran-gambaran dalam imaginasi ini tidak ada kaitannnya dengan mimpi yang benar seperti yang telah dijelaskan di atas. Jadi sebut saja fenomena ini sebagai bunga tidur, bukan mimpi yang menemukan kebenarannya pada kejadian-kejadian di masa mendatang.

Antara Mimpi yang Benar dan Bunga Tidur

Dalam keterangan sebelumnya, telah dijelaskan bahwa mimpi menurut Ibnu Khaldun merupakan gambaran-gambaran kenyataan yang hadir dalam imaginasi kita dan kemudian tersimpan di memori. Gambaran ini merupakan hasil pencerapan jiwa secara aktif terhadap fenomena-fenomena yang terjadi di alam ruh.

Selain itu, gambaran ini pula hadir dalam bentuk simbol-simbol ketika jiwa tidak dapat melihat secara jelas fenomena-fenomena di alam ruhani. Simbol-simbol inilah yang perlu dimintakan tafsirnya kepada ahli tafsir mimpi. Inilah penjelasan Ibnu Khaldun tentang mimpi yang benar.

Baca Juga :  Pernah Mimpi Digigit Ular, Ini Maknanya Menurut Ibn Sirin

Adapun mimpi yang hanya sekedar bunga tidur, Ibnu Khaldun melihatnya sebagai fenomena pencerapan entitas-entitas konkret di dunia nyata dan kemudian disimpan oleh memori lalu dikirimkan ke imaginasi, dan oleh imaginasi, entitas-entitas ini dihadirkan ketika seseorang tidur terlelap.

Melalui penjelasan ini, mungkin kita akan bertanya-tanya kepada Ibnu Khaldun, bagaimana kita bisa membedakan mimpi yang benar dengan mimpi yang hanya sekedar bunga tidur? Apa garis pemisah yang membedakan mimpi yang berasal dari pencerapan fenomena di alam ruhani dengan mimpi yang berasal dari pencerapan fenomena di alam nyata yang hasilnya disimpan oleh memori, dan sementara itu, dua jenis mimpi ini sama-sama dibentuk dan diproduksi oleh imaginasi?

Sayangnya, Ibnu Khaldun tidak memberikan penjelasan lebih jauh terkait ini. Mungkin kesan kita ketika membaca al-Muqaddimah, Ibnu Khaldun seolah sengaja menghindar untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini.

Ibnu Khaldun dalam kitab al-Muqaddimah hanya menjelaskan jenis-jenis mimpi yang menurutnya dapat dibagi menjadi tiga: mimpi dari Allah, mimpi dari malaikat, dan mimpi dari setan. Mimpi dari Allah ialah kebenaran yang nyata sehingga tidak perlu dimaknai ulang (semacam kasyaf). Mimpi dari malaikat ialah mimpi benar yang perlu penafsiran ulang yang dimintakan kepada ahlinya. Sementara itu, mimpi dari setan ialah mimpi buruk atau mimpi yang hanya sekedar bunga tidur.

Selain itu, sayangnya Ibnu Khaldun juga tidak menjelaskan secara lebih jauh dan rinci bagaimana seorang penafsir mimpi dapat sampai kepada penafsiran yang tepat atas simbol-simbol yang hadir dalam mimpi melalui petunjuk-petunjuk (al-qara’in) dan analogi-analogi (asybah) atau kita sebutanya sebagai kamus mimpi.

Aturan-aturan umum yang kita ibaratkan sebagai kamus mimpi tidak lain hanya penjelasan-penjelasan arbitrer yang tidak selalu bersesuaian dengan kenyataannya. Yang dimaksud arbitrer ini ialah penentuan simbol dengan maknanya itu bersifat semena-mena tanpa aturan yang ajeg. ‘Ular’ bagi kebanyakan mimpinya orang-orang Arab merupakan simbol ‘pemusuhan’ sedangkan bagi masyarakat Indonesia merupakan simbol ‘wanita’, misalnya. Jadi di sini kamus mimpi pun tidak bisa memastikan makna yang tepat.

Selain persoalan-persoalan di atas, kita juga bisa mengemukakan pertanyaan lagi, yakni, kenapa tafsir mimpi ini dikategorikan oleh Ibnu Khaldun sebagai ilmu dan apa alasannya, padahal secara objek dan cara kerja pengetahuan dari ilmu ini belum mendapat kejelasan?

Sampai di sini kita melihat bahwa Ibnu Khaldun mencoba berusaha menggunakan basis legitimasi yang bersifat naqli, yang diambil dari al-Quran dan hadis, untuk mengkategorikan tafsir mimpi ini sebagai sebuah ilmu.

Yakni karena tafsir mimpi ada dalam al-Quran, yang dibuktikan dengan bagaimana nabi Yusuf AS menafsirkan mimpi di penjara atau sewaktu beliau berada di Mesir, jadi tafsir mimpi dikategorikan sebagai ilmu.

Sebab itu, karena mendapat rujukannya dari al-Quran, dan mungkin juga dari hadis nabi, tafsir mimpi bisa dikategorikan Ibnu Khaldun sebagai cara kerja pengetahuan yang layak disebut ilmu.

Karena mendapat basis legitimasinya dari al-Quran dan hadis, Ibnu Khaldun kemudian melangkah lebih jauh dengan mengkategorikan tasawwuf dan tafsir mimpi ke dalam kategori ilmu-ilmu naqli, ilmu yang mendapat basis legitimasi dan pembuktian kebenarannya hanya dari al-Quran dan sunnah.

Baca Juga :  Kisah Keruntuhan Muwahhidun dan Kemerdekaan Kerajaan Portugal

Ibnu Khaldun menegaskan bahwa tasawwuf dan tafsir mimpi merupakan dua ilmu naqli yang cara kerja pengetahuan dan sumber-sumbernya ialah jiwa. Jadi jiwa di sini disebut sebagai landasan epistemik bagi adanya ilmu tasawwuf dan ilmu tafsir mimpi. Jiwa bisa disebut perangkat sekaligus sumber pengetahuan.

Persoalan yang muncul kemudian ialah bagaimana tasawwuf dan tafsir mimpi disebut sebagai ilmu sementara pengetahuan yang dihasilkan oleh jiwa ini tidak boleh disampaikan dan ditransmisikan seperti halnya ilmu kalam, ilmu hadis, dan ilmu fikih misalnya?

Ibnu Khaldun sedari awal sudah sadar betul dengan pertanyaan-pertanyaan seperti ini karena itu beliau menegaskan bahwa dua ilmu ini termasuk kepada al-ulum al-hadithah fi al-millah (ilmu-ilmu baru dalam agama).

Tasawwuf bukanlah sejenis ilmu pengetahuan. Tasawwuf hanyalah praktek amaliah keagamaan yang tujuannya ialah mendekatkan diri kepada Allah dengan menjauhi diri dari kesibukan dunia.

Namun, tatkala ilmu-ilmu yang berkaitan dengan agama ini dikodifikasi pada masa tadwin pada abad kedua hijriah, tasawwuf pada tahap selanjutnya menjadi ilmu tersendiri yang tujuannya ialah memberikan jalan atau metode bagi seseorang untuk sampai ke musyahadah atau kasyaf (=penyingkapan tabir ilahi).

Atas dasar ini, kita sebut saja ilmu tasawwuf ini sebagai ilmu karena tasawwuf adalah ilmu tentang amalan dan perilaku keagamaan, bukan ilmu tentang pengetahuan. Tak hanya itu, fungsi ilmu ini hanya sebatas mengantarkan seorang hamba kepada tingkatan musyahadah/kasyaf. Musyahadah atau kasyaf itu sendiri bukanlah ilmu tapi hanya soal dzauq atau intuisi yang dialami seorang sufi-wali.

Sedangkan mimpi ialah sesuatu yang terjadi pada diri kita tanpa kita kehendaki sebelumnya. Mimpi disebabkan oleh terlepasnya jiwa (insilakh an-nafs) dari sesuatu yang bersifat inderawi selama kita tidur. Terlepasnya jiwa ini membuatnya memasuki alam ruhani, alam yang merupakan tempatnya berasal. Mimpi dengan kata-kata lain ialah sejenis kasyaf dalam tasawwuf, namun kasyafnya ialah kasyaf yang tidak langsung karena fenomena-fenomena dalam mimpi hadir dalam bentuk simbol-simbol yang perlu ditafsirkan kembali oleh ahlinya.

Penafsiran mimpi yang di awal-awal Islam terjadi secara spontan yang dilakukan oleh nabi dan para sahabat, pada tahap selanjutnya, terkhusus di era kodifikasi pengetahuan pada abad kedua, menjadi sebuah ilmu. Disebut ilmu karena ia menuliskan dan menyusun ulang tafsiran-tafsiran Nabi dan para sahabatnya terhadap mimpi sebagian orang di masa itu lalu tafsiran-tafsiran ini dijadikan sebagai aturan-aturan umum (al-qawaid al-kulliyyah).

Tak ayal lagi, di masa ini tafsir-tafsir Nabi dan para sahabat Nabi terhadap fenomena mimpi ini dikumpulkan, disusun ulang dan dibukukan yang pada tahap selanjutnya menjadi ilmu tersendiri. Jadi jangan kita definisikan ilmu dalam tafsir mimpi ini sebagai ilmu yang memenuhi syarat-syarat tertentu seperti rasional, objektif, empiris dan sistematis. Dari sekian syarat ini, ilmu tafsir mampu hanya memenuhi syarat keempat, yakni sistematis. Sebab, tafsir-tafsir mimpi oleh nabi, sahabat dan tabi’in ini disusun berdasarkan bab-bab tertentu. Allahu A’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here