Ijma’ : Sumber Hukum Islam setelah Al-Quran dan Sunnah

0
1741

BincangSyariah.Com – Asy-Syaukani, dalam kitab Irsyad al-Fuhul, menjelaskan jika dilihat secara epistimologi, para ulama lebih cenderung mengartikan ijma dalam artian kesepakatan. Namun, terdapat diskusi panjang mengenai apakah semua umat Muhammad bisa memberikan pendapat dalam ijma’ ataukah seseorang dengan kriteria tertentu saja yang memiliki kapasitas keilmuan tertentu. Siapa sajakah yang bisa memberikan suara dalam ijma’?

Pembahasan tentang kriteria mujtahid yang boleh memberikan pendapat dalam ijma menyebabkan perbedaan pendapat pula di kalangan para ulama. Hal tersebut dapat dilihat dalam perbedaan rumusan definisi dalam mengartikan ijma di kalangan mereka.

Seperti bagaimana Imam Al-Ghazali merumuskan ijma dengan

عبارة عن اتفاق أمة محمد خاصة على أمر من الأمور الدينية

“Kesepakatan umat Muhammad secara khusus atas suatu urusan agama”

Dalam kitab Ahkam Fi Ushul al-Fiqh dijelaskan bahwa meskipun dalam istilah ini ijma dikhususkan atas umat Nabi Muhammad, namun mencakup jumlah yang luas yaitu mencakup semua umat Islam, maka termasuk dalam definisi tersebut orang awam. Pandangan Imam Ghazali ini mengikuti pendapat Imam Syafi’i  yang tampaknya didasarkan pada keyakinan bahwa yang terhindar dari kesalahan hanyalah umat secara keseluruhan bukan perorangan. Namun pendapat Imam Syafi’i selanjutnya mengalami perubahan dan pengembangan di tangan pengikutnya.

Adapun menurut Imam Al-Syaukani, salah seorang imam golongan syafi’iyah, mendefinisikan ijma sebagai berikut

اتفاق مجتهدي أمة محمد صلى اله عليه وآله وسلم بعد وفاته في عصر من العصور على أمر من الأمور

“Kesepakatan para mujtahid umat Muhammad Saw setelah wafatnya, pada suatu masa atas suatu perkara”

Penyebutan kata mujtahid menekankan bahwa pendapat orang awam tidak bisa dimasukkan dalam kesepakatan atau ijma, dan tidak juga bisa membatalkan keputusan ijma yang telah dicapai.

Baca Juga :  Belajar Ulumul Quran: Perbedaan Tafsir dan Takwil     

Sementara Imam Al-Amidi, yang juga pengikut Syafi’iyah, dalam kitab Ahkam Fi Ushul al-Fiqh merumuskan Ijma sebagaimana berikut

الإجماع عبارة عن اتفاق جملة أهل الحل والعقد من أمة محمد في عصر من الأعصار على حكم واقعة من الوقائع

“Ijma adalah kesepakatan sejumlah para ahli yang kompeten mengurusi umat dari umat Muhammad pada suatu masa atas hukum suatu kasus”

Al-Amidi membatasi ijma hanya pada kesepakatan orang-orang tertentu dari umat Muhammad, yaitu orang-orang yang mempunyai fungsi sebagai pengikat atau ulama yang membimbing kehidupan keagamaan umat Islam. Dalam pengertian di atas Al-Amidi mengecualikan orang awam, namun lebih lanjut terlihat Al-Amidi memberikan kemungkinan masuknya orang awam dengan ketentuan telah mampu membuat hukum dan memberi alternatif definisi ijma sebagai berikut

عبارة عن اتفاق المكلفين من أمة محمد في عصر من الأعصار على حكم واقعة من الوقائع

“Ijma adalah kesepakatan para mukallaf dari umat Muhammad pada suatu masa atas hukum suatu kasus”

Definisi yang dikemukakan mayoritas ulama berkisar di sekitar definisi yang dikemukanan al-Amidi yang tersebut di atas meski berbeda dalam perumusannya, yakni, kesepakatan orang yang bernama ulama atau ahl al-halli wa al-aql.

Berbeda dengan ulama golongan syafi’iyah, para ulama syiah merumuskan ijma sebagaimana berikut

اتفاق جماعة لاتفاقهم شأن في اثبات الحكم الشرعي

“Kesepakatan suatu komunitas yang kesepakatan mereka memiliki kekuatan dalam menetapkan hukum syara’”

Amir Syarifudin dalam kitab Ushul Fiqh menjabarkan, ulama Syiah tidak mengharuskan kesepakatan menyeluruh dan mencukupkan dengan kesepakatan kelompok. Karena bagi mereka ijma bukan untuk menetapkan hukum tersendiri di luar Alquran dan Hadis akan tetapi untuk menemukan  adanya sunah yaitu ucapan dan perbuatan seseorang yang dianggap ma’shum, Nabi Muhammad dan ahlul bait.

Baca Juga :  Urgensi Kisah-Kisah di dalam Al-Qur'an

Sementara Ibnu Hazmin dari golongan ulama Zhahiri mengemukanan definisi sebagai berikut

اتفاق اهل الإسلام عن النص من القرآن والسنة

“Kesepakatan ulama Islam tentang nash baik dari Alquran maupun sunah

Sedangkan Al-Nazham, pemuka kelompok Nazhamiyah pecahan dari Mu’tazilah, mengemukakan rumusan lain

كل قول قامت حجته

“Setiap perkataan yang hujahnya tidak dapat dibantah”

Menurut Amir Syarifuddin, ulama Nazhamiyah berkeyakinan setiap ucapan atau pendapat bisa ditegakkan sebagai hujjah syar’iyah meskipun ucapan seseorang. Artian ijma’ bagi mereka lebih seperti kompromi dan perpaduan antara ketidak-setujuan Nazham untuk menempatkan kesepakatan para ulama sebagai hujjah.

Rumusan yang lebih mencakup kepada pengertian Ahl al-sunah adalah yang dikemukakan oleh Abdul Wahab Khalaf dalam kitab ‘Ilm Ushul Fiqh, yang juga dikutip oleh ulama lainnya

اتفاق جميع المجتهدين من المسلمين في عصر من العصور بعد وفاة الرسول على حكم شرعي في واقعة من الوقائع

“Konsensus semua mujtahid muslim pada suatu masa setelah Rasul wafat atas suatu hukum syara’ mengenai suatu kasus”

Rumusan di atas menunjukkan bahwa kesepakatan di sini atas seluruh mujtahid muslim pada suatu masa tertentu setelah Rasul wafat. Penekanan setelah Rasul wafat karena semasa beliau masih hidup Alquran yang akan menjawab persoalan hukum dan masih ada Rasul pula sebagai tempat bertanya. Penyebutan hukum syara juga memberikan penekanan bahwa kesepakatan itu hanya terbatas dalam masalah hukum amaliah dan tidak menjangkau pada masalah akidah. Wallahu’alam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here