Ilmu Debat Dalam Khazanah Islam

0
1019

BincangSyariah.Com – Ilmu Debat, atau dalam istilah arabnya ‘ilmu al-Jadal wa al-Munaazhoroh, memiliki legitimasi dalam Al-Qur’an. Sumbernya diantaranya dari Surah Hud ayat 32,

قَالُوا۟ یَانُوحُ قَدۡ جَادَلۡتَنَا فَأَكۡثَرۡتَ جِدَ ٰ⁠لَنَا

Mereka berkata, “Wahai Nuh! Sungguh, engkau telah berbantah-bantahan (debat/jadal) dengan kami, dan engkau telah memperpanjang bantahanmu terhadap kami”

Menafsiri ayat tersebut, Imam Al-Qurtubi dalam al-Jami’ li Ahkaam al-Qur’an menyatakan;

وَالْجَدَلُ فِي الدِّينِ مَحْمُودٌ، وَلِهَذَا جَادَلَ نُوحٌ وَالْأَنْبِيَاءُ قَوْمَهُمْ حَتَّى يَظْهَرَ الْحَقُّ، فَمَنْ قَبِلَهُ أَنْجَحَ وَأَفْلَحَ، وَمَنْ رَدَّهُ خَابَ وَخَسِرَ. وَأَمَّا الْجِدَالُ لِغَيْرِ الْحَقِّ حَتَّى يَظْهَرَ الْبَاطِلُ فِي صُورَةِ الْحَقِّ فَمَذْمُومٌ، وَصَاحِبُهُ فِي الدَّارَيْنِ مَلُومٌ.

Adapun debat tentang Agama merupakan hal yang terpuji (mahmud). Oleh karenanya, Nabi Nuh dan juga nabi-nabi yang lain telah melakukan debat terhadap kaum mereka, sehingga nampak jelas suatu Kebenaran (al-haq). Lalu, barangsiapa menerima kebenarannya, maka berarti ia telah sukses (menemukan kebenaran sejati) dan beruntung. Dan, barangsiapa menolaknya, maka berarti ia telah gagal dan merugi.

Sedangkan, debat yang tidak demi kebenaran, malah menampakan wujud kebatilan di dalam bentuk kebenaran, merupakan hal yang tercela (madzmum). Adapun pelaku debat ini akan celaka di dunia maupun di akhirat.

Kemudian, tata cara debat yang dikenal dalam khazanah Islam adalah,

  1. Debat dilakukan oleh dua pihak, yang setara secara keilmuan, dan memenuhi asas-asas ilmiah dalam menyampaikan argumentasinya.
  2. Dua pihak itu adalah; (a) Pihak pertama disebut al-Mu’taridh, yaitu orang yang menyodorkan argumen penyangkalan dan beberapa pertanyaan yang merontokkan argumen lawan (b) Pihak kedua disebut al-Mustadill, yaitu orang yang mempresentasikan ide dan dalil-argumentasi logisnya (ad-dalil wa al- istidlal), serta menjawab berbagai penyangkalan dan pertanyaan.
  3. Suasana debat haruslah berupa; membenarkan/menguatkan statemennya, dan merontokkan statemen lawannya.
  4. Debat boleh dalam ranah Teologis (tauhid) maupun Syariah-Fiqh.
  5. Debat tersebut haruslah mengikuti standar ilmiah, dan benar-benar demi ilmu, supaya nampak jelas; mana yang Al-Haq, mana yang Al-Bathil; mana yang konsisten, mana yang ngawur.
  6. Oleh karenanya, debat tersebut jangan sampai menjadi debat kusir. Layaknya seperti pencari ranting dan kayu bakar di malam hari, yang mana ia tidak bisa membedakan mana ranting, mana ular. Ataupun, seperti seseorang yang mencari ketiak ular; sudah berputar-putar mencari namun tidak pernah menemukan.
Baca Juga :  Teladan Imam asy-Syafi‘i untuk Mengukuhkan Toleransi Bermazhab

Merumuskan teknis dan tatacara berdebat itu sangat penting. Supaya dalam debat tersebut menjadi jelas; (a) siapa yg mendakwa (mudda’iy), dan siapa yg terdakwa (mudda’a ‘alaih). (b) mana obyek/hal realistis-faktual, dan mana yang hanya asumsi atau halusinasi. (c) mana hal argumentatif-inspiratif (munazhoroh), dan mana hal yg subyektif-narsis dan sombong (mukabarah).

Perlu diingat; Walaupun, ilmu jadal ini didasarkan pada surah Hud ayat ke-32, seyogyanya tidak meniru cara dan tuntutan norak kaum musyrikin umatnya Nabi Nuh, yaitu;

فَأۡتِنَا بِمَا تَعِدُنَاۤ إِن كُنتَ مِنَ ٱلصَّادِقِینَ

Maka datangkanlah kepada kami Azab yang engkau ancamkan, jika kamu termasuk orang yang benar.

Lagipula, debatnya terjadi diantara sesama orang yang bersyahadat, sholat, puasa, zakat dan haji, serta meyakini rukun enam iman, sehingga tidaklah pantas tuntut-menuntut saling ditimpakan Azab. Bahkan, di zaman modern dan makin saintis-ilmiah, tuntut-menuntut adzab merupakan hal bodoh dan jadi bahan olok-olokan, yang malah merendahkan, dan bisa jadi malah mengkerdilkan Islam dan umat Islam.

Ulama Islam banyak membahas tentang ilmu debat ini. Misalnya, Imam Al-Haramain dalam karyanya al-Kafiyah fi al-Jadal; Imam Abu Ishaq As Syirazi dalam Al-Ma’unah fi al-Jadal; Imam Najmuddin At Thufi dalam ‘Alamu al-Jadzal fi ‘Ilmi al-Jadal; Imam Ibn al-Jauzi dalam Al-Idhaah li Qawanini al-Ishtilah fi al-Jadal wa al-Munazhoroh, Imam Abu al-Walid al-Baji dalam karyanya Al-Minhaj fi Tartibi al-Hijaj, Syeikh As Syanqithy dalam Adabu al Bahts wa al Munazhoroh, dan lain sebagainya. Maka, sebaiknya seseorang merujuk dan mempelajari ilmu ini, sebelum melakukan debat atau jadal yang dilakukannya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here