Ilmu Kalam, Semangka India dan Lalat Berakal

0
838

BincangSyariah.Com – Orang awam jangan sering-sering diajak membahas Ilmu Kalam atau Ilmu Akidah, apalagi sampai membahas Dzat dan sifat-sifat Allah. Itu ilmu tingkat tinggi. Ajaklah memikirkan nikmat dunia, bisa makan, bisa nikah, bisa tertawa, bisa ngopi bareng kawan-kawan dan lain-lain. Yang semuanya nanti bermuara kepada syukur kepada nikmat Pemberinya.

Sebab membahas Ilmu kalam di hadapan orang umum bisa menyebabkan mereka bingung. Contoh kecilnya jika kita sampaikan bahwa Allah itu tidak bertempat dan tidak diliputi arah, tidak di dalam alam tidak juga di luar alam, tidak menyatu dengan alam juga tidak terpisah dari alam, maka otak mereka akan mengingkarinya karena otaknya tidak pernah mendengar dan tak sanggup memahaminya.

Bahkan di zaman Imam Al-Ghazali (1111 M/505 H) ada sekelompok orang yang tidak mampu memahami ilmu kalam yang lebih mudah dari yang di atas. Contohnya ketika dikatakan kepadanya: Allah itu (Maha Suci) tidak memiliki kepala, kaki, tangan, mata, dan anggota badan. Dia juga bukan berupa badan yang berbentuk. Niscaya mereka akan mengingkarinya dan menyangka bahwa hal itu melecehkan keagungan Allah.

Sampai-sampai sebagian orang awam yang tolol berkata:

إن هذا وصف بطيخ هندي لا وصف الإله

“Hai Pak Ustad, yang kamu sampaikan di atas tadi itu bukan sifat Allah, tapi ciri-ciri semangka India”.

Sampai disini saya dibikin terpingkal oleh Hujjatul Islam Al-Ghazali rahimahullah.

Mengapa anggapan ini terjadi? Karena orang awam menyangka bahwa keagungan Allah itu yaa.. yang ada dalam pikirannya yang pernah ia lihat dan yang bisa diindera (physically).

Tidak sampai di sini Imam Al-Ghazzali membuat saya terpingkal dan tepok jidat, ia memberikan contoh lain; Andaikan lalat diberi akal kemudian dikatakan padanya bahwa penciptanya tidak mempunyai sayap, tangan, kaki, dan tidak pula punya sistem penerbangan dalam tubuhnya, niscaya ia akan mengingkarinya sembari berseloroh; Kok bisa penciptaku lebih cemen dariku? Masak iya yang tidak punya sayap, tidak bisa terbang sepertiku adalah penciptaku?

Baca Juga :  Mengenal Abu Hurairah, Sahabat yang Paling Banyak Meriwayatkan Hadis

وعقول أكثر الخلق قريب من هذا العقل

Logika kebanyakan orang menyerupai logika dua contoh di atas: Semangka India dan Lalat Berakal.

وإن الإنسان لجهول ظلوم كفار

Sejatinya manusia itu sangat tolol, sangat dzalim, sangat ingkar.

Oleh karenanya Allah mewahyukan ke sebagian Nabi-Nya agar tidak mendiskusikan sifat-sifat-Nya lantas mereka mengingkarinya. Sebaliknya ajak diskusi mereka tentang-Ku sekedarnya yang ia mampu pahami.

ولذلك أوحى الله تعالى إلى بعض أنبيائه: لا تخبر عبادي بصفاتي فينكروني، ولكن أخبرهم عني بما يفهمون

Qultu: Artinya hal-hal yang njlimet tentang Allah dan sifat-Nya, dan sekiranya membingungkan dan membuat gaduh, hendaklah dihindari. Atau diskusikan di kalangan terbatas sesuai makomnya.

Sumber: Al-Ihya’ 98/5

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here