Ibnu Taymiyyah dan Soal Diutusnya Buddha Menjadi Nabi

0
3793

BincangSyariah.Com – Dalam tulisan-tulisan sebelumnya, telah disinggung bahwa Rasyid Ridha memperluas makna Ahli Kitab yang tidak hanya sebatas Yahudi dan Kristen, namun juga Budha, Hindu, Konghucu dan agama-agama lainnya yang memiliki kitab suci (al-kitab) atau pedoman yang mirip kitab suci (syubhat al-kitab).

Perluasan makna Ahli Kitab yang tidak melulu Yahudi dan Kristen ini tentu memiliki implikasi lain yang lebih luas, salah satunya ialah kemungkinan bahwa ada nabi-nabi lain yang berada di luar tradisi Bani Israil dan nabi ini membawa ajaran baru bagi masyarakat yang menjadi medan dakwahnya.

Adalah Ibnu Taymiyyah, cendekiawan muslim abad pertengahan yang selalu menjadi rujukan bagi gerakan salafi-wahabi, menegaskan ada kemungkinan munculnya Nabi di luar tradisi Bani Israil tersebut.

Dalam kitab  al-Jawab as-Sahih li-man Baddala Din al-Masih (Jilid 5 Bab Syahadat al-Kutub al-Mutaqaddimah bi Nubuwwati Muhammad SAW), Ibnu Taymiyyah – dalam penafsiran atas kata Faran sebagai Mekkah ketika menjelaskan mengenai munculnya agama-agama samawi di beberapa tempat yang disebutkan perjanjian lama – menegaskan kemungkinan Buddha sebagai salah satu Nabi Allah SWT.

Ketika menafsirkan ayat pertama dari surat at-Tin, Ibnu Taymiyyah dengan sangat menarik menjelaskan:

واستظهر بعض المعاصرين أن قوله تعالى: “والتين” يعني به شجرة (بوذا) مؤسس الديانة البوذية، التي تحرفت كثيرا عن أصلها الحقيقي; لأن تعاليم بوذا لم تكتب في زمنه وإنما رويت كالأحاديث بالروايات الشفهية، ثم كتبت بعد ذلك حينما ارتقى أتباعها.

“Sebagian ulama saat ini (yang semasa dengan Ibnu Taymiyyah) menafsirkan firman Allah yang berbunyi Wat-tin (demi pohon Tin) sebagai pohon Budha, pendiri agama Buddhisme, yang telah mengalami banyak penyelewengan dari kebenaran aslinya. Penyelewengan ini terjadi karena ajaran-ajaran Budha sendiri belum dituliskan di masanya.

Ajaran-ajarannya disampaikan secara lisan sama seperti halnya periwayatan hadis-hadis Nabi (pra-kodifikasi). Namun ketika pengikutnya sudah mulai membanyak, barulah ajaran-ajarannya dituliskan.”

Setelah menjelaskan tafsir ulama yang semasa dengannya, Ibnu Taymiyyah seperti biasanya mentarjih pandangan yang menurutnya paling benar. Karena itu, dalam al-Jawab as-Sahih, ulama yang menguasai banyak bahasa ini mempertegas pandangannya:

والراجح عندنا، بل المحقق إذا صح تفسيرنا لهذه الآية أنه كان نبيا صادقا (ص. 6200 ) ويسمى: (سكياموتي)، أو (جوناما)، وكان في أول أمره يأوي إلى شجرة تين عظيمة وتحتها نزل عليه الوحي، وأرسله الله رسولا، فجاءه الشيطان ليفتنه هناك فلم ينجح معه. ولهذه الشجرة شهرة كبيرة عند البوذيين، وتسمى عندهم: (التينة المقدسة)، وبلغتهم: (أجابالا)

“Yang paling benar menurut kami setelah mengecek pandangan ini dengan teliti, dan jika memang tafsir kami atas ayat ini bisa sahih, Budha adalah seorang Nabi yang asli. Nama aslinya ialah Sakyamuni atau Gautama. Sebelum menjadi Nabi, pada mulanya ia pergi bersemedi di bawah pohon besar.

Setelah itu turunlah wahyu dan Allah mengutusnya sebagai Rasul. Lalu datanglah setan untuk menguji kenabiannya namun tidak berhasil. Pohon tempat Budha bersemedi itu sangat popular di kalangan penganut Budha. Bagi mereka, pohon ini disebut sebagai pohon Ara (pohon tin/bodhi) yang suci atau dalam bahasa mereka disebut sebagai Ajabala (?)”

Jika tafsir Ibnu Taymiyyah ini benar, pandangan Rasyid Ridha yang memperluas makna Ahli Kitab yang mencakup selain Yahudi dan Kristen bisa dibenarkan juga. Ini artinya para penganut agama Budha juga termasuk Ahli Kitab.

Baca Juga :  Saat Rasulullah Menangis Menerima Wahyu tentang Siksa Neraka

Namun yang menjadi tanda tanya, benarkah Ibnu Taymiyyah yang salafi itu berpandangan mengenai kenabian Buddha? Apa sumber-sumber yang digunakan Ibnu Taymiyyah untuk mengklaim kenabian Sidharta Gautama ini?

Kenyataannya penulis memang tidak mengutip langsung dari al-Jawab as-Sahih karya Ibnu Taymiyyah. Kutipan di atas berasal dari kitab tafsir yang berjudul Mahasin at-Ta’wil karya Jamaluddin al-Qasimi.

Penulis Mahasin Ta’wil ini mengutip pandangan Ibnu Taymiyyah ketika menafsirkan surat at-Tin dan menunjukkan bab yang dikutipnya. Beberapa halaman yang dikutip dari Ibnu Taymiyyah ini memang mirip.

Hanya saja kutipan pandangan Ibnu Taymiyyah mengenai kenabian Sidharta Gautama ini tidak ditemukan dalam kitab aslinya, al-Jawab as-Sahih, yang ditahkik oleh ulama Saudi. Kemungkinan dihapus besar dihapus karena ideologi Wahabi tidak mungkin menerima pandangan yang aneh-aneh atau yang kontra dengan ideologi salafinya (Allahu A’lam ini hanya su’uzhan).

Kendati demikian al-Jawab as-Sahih ini perlu ditahkik kembali kitab versi aslinya pasalnya dalam versi yang dikutip al-Qasimi, jelas-jelas Ibnu Taymiyyah berpandangan mengenai kenabian Buddha.

Bisa dipastikan bahwa al-Qasimi juga memiliki pandangan yang sama dengan Ibnu Taymiyyah. Hal demikian dibuktikan dengan tidak adanya sanggahan al-Qasimi terhadap pandangan Ibnu Taymiyyah dan diperkuat  lagi dengan tidak adanya komentar beliau atas tafsiran tersebut.

Dan bahkan, ketika kita membandingkan kutipannya ini dengan rujukan aslinya, al-Qasimi hanya sekedar menjiplak kata-kata Ibnu Taymiyyah, tanpa ada yang diubah sedikitpun.

Bagi Ibnu Taymiyyah, seperti yang dikutip Jamaluddin al-Qasimi dalam Mahasin at-Ta’wil, surat at-Tin dari ayat satu sampai empat berbicara mengenai bagaimana Tuhan bersumpah dengan empat tempat munculnya agama besar di dunia.

Pertama, Tuhan bersumpah dengan pohon at-Tin, tempat Buddha mendapatkan wahyu dan menjadi Rasul dan lahirlah dari situ agama Buddha; kedua, Tuhan bersumpah dengan pohon az-Zaitun tempat Yesus Kristus  diangkat menjadi Nabi dan Rasul lalu lahirlah agama Kristen.

Ketiga, Tuhan bersumpah dengan bukit Sinai tempat Nabi Musa mendapat mandat dari Tuhan  untuk menyelamatkan Bani Israil lalu lahirlah agama Yahudi; keempat, Tuhan bersumpah dengan negeri yang aman (al-Balad al-Amin), Mekkah, tempat Nabi Muhammad SAW mendapat wahyu lalu lahirlah agama Islam.

Menurut sebagian ulama, jika Tuhan bersumpah dengan nama-nama makhluknya, itu menunjukkan bahwa nama-nama tersebut memiliki peranan penting di jagad raya ini. Misalnya dalam surat, as-Syams, Tuhan bersumpah dengan matahari yang menunjukkan bahwa matahari ini memiliki arti penting bagi kehidupan semesta.

Baca Juga :  Konsep Kitab Suci Menurut Agama Samawi

Termasuk sumpah Tuhan dengan empat tempat munculnya agama-agama besar. Ini artinya agama-agama besar tersebut memiliki pengaruh yang besar bagi kehidupan manusia.

Pertanyaannya, kenapa Buddha-Kristen disebut lebih awal sementara Yahudi-Islam disebut paling akhir?

Ibnu Taymiyyah mengatakan bahwa penyebutan Buddha paling awal dilihat dari jauhnya agama ini dari kebenaran asalnya yang kemudian disusul Kristen dan Yahudi yang lebih mendekati kebenaran.

Sedangkan Islam disebut paling akhir karena kesempurnaan dan kebenarannya itu sendiri. Di sisi lain, dilihat dari wataknya, menurut Ibnu Taymiyyah, dua agama yang disebut paling awal tersebut dapat dikategorikan sebagai agama keutamaan (din al-fadilah) sedangkan dua agama yang disebut paling akhir disebut juga agama keadilan (din adalah).

Tentu pandangan ini lahir dari hasil pembacaan yang luas terhadap agama-agama berikut sekte-sektenya yang dikenal di masanya.

Dengan kata-kata lain, Ibnu Taymiyyah merupakan ulama yang memiliki cakrawala yang begitu luas. Kritiknya terhadap tokoh-tokoh filsafat, kalam, fikih, tasawwuf, sejarah dan kritik dan ulasannya mengenai agama lain tentunya lahir dari sumber bacaannya yang melimpah.

Karena itu, pandangannya tentang kenabian Buddha kemungkinan hasil dari bacaannya yang melimpah ini. Ditambah dengan penguasaannya terhadap bahasa selain Arab. Konon menurut beberapa pentahkik karya-karyanya, Ibnu Taymiyyah menguasai bahasa Persia, Turki, Ibrani, Aramia, Yunani, dan Latin.

Lewat penguasaannya terhadap bahasa Ibrani, Aramia, Yunani dan Latin ini, beliau mampu mengakses sumber-sumber primer ajaran Yahudi dan Kristen. Polemiknya dengan tokoh-tokoh Kristen serta bantahan-bantahan terhadap pandangan teologi Kristen tidak akan mungkin lahir dari kemampuan bahasa yang minim.

Ibnu Taymiyyah, konon katanya, ketika menulis al-Jawab as-Sahih, sudah membaca semua karya yang berkenaan dengan perdebatan di Konsili Nicea dan beberapa karya primer teologi Kristen.  Karena itu, beliau seorang kristolog tulen dan ketika menulis berjilid-jilid karya ini, beliau hanya menghabiskan waktu duha.

Meski demikian luasnya, pengetahuannnya tentang agama Buddha tidak seluas pengetahuannya tentang agama Yahudi dan Kristen.

Jika kita menilik kembali karya-karya cendekiawan Islam yang mengulas agama Buddha, paling yang terkenal adalah al-Fihrist karya Ibnu an-Nadim, al-Milal wa an-Nihal karya as-Syahrastani dan Fi Tahkik Ma lil Hind min Maqulah Maqbulah au Marzdulah karya al-Biruni.

Dalam al-Fihrist ini, tidak ditemukan pandangan mengenai kenabian Buddha, yang ada hanya penjelasan mengenai biksu-biksu dan patung-patung Budha yang berasal dari Afghanistan, Cina dan India. Ulasan Ibnu an-Nadim tampaknya lebih menekankan aspek budaya.

Dalam al-Milal wa an-Nihal, as-Syahrastani mengulas sedikit tentang ajaran Buddha ini dalam bab Ashab al-Badadah. Buddha diterjemahkan olehnya sebagai al-Budd dengan jamaknya al-Badadah.

Ajaran-ajaran terpenting yang diulasnya salah satunya ialah larangan sepuluh seperti larangan untuk  membunuh yang bernyawa, merampas harta orang lain, zina, berbohong, kikir, mengumpat, menghina, bertindak bodoh, menolak keyakinan akan adanya hari pembalasan dan seterusnya.

Baca Juga :  Zikir yang Paling Utama dalam Pandangan Ibnu Taymiyyah

As-Syahrastani tidak menjelaskan secara eksplisit kenabian Buddha dalam karyanya ini. Hanya saja ia  membandingkan secara sekilas sosok Buddha dengan Nabi Khidhr dalam Islam dengan mengatakan:

وليس يشبه البد على ما وصفوه إن صدقوا في ذلك إلا بالخضر الذي يثبته أهل الإسلام

“Jika memang ajaran-ajaran yang mereka jelaskan ini benar, Budhha ini tentunya mirip sekali dengan Nabi Khidhr dalam keyakinan orang Islam.”

Ketika memahami kutipan ini secara mendalam lagi, sebenarnya secara implicit as-Syahrastani mengakui kenabian Buddha jika memang data-data yang diperolehnya tentang ajaran-ajarannya ini benar dan valid.

Pengakuan ini berangkat dari  usahanya dalam memiripkan Buddha dengan Khidir dalam Islam. Jika Khidir adalah Nabi, ya Buddha yang mirip dengannya tentunya Nabi juga. Begitu kira-kira maksud yang ingin diutarakannya. Hanya saja as-Syahrastani tidak ingin mengatakan lebih jauh daripada itu.

Dalam kitab Fi Tahkik Ma lil Hind min Maqulah Maqbulah au Marzdulah atau yang lebih dikenal dengan Kitab al-Hind, al-Biruni yang pernah tinggal di India bertahun-tahun dan mempelajari semua aspek kehidupan orang India mengatakan bahwa para penganut Buddha di India tidak pernah mengakui Buddha sebagai Tuhan.

Kata al-Biruni, mereka hanya berkeyakinan bahwa Buddha adalah seorang Nabi. Namun demikian, al-Biruni tidak berpandangan lebih jauh, Artinya, ia hanya sekedar memaparkan keyakinan orang-orang India yang diamatinya.

Al-Biruni sangat memahami bahasa Sansakerta dan tahu betul kondisi masyarakat di India saat itu. Dalam bukunya ini, kita akan banyak menemukan istilah-istilah Sansakerta yang memang agak sulit dibaca dalam bahasa Arabnya.

Jika kita letakkan pandangan Ibnu Taymiyyah dengan cendekiawan-cendekiawan Muslim sebelumnya seperti telah disebut di atas, jelaslah bahwa Ibnu Taymiyyah lebih berani dibanding ulama lainnya untuk mengklaim Buddha sebagai Nabi.

Dan kalau kita letakkan pandangannya ini dengan latar pengetahuannya yang luas, kita mungkin bisa berhipotesa bahwa Ibnu Taymiyyah juga menguasai bahasa Sansakerta yang dari situ kemudian dia mempelajari ajaran Buddha dari sumber-sumber aslinya.

Kata-kata Ibnu Taymiyyah yang berupa wa-arrajih indana bal al-muhaqqaq pada kutipan Arab di atas dan semangat beliau dalam mempelajari sesuatu berdasarkan prinsip ar-ruju ila al-asl (merujuk langsung kepada sumber aslinya) mengimplikasikan bahwa ia membaca literatur tersebut dalam bahasa aslinya dan membandingkannya dengan ajaran para Nabi kemudian mengklaim kenabian Buddha.

Ala kulli haal, jika pandangan Ibnu Taymiyyah ini diterima, paling tidak kita bisa menjelaskan kenapa para Wali di tanah Jawa dulu menikahi orang-orang Hindu, Buddha, Konghucu dan lain-lain (Sunan Gunung Jati misalnya). Jelas, itu karena mereka juga Ahli Kitab seperti yang dipertegas oleh Rasyid Ridha.  Allahu A’lam



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here