BincangSyariah.Com – Ada hadis nabi yang berbunyi: “Dua rakaat salat orang alim adalah lebih baik daripada seribu rakaat salat orang bodoh.” Ada hadis lain juga yang kandungannya senada dengan hadis ini: “Tidur seorang alim lebih baik daripada ibadat seorang jahil.” Jadi sekiranya pada tengah malam seorang alim terlelap tidur, sementara seorang jahil bangun melakukan salat, maka tidurnya orang alim itu lebih baik daripada ibadatnya orang yang tidak berilmu.

Mungkin ada yang berpikir, “Tidak adil rasanya keistimewaan yang diberikan kepada orang alim, sampai-sampai tidurnya saja menandingi ibadat orang jahil.” Ada orang yang mempersoalkan, menggugat hadis ini; terutama orang-orang jahil. Malah, kalau sempat, mereka ingin membuka-buka, mencari keterangan bahwa hadis Nabi di atas adalah daif, supaya mereka puas dalam ketidaktahuannya. Ali bin Abi Thalib karramallahu wajhah pernah berkata, “ada kelompok orang yang membuat punggungku patah. Pertama, orang bodoh yang puas dengan kebodohannya; dan kedua, orang alim yang tidak mengamalkan ilmunya.”

Alkisah Rasulullah pernah masuk ke sebuah majlis. Di majlis itu, tampak ada dua kelompok; yang pertama sedang berzikir, dan yang kedua sedang mempelajari ilmu. Rasulullah bersabda, “Kelompok pertama adalah kelompok yang baik. Mudah-mudahan Allah mengampuni mereka. Sementara itu, kelompok kedua lebih tinggi dari kelompok pertama; mudah-mudahan Allah membimbing mereka ke jalan yang lurus.” (H.R. Thabrani)

Maksud Rasulullah, barangkali, merujuk ayat Alquran yang menyatakan bahwa salah satu tugas dipilihnya beliau sebagai rasul adalah mengajarkan ilmu; Dialah yang telah mengutus di kalangan orang-orang ummi seorang rasul untuk membacakan ayat-ayat-Nya (Q.S. Al-Jumu’ah: 2). Rasulullah bersabda, ‘Sesungguhnya aku diutus sebagai seorang yang mengajarkan ilmu.’ Beliau juga bersabda, ‘jika kamu bangun di pagi hari dan membuka satu bab ilmu pengetahuan, itu lebih baik bagi kamu daripada ibadat semalam suntuk’ (H.R. Thabrani). Jadi orang yang salat tahajud, tidak tidur satu saat pun, pahalanya kalah besar dari orang yang mempelajari satu bab ilmu.

Baca Juga :  Tantawi Jauhari dan Tafsir Ilmi

Pada perkembangan mutakhir, ternyata banyak orang yang merasa nikmat dengan menghadiri majelis zikir daripada majlis ilmu. Inilah yang menyebabkan orang Islam ketinggalan dalam menghadapi perkembangan ilmu pengetahuan dari bangsa-bangsa lain. Syekh Syaqib Arsalan menulis dalam bukunya, Limadza Ta’akara Al-Muslimun wa Taqoddana Ghairuhum? (Mengapa Umat Islam Terbelakang sedangkan Umat Non-Muslim Maju?). Salah satu jawabannya ialah karena pernah, dalam sejarah perkembangan umat Islam, kita lebih mengutamakan majelis zikir daripada majlis ilmu.

Sekarang tampaknya kita harus menggeser lagi perhatian seperti itu supaya kita memperhatikan majelis ilmu, untuk menutupi kekurangan ibadah, bukan mengganti ibadah. Untuk menutupi kekurangan itulah, kita menghadirkan majelis-majelis ilmu, membaca buku, mempelajari pengetahuan, bukan buku agama saja, tetapi juga berbagai buku ilmu pengetahuan.

Orang sering mengatakan bahwa Islam adalah agama egalitarian, agama yang menekankan persamaan. Meskipun demikian, dalam Islam, ada yang harus dibedakan. Alquran menegaskan bahwa dalam hal ilmu kita harus ‘diskriminatif’, dalam hal ilmu, kita tidak boleh memperlakukan sama. Kita tidak boleh membedakan orang karena kekayaannya, keturunannya, jabatannya, asal-usulnya. Kita hanya membedakan orang dari ilmunya. Dalam hal ilmu, kita harus membedakan orang.

Bahkan, Allah menegaskan beberapa kali; ‘apakah sama orang yang berilmu dengan orang yang tidak berilmu?’ (Q.S. Al-Zumar: 9). Pertanyaan dalam ayat itu dalah pertanyaan retoris; artinya, jawabannya sudah pasti, yaitu ‘tidak sama’. ‘Apakah sama orang-orang yang buta dengan orang yang melihat?’ (Q.S. Al-An’am: 50) ‘Apakah sama kegelapan dengan cahaya?’ (Al-Ra’d: 16).

Berulang kali Alquran menyebutkan bahwa tidak sama antara kebodohan dan ilmu. Kemuliaan dalam Islam terletak dalam ilmu. Karena itulah, Islam menunjukan keutamaan majelis ilmu dibandingkan majelis zikir. Namun yang paling baik ialah banyak berzikir, sekaligus banyak mempelajari ilmu. Menyeimbangkan potensi hati dengan zikir dan menajamkan potensi pikiran dengan mempelajari ilmu. Allahu A’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here