Ilmu Nasab: Penting, Tapi Bukan Untuk Menyombongkan Keturunan

0
4104

BincangSyariah.Com – Nasab atau jalur silsilah keluarga terkadang menjadi tolok ukur tersendiri dalam suatu komunitas masyarakat. Makin mulia silsilahnya, makin banyak orang yang menaruh hormat kepadanya. Bisa kita lihat bagaimana beberapa silsilah kekeluargaan tertentu memiliki kedudukan khusus di tengah masyarakat sosial. Misalnya nasab kekeluargaan yang tersambung sampai kepada Rasulullah SAW.

Nasab ini sangat urgen sekali, terkhusus untuk mengetahui kejelasan identitas seseorang. Saking urgennya, ada bidang ilmu tersendiri yang khusus memelajari nasab. Ilmu Nasab ini sering disebut dalam Bahasa Arab sebagai ‘Ilm al-Ansaab. Tujuan dari disusunnya ilmu ini adalah untuk mencegah dari kesalahan dalam menyebut nasab seseorang.

Peletak pertama ilmu ini ialah Imam Hisyam bin Muhammad bin as-Sāib al-Kalbī (w. 204 H). Beliau menyusun lima kitab yang populer dalam ilmu ini, yaitu al-Manzīl, al-Jamharah, al-Wajīz, al-Farīd, dan al-Mulūk. (As-Sam’āni, al-Ansāb, Beirut: Dar el-Jinān, cetakan pertama, 1988, juz 1, halaman 5)

Rasulullah Saw menganjurkan umatnya untuk mempelajari ilmu ini, dalam hadis Beliau bersabda:

اعرفوا أنسابكم تصلوا أرحامكم ، فإنه لا قرب لرحم إذا قطعت، وإن كانت قريبة ، ولا بعد لها إذا وصلت وإن كانت بعيدة

“Kenalilah nasab-nasabmu, maka tali persaudaraanmu akan terus bersambung. Sesungguhnya jika tali persaudaraan terputus, maka hubungan itu menjadi jauh meskipun sebetulnya dekat. Sebaliknya tali persaudaraan itu menjadi dekat bilamana kamu terus menyambungnya sekalipun jauh hubungannya.” (HR al-Bukhāri)

Banyak pengaruh dan konsekuensi yang ditimbulkan dari derajat nasab ini. Misalnya, Sayyid ‘Utsman bin Yahya, ulama yang disebut sebagai Mufti Betawi awal abad ke-20 sangat gigih menentang keras perkawinan antara syarifah (perempuan yang memiliki nasab bersambung ke Rasulullah dengan lelaki yang bukan sayyid atau syarif. Dan, tidak berpengaruh meski walinya sudah mengijinkan pernikahan tersebut. Bahkan merupakan  merupakan kewajiban bagi lelaki sayyid lainnya untuk menentang pernikahan tersebut.

Baca Juga :  Kisah Pelacuran di Masa Rasulullah

Seperti dicatat Azra dalam kajiannya, “Hadhrami Scholars in The Malay-Indonesian Diaspora: a Preliminary Study of Sayyid ‘Uthman”, Mufti Betawi pada masa Belanda tersebut berpendapat seluruh sayyid dan ulama di Mekkah telah bersepakat bahwa syarifah khusus diperuntukkan bagi lelaki sayyid, sedang perkawinan antara seorang syarifah dengan non-sayyid tidak sah hukumnya.

Masih banyak lagi kasus yang terjadi selain diatas. Melihat efek yang terjadi dari klasifikasi nasab leluhur keluarga, maka tak heran jika ada sebagian orang yang bangga dengan nasabnya. Meskipun demikian, membangga-banggakan nasab sebenarnya bukan sifat yang baik. Karena kemuliaan seseorang tentulah karena ketakwaan. Mungkin tak asing lagi aforisma Arab yang berbunyi, asy-yarafu bi al-adabi, la bi an-nasabi (Kemuliaan itu ditentukan dari akhlak, bukan silsilah nasabnya).

Imam asy-Syafi’i justru pernah menegaskan kalau. kemuliaan itu terdapat dalam ilmu dan budipekerti. Beliau berkata dalam syairnya

حياة الفتى والله بالعلم والتقى * اذالم يكونا لاعتباراً لذاته

Demi Allah kehidupan seorang pemuda hanya dengan ilmu pengetahuan dan ketakwaaan *** jika tidak memiliki keduanya, maka keberadaannya tidak bermakna

Dikutip dari Mughni al-Muhtāj fī Halli Alfādz al-Minhāj, Imam al-Ghazali menyebutkan:

شَرَفُ النَّسَبِ مِنْ ثَلَاثِ جِهَاتٍ: إحْدَاهَا: الِانْتِهَاءُ إلَى شَجَرَةِ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – فَلَا يُعَادِلَهُ شَيْءٌ. الثَّانِيَةِ: الِانْتِمَاءُ إلَى الْعُلَمَاءِ فَإِنَّهُمْ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ – صَلَوَاتُ اللَّهِ وَسَلَامُهُ عَلَيْهِمْ أجْمَعِينَ -، وَبِهِمْ رَبَطَ اللَّهُ تَعَالَى حِفْظَ الْمِلَّةِ الْمُحَمَّدِيَّةِ. وَالثَّالِثَةُ: الِانْتِمَاءُ إلَى أَهْلِ الصَّلَاحِ الْمَشْهُورِ وَالتَّقْوَى.

Kemuliaan nasab itu ditinjau dari 3 sisi. Pertama, nasab yang sampai kepada Rasulullah SAW, maka tak ada sesuatu pun yang dapat mengimbanginya. Kedua, nasab yang terhubung kepada para ulama, karena sesungguhnya mereka adalah warisan para Nabi, dan dengan ulama, Allah SWT teguhkan penjagaan al-Millah al-Muhammadiyyah. Ketiga, nasab yang terhubung kepada orang-orang saleh yang masyhur dan bertakwa. (al-Khātib asy-Syirbini, Mughni al-Muhtāj fī Halli Alfādz al-Minhāj, Beirut: Dar el-Kutub al-‘Ilmiyyah, cetakan pertama, 1994, juz 4, halaman 276)

Baca Juga :  Telinga Berdengung, Pertanda Ada Seseorang Membicarakan Kita?

3 sisi diatas, bisa menjadi petimbangan bagi kita dalam memandang strata sosial yang berhubungan dengan silsilah leluhur keluarga. Bahwa, tidak selamanya kemuliaan nasab itu patokannya adalah kekayaan materi, akan tetapi keterhubungan nasab kepada Rasulullah Saw, para ulama dan orang-orang shaleh akan merupakan silsilah yang mulia juga.

Kita dapat melihat sendiri di Indonesia bagaimana orang-orang yang silsilah kekeluargaannya bersambung kepada 3 diatas sangat dimuliakan. Para Dzurriyyah dan Habāib di Indonesia sangat dimuliakan, juga anak-anak Kiai yang biasa kita juluki dengan Gus.

Kendati demikian, perlu menjadi perhatian pula bahwa tidak selamanya kemuliaan harus dengan nasab. Akan tetapi ada yang lebih tinggi lagi dari pada kemuliaan nasab, yaitu mulianya akhlak dan perangai serta kepribadian kita semua. Semestinya, jika kita berada pada nasab yang mulia, maka jadilah pribadi yang rendah hati. Jika nasab kita tidak dikenal sebagai tokoh terkenal misalnya, maka jangan merasa rendah diri. Karena pada hakikatnya semua manusia sama, yang membedakan adalah ketakwaannya. Wallahu a’lam

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here