Ibnu Taymiyyah, antara Salafi dan Liberal

1
2097

BincangSyariah.Com – Ibnu Taymiyyah al-Harrani merupakan ulama yang unik dengan segenap kontroversinya. Di tangan Fazlurahman, Ibnu Taymiyyah dihadirkan sebagai sosok pencetus neo-sufisme. Pandangan demikian juga diamini oleh George Makdisi yang menepis tudingan bahwa beliau anti tasawuf. (Baca: Ibnu Taymiyyah dan Tasawuf sebagai Ijtihad)

Bagi Makdisi, Ibnu Taymiyyah ialah sosok sufi bertariqat Qadiriyyah. Dengan data-data yang didapatnya, Makdisi mendukung pandangan Henri Laost yang mengatakan bahwa Ibnu Taymiyyah adalah sosok sufi. Hal demikian terbukti, katanya, dari karya-karyanya yang menggunakan istilah-istilah sufi (?).

Di sisi lain, di kalangan al-Asyariyyah tulen, Ibnu Taymiyyah bahkan dipandang sebagai sosok ulama yang berpaham antropomorfisme (mujassimah). Misalnya pandangan-pandangannya mengenai al-jihat membuatnya tertuduh sebagai penganut aliran mujassimah, aliran yang mengatakan bahwa Tuhan berjisim seperti makhluknya.

Di kalangan ahli fikih, beliau merupakan salah satu pencetus teori maqasidi yang banyak mengilhami muridnya, Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, dalam menulis kitab Ilam al-Muwaqqiin, kitab yang selalu dijadikan rujukan bagi ulama-ulama modern seperti Ibnu Asyur, Yusuf al-Qaradawi, Allal al-Fasi, ar-Raysuni dan lain-lain dalam membahas tentang maqasid syariah.

Menariknya lagi di tengah arus pemikirannya yang selalu mempertimbangkan aspek maqasidi ini, Ibnu Taymiyyah juga dianggap sebagai ulama yang bertanggung jawab bagi lahirnya gerakan-gerakan radikal seperti Wahabi, ISIS, Jamaah Anshar Daulah/Tauhid.

Aliran-aliran ini memiliki benang merah yang sama, yakni mengadopsi pandangan skripturalisnya Ibnu Taymiyyah yang menurut versi mereka menjadi basis legitimasi untuk menganggap kafir segala hal yang tidak sesuai dengan syariat agama, termasuk kelompok selain mereka.

Paham al-wala dan al-bara yang dicetuskan Ibnu Taymiyyah sangat laris manis dikonsumsi oleh gerakan-gerakan politik radikal Islam saat ini.

Anehnya lagi, di tengah pandangan publik yang menyalahkan Ibnu Taymiyyah karena pemikiran-pemikirannya yang kaku, radikal dan ekslusif, Cak Nur ketika membangun pemikiran-pemikiran pembaharuannya dan ketika menulis tentang toleransi beragama selalu mengutip pandangan-pandangan Ibnu Taymiyyah sebagai rujukan otoritatifnya.

Baca Juga :  Marwa Al-Sabouni: Arsitek Perempuan dari Suriah yang Luar Biasa

Jika pun bukan Ibnu Taymiyyah yang dirujuk, tetap saja ulama yang terkena pengaruh dari Ibnu Taymiyyah baik langsung maupun tidak langsung dijadikan Cak Nur sebagai kerangka referensi pemikirannya. Misalnya kita temukan bagaimana Cak Nur mengutip pandangan-pandangan Fazlurrahman, Rasyid Ridha, Muhammad Abduh, Muhammad Asad, Abdullah Yusuf Ali dan lain-lain dalam berbagai karyanya. Semua intelektual ini baik langsung ataupun tidak langsung sangat dipengaruhi oleh Ibnu Taymiyyah.

Dengan kata-kata lain, Cak Nur dalam melancarkan ide pembaharuan Islamnya di tahun 70-80 an tak lepas dari bayang-bayang Ibnu Taymiyyah yang juga dikenal sebagai sosok pembaharu.

Simpulnya, melalui berbagai macam penafsiran para intelektual Islam di atas terhadap Ibnu Taymiyya ini, jelaslah bahwa beliau merupakan sosok ulama yang mungkin bisa dinilai radikal, sufistik, skriptural, liberal dan seterusnya. Dengan kata-kata lain, Ibnu Taymiyyah merupakan ulama dengan ragam wajah yang saling tumpang tindih dan bertubrukan.

Kita bisa menyebutnya sufi karena ada karya-karyanya yang menjelaskan tasawuf. Kita bisa menyebutnya radikal karena ada pandangan-pandangannya yang dikenal keras dan kaku. Kita bahkan bisa menyebutnya sebagai sosok ulama inklusif liberal karena ia berpandangan bahwa semua agama pada intinya Islam.

Maxime Rodinson dalam bukunya yang terkenal, Islam et Capitalisme menulis dengan sangat menarik:

“Marx berbicara mengenai banyak hal, dan akan sangat mudah kita temukan dalam karyanya ini pendapat-pendapat yang dapat menjustifikasi berbagai macam ide dan gagasan kita. Das Kapital ini ibarat kitab suci, sampai setan pun bisa mengutip apa saja yang ada di dalamnya yang dapat menjustifikasi akan kesesatannya.”

Jika penilaian berbagai macam wajah ini berlaku bagi karya-karya Karl Marx, saya pikir hal demikian juga berlaku bagi karya-karya Ibnu Taymiyyah. Dalam karya-karyanya, akan kita temukan pandangannya yang menjustifikasi paham radikal, liberal, sufistik dan lain-lain dan semua tergantung kepentingan dan niatan apa kita ketika membaca karya Ibnu Taymiyyah.

Baca Juga :  Sejarah Singkat Nabi Isa As

Seperti halnya Das Kapital yang dinilai layaknya kitab suci, karya Ibnu Taymiyyah pun bisa dianggap kitab suci yang dapat membenarkan dan menjustifikasi semua paham yang diinginkan pembaca dan penafsirnya.

Di tangan Fazlurrahman, kita dapat menemukan wajah Ibnu Taymiyyah yang sufistik. Fazlurrahman tidak sendirian dalam hal ini. ia juga didukung oleh George Makdisi, Henry Laost dan lain-lain.

Di mata para penganut doktrin fundamentalis, kita temukan wajah Ibnu Taymiyyah yang radikal. Pemikiran-pemikirannya sering dijadikan rujukan bagi aksi-aksi kebiadabannya dalam membunuh kelompok muslim yang mereka anggap kafir.

Di tangan Cak Nur, Ibnu Taymiyyah merupakan sosok pembela toleransi dan pencetus ajaran agama yang inklusif dan seterusnya dan seterusnya.

Kalau begitu, Ibnu Taymiyyah yang mana yang benar-benar Ibnu Taymiyyah?
Saya sendiri juga tidak tahu.

Tapi yang jelas, semua pembacaan terhadap Ibnu Taymiyyah mulai dari Fazlurrahman, Henri Laost, George Maqdisi, kaum Wahabi, Cak Nur dan lain-lain lahir berangkat dari pembacaan yang kurang menyeluruh terhadap karya-karyanya. Artinya yang mereka baca hanya percikan-percikan kecil dari samudra luas pemikirannya. Yang mereka baca hanya yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Model pembacaan seperti ini akan berimplikasi pada apa yang disebut Maxime Rodinson sebagai quoi justifier nimporte quelle idée sepert telah disebut di atas.

Jadi seharusnya kita membaca Ibnu Taymiyyah secara Ibnu Taymiyyah, bukan membacanya dalam kerangka referensi yang sudah terpatri dalam benak kita terlebih dahulu.

Kita perlakukan karya-karyanya secara apa adanya dan kita hubungkan karya-karyanya ini dengan konteks pertarungan wacana ilmu, sosial dan politik di masa itu. Jika hal demikian dilakukan, akan sangat mudah kita menemukan peta pemikiran Ibnu Taymiyyah yang luas.

Baca Juga :  Tafsir Surah Al-Hadid Ayat 22-23: Hikmah dan Tujuan Musibah

Allahu Alam.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here