Ibnu Saba, Sosok Nyata atau Imajiner?

2
1226

BincangSyariah.Com – Ibnu Saba, sosok Yahudi yang masuk Islam di masa pemerintahan Uthman (?), merupakan sosok yang membuat bingung para ahli sejarah. Sebagain ahli ada yang menganggapnya sebagai sosok imajiner sementara sebagian lain ada yang menganggapnya sebagai sosok nyata.

Ali al-Wirdiyy dalam bukunya Wu’adz as-Salatin dan Mustafa Kamil as-Syibi dalam bukunya as-Shilah bayna at-Tasawwuf wa at-Tasyayyu’ mengatakan bahwa Abdullah bin Saba atau yang sering diberi gelar Ibnu as-Sauda sebenarnya tidak lain adalah Ammar bin Yasir.

Bani Umayyah menggunakan nama samaran ini untuk menutupi sosok aslinya yang merupakan sahabat Nabi yang terkenal kesalehan dan kezuhudannya. Bagi Ali al-Wirdiyy dan Mustafa Kamil as-Syibi, penyamaran nama Ibnu Saba yang disematkan kepada Ammar Yasir oleh Bani Umayyah merupakan hal yang biasa mereka lakukan. Bani Umayyah juga sering menyamarkan nama Ali bin Abi Thalib dengan sebutan Abu Turab saat mereka mencela dan melaknatnya di mesjid-mesjid.

Sementara itu, ahli lain menolak pandangan demikian. Nayif Ma’ruf dalam bukunya al-Khawarij fi al-Ashr al-Umawiyy  menyebut adanya peranan para pengikut Abdullah bin Saba dalam gerakan revolusi yang dilakukan oleh kaum Khawarij. Penemuan Nayif Ma’ruf ini didasarkan kepada beberapa sumber yang menyebutkan bahwa nama asli Ibnu Saba ialah Abdullah bin Wahb ar-Rasibi, sebuah nama yang juga dinisbatkan kepada seorang pimpinan Khawarij yang terkenal.

Kemungkinan besar, perbedaan pandangan di kalangan para pakar sejarah ini terjadi karena mereka hanya membaca satu model literatur kesejarahan. Pandangan yang mengatakan bahwa Abdullah bin Saba adalah seorang sahabat bernama Ammar bin Yasir tentu tidak terlalu tepat kecuali jika model pembacaannya hanya terbatas pada sumber –sumber yang membicarakan peranannya dalam memprovokasi massa untuk menggulingkan Uthman bin Affan.

Adapun jika membaca sumber-sumber yang membicarakan tentang peranan Abdullah bin Saba pasca perang Siffin, perang yang telah menewaskan Ammar bin Yasir, maka pandangan yang mengklaim bahwa Ibnu Saba ini ialah Ammar bin Yasir tentu sangat bertentangan dengan kenyataan historis.

Pasalnya, sosok Abdullah bin Saba dalam berbagai sumber sering disebut masih hidup pasca perang Siffin bahkan perananya masih terasa sampai setelah Ali bin Abi Thalib dibunuh Abdurrahman bin Muljam, salah satu pimpinan kaum Khawarij.

Karena itu dalam membaca data-data kesejarahan berkaitan dengan sosok Ibnu Saba  ini, paling tidak kita harus membedakan dua model literatur kesejarahan;

Model pertama, riwayat yang berasal dari Saif bin Umar yang dikutip oleh at-Tabari dan para sejarawan Islam lainnya tentang peranan Ibnu Saba dalam memprovokasi massa untuk menggulingkan Uthman bin Affan. Model yang pertama ini tidak membicarakan sedikitpun tentang aktifitas politik Ibnu Saba pasca kematian Uthman bin Affan. Artinya peranan Ibnu Saba berakhir setelah revolusi terhadap Uthman;

Baca Juga :  Di Zaman Nabi, Ini Peristiwa Penting di Bulan Sya’ban

Model kedua, adanya banyak riwayat dengan jalur yang bermacam-macam dan mengandung konten yang sama yang hanya membicarakan Ibnu Saba pasca kematian Uthman bin Affan. Kita akan coba mengutipkan sumber-sumber yang berkenaan dengan dua model literatur kesejarahan ini dan untuk memperingkas, kami sajikan dalam bentuk terjemahan Indonesia.

Kita mulai dengan riwayat yang berasal dari jalur Saif bin Umar yang disebut dalam Tarikh al-Umam wa al-Muluk karya at-Thabari dan kita sajikan riwayat tersebut berdasarkan urutan kronologis peristiwa kesejarahannya:

Pertama, (Abdullah bin Saba adalah seorang Yahudi dari wilayah San’a, ibunya bernama Sauda, dan masuk Islam ketika di masa Uthman bin Affan. Ia berpindah-pindah tempat di wilayah-wilayah yang dikuasai oleh umat Islam dengan tujuan untuk menyesatkan mereka. Ia memulai aktifitasnya tersebut di Hijaz, kemudian berlanjut ke Bashrah terus ke Kufah sampai ke Suriah)

Kedua, Di Bashrah, ada seseorang yang bernama Hakim bin Bajalah dari Bani Abdil Qais. Hakim ini ialah: (Seorang pencuri yang jika ada tentara langsung kabur. Ia kabur ke negeri Persia dan membuat onar di sana bahkan ia sering mengganggu orang-orang Ahli Kitab yang terikat perjanjian damai dengan Islam…karena perbuatannya tersebut, Ahli Kitab dan kaum muslim mengeluh kepada Uthman lalu Uthman pun langsung memerintahkan gubernurnya yang bernama Abdullah bin Amir dengan mengatakan: penjarakan pembuat onar ini dan orang-orang sepertinya dan tidak boleh keluar dari Bashrah.

Abdullah bin Amir pun memenjarakan orang ini dan sang pembuat onar tidak mampu lagi keluar dari penjara. Tatkala datang Ibnu as-Sauda [Abdullah bin Saba] di Bashrah, banyak orang yang tertarik dengan ajaran-ajarannya dan bahkan mereka mengaguminya. Mendengar hal itu, Abdullah bin Amir langsung mengirimkan surat kepadanya dan bertanya: siapa kamu? Ibnu Saba menjawab bahwa   ia adalah orang Yahudi yang baru masuk Islam dan sangat menyukai ajaran-ajarannya. Ibnu Amir pun karena mencurigai orang ini akhirnya mengusirnya keluar dari Bashrah. Ibnu Saba pun akhirnya pindah ke Kufah.)

Ketiga, Sayangnya dalam riwayat ini, tidak disebutkan aktifitas Ibnu as-Sauda di Kufah bahkan ceritanya ini langsung beralih ke Suriah: (ketika Ibnu as-Sauda datang ke negeri Syam, ia menemui Abu Dzarr al-Ghifari dan mencoba memengaruhinya: “wahai Abu Dzarr kenapa engkau diam  saja sementara Muawiyah mengatakan bahwa harta yang dia ambil dari rakyat ialah harta milik Allah karena semua harta ialah milik Allah.

Muawiyah seolah ingin menghapus nama kaum muslimin dan ingin memonopoli harta tersebut [saat itu Muawiyah menjadi gubernurnya Uthman di Syam].” Lalu Abu Dzarr pun mendatangi Muawiyah dan berkata: “apa yang mendorongmu untuk mengatakan bahwa harta kaum muslimin itu ialah hartanya Allah?” Muawiyah menjawab: “semoga Allah merahmatimu wahai Abu Dzarr, bukankah kita ini adalah hambanya Allah, harta kita adalah harta milik Allah,  semua ciptaan ialah milik Allah dan semua urusan adalah urusan Allah”.

Baca Juga :  Orang Munafik di Masa Rasulullah

Abu Dzar kemudian berkata: “Jangan berkata seperti itu”. Muawiyah kemudian menuruti keinginan dan maksud Abu Dzarr. Muawiyah mengatakan: “baiklah aku tidak akan mengatakan bahwa harta yang dimiliki kerajaan bukanlah hartanya Allah tapi hartanya umat Islam”). Dalam riwayat Saif bin Umar, ada tambahan informasi, yakni bahwa Ibnu as-Sauda atau Ibnu Saba mendatangi Abu Darda. Abu Darda kemudian bertanya kepada Ibnu Saba ini: (“Siapa kamu? Saya kira kamu adalah orang Yahudi”).

Kemudian Ibnu Saba juga mendatangi Ubadah bin as-Shamit dan berusaha untuk mempengaruhinya agar mengkritik dan menghujat Muawiyah. Selain itu,  dalam riwayat Saif bin Umar juga ada informasi lain. Yakni, karena pengaruh Ibnu Saba ini, Abu Dzar di Suriah mengingatkan umat Islam yang ada di sana (Wahai orang-orang kaya dan orang-orang miskin; berikanlah kabar orang-orang yang menimbun emas dan perak dan tidak menginfakkannya di jalan Allah dengan siksa yang pedih. Provokasi Abu Dzaar ini membuat orang-orang miskin geram kepada orang-orang kaya).

Ketika Ibnu Saba di Mesir, ia juga memprovokasi massa untuk membenci pemerintah dan menyebarkan paham ghuluw, paham washiyy dan konsep-konsep politik lainnya yang ditimba dari Yahudi. Dalam riwayat Saif bin Umar, disebutkan bahwa (“Uthman bin Affan telah merebut kekuasaan dari Ali bin Abi Thalib  dengan tidak hak, maka dari itu bangkitlah kalian untuk mendukungnya, celalah para pemimpin kalian, lakukanlah amar ma’ruf nahi munkar dan persiapkanlah agar dia menjadi pemimpin kita.” Para pengikut Ibnu Saba akhirnya menyebarkan surat ke negeri-negeri untuk menyebarkan kebencian rakyat terhadap para pemimpinnya.)

Itulah riwayat yang dikemukakan at-Thabari dari Saif bin Umar at-Tamimi (w. 180) dalam karyanya yang terkenal, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, tentang Ibnu Saba yang memprovokasi massa untuk menggulingkan Uthman bin Affan.

Tentu kita bisa meragukan kesahihan riwayat ini. Keraguan itu muncul karena riwayat ini seolah seperti narasi drama: ada Yahudi yang masuk Islam di tahun ketujuh kekhilafahan Uthman bin Affan dan di tahun yang sama Ibnu Saba juga berusaha melakukan aksi-aksi provokasi terhadap massa untuk menggulingkan khalifah ketiga. Aksi provokasi ini dilakukan di berbagai wilayah Islam seperti Basrah, Kufah, Suriah dan Mesir.

Narasi drama yang ada dalam sumber ini juga dapat dilihat dari bagaimana Ibnu Saba dapat mempengaruhi Abu Dzar, Ubadah bin As-Shamit dan Abu Darda. Seolah para sahabat besar tersebut dengan gampangnya dapat dikelabui oleh mantan Yahudi ini. Selain itu, pasca Abu Dzarr dan Ubadah bin as-Shamit mengkritik Muawiyah, Muawiyah malah hanya mengasingkan mereka berdua setelah meminta pertimbangan dari Uthman bin Affan. Kenyataan ini jelas tidak masuk akal karena bagaimana mungkin Muawiyah mengasingkan Abu Dzarr dan Ubadah bin as-Shamit yang merupakan sahabat besar Nabi sementara yang memprovokasi mereka berdua, Ibnu Saba, dibiarkan begitu saja ke Mesir.

Baca Juga :  Lima Kriteria Ulama Pewaris Nabi Menurut Kiai Ali Musthafa Yaqub (2)

Di Mesir, malah Ibnu Saba ini kemudian menjadi pimpinan yang memprovokasi pembunuhan Uthman bin Affan, menyebarkan surat-surat dan pergi ke Madinah bersama para revolusioner lainnya sampai akhirnya tidak muncul lagi dalam narasi. Sampai di sini, riwayat Saif bin Umar tidak memberi kejelasan soal kelanjutan kisah di atas. Dengan kata-kata lain, kisah Ibnu Saba berakhir sampai kisah terbunuhnya Uthman.

Meski penulis kurang begitu setuju dengan pandangan bahwa Ibnu Saba merupakan sosok imaginer seperti yang dikemukakan oleh beberapa ahli, namun tetap elemen imaginatif hadir begitu nyata dalam riwayat Saif bin Umar ini. Dalam riwayat ini, Ibnu Saba dihadirkan seolah-seolah sebagai sosok Yahudi yang konspiratif dan jago memainkan perananya dalam membentuk opini publik. Dengan karakter tokoh seperti ini, Ibnu Saba dapat dengan mudah disalahkan sebagai orang yang paling bertanggung jawab atas terjadinya fitnah di masa Uthman bin Affan.

Fitnah yang terjadi di masa Uthman dan berakhir dengan kematiannya di tangan para revolusioner ini merupakan peristiwa pahit yang secara rasa islami tidak mungkin kesalahannya dilimpahkan kepada Ali, Zubair, Thalhah, Ammar bin Yasir atau bahkan kepada Muhammad bin Abi Bakar dan Muhammad bin Hudzaifah.

Padahal mereka inilah tokoh-tokoh yang oleh beberapa riwayat direpresentasikan sebagai pimpinan gerakan revolusioner.

Nalar Islami tidak akan mungkin menerima pemberontakan para sahabat Nabi yang berakhir dengan tewasnya Uthman secara tragis ini. Jika pun kenyataan ini diterima, maka apa artinya keteladanan salaf salih generasi sahabat bagi generasi islam ke depannya.

Atas dasar ini dan melalui riwayat ini pula, diciptakanlah sosok  Ibnu Saba, seorang Yahudi yang cerdik dan pandai mengendalikan situasi yang paling bertanggung jawab atas terjadinya pembunuhan terhadap Uthman bin Affan. Diciptakannya sosok ini sekiranya dapat meringankan kesalahan yang dilakukan para sahabat Nabi dalam ijtihad politik mereka. Simpulnya para sahabat terjerumus dalam perpecahan akibat ulah dari seorang Yahudi yang diciptakan sosoknya ini.

Kendati demikian, pandangan seperti ini hanyalah asumsi belaka. Karena kenyataannya, dalam berbagai sumber, ada juga para sahabat yang memainkan peranan penting bahkan lebih besar dari yang dimainkan oleh Ibnu Saba dalam usahanya mengerahkan massa untuk menggulingkan Uthman bin Affan. Dengan kata-kata lain, Ibnu Saba hanya satu dari sekian tokoh-tokoh lainnya yang berperan dalam revolusi terhadap Uthman bin Affan.

2 KOMENTAR

  1. Artinya anda menyalahkan ali,dan lainnya yg bersalah terhadap tragedi perpecahan ummat islam?dan bukan abdullah bin saba’ apa dasarnya?baca juga riwayat dr ibn asakir

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here