Ibnu Saba, Sosok Nyata atau Imajiner? (Bagian III)

0
255

BincangSyariah.Com – Telah dijelaskan dalam artikel sebelumnya bahwa ada dua macam sumber kesejarahan berkenaan dengan aktivitas politik Ibnu Saba.

Pertama, sumber kesejarahan yang menceritakan aktivitas politiknya sampai kematian Uthman bin Affan dan tidak menjelaskan sama sekali mengenai aktivitas politik pasca wafatnya; Dan kedua, sumber kesejarahan yang hanya menceritakan aktivitas politik pasca wafatnya Uthman dan tidak menyinggung sedikitpun mengenai aktivitasnya di masa fitnah.

Dalam artikel sebelumnya disinggung pula mengenai nama-nama yang disandang oleh Ibnu Saba seperti Ibnu as-Sauda, Ibnu Harb dan Abdullah bin Wahb ar-Rasibi.

Dalam data kesejarahan yang disampaikan al-Qummi, ternyata Ibnu as-Sauda dan Ibnu Harb bukanlah nama lain Ibnu Saba melainkan dua pengikut setianya yang turut menyebarkan paham washiyy, raj’ah dan paham ghuluw lainnya kepada kalangan masyarakat luas.

Namun nama Abdullah bin Wahb ar-Rasibi sebagai nama asli Ibnu Saba seperti yang dikemukakan oleh al-Qummi juga patut menimbulkan tanda tanya. Pasalnya, jika pun Abdullah bin Wahab ar-Rasibi ini merupakan nama asli maka tentu seharusnya nama ini yang lebih dikenal ketimbang Ibnu Saba’.

Untuk itu kita mungkin dapat mengajukan asumsi berikut: Ibnu Saba’, seorang Yahudi dari Yaman mengganti namanya dengan panggilan Abdullah setelah masuk Islam dan dijuluki sebagai Ibnu Saba’. Dinamakan demikian karena nama aslinya pastinya nama Yahudi.

Julukan Saba’ juga sangat mencerminkan bahwa mantan Yahudi ini berasal dari Yaman, sebuah wilayah yang tokoh-tokohnya banyak memainkan peranan penting dalam konflik internal di tubuh umat Islam seperti pemberontakan terhadap Uthman bin Affan, perang Siffin, perang Jamal dan peristiwa tahkim.

Di dalam literatur kesejarahan ataupun hadis, akan kita temukan tokoh-tokoh besar yang nama aslinya tidak bisa divalidasi lebih lanjut. Misalnya sahabat besar bernama Abu Hurairah. Sahabat besar ini terkenal dengan julukan ini sampai-sampai tidak diketahui secara pasti nama aslinya padahal beliau merupakan sahabat Nabi yang paling banyak meriwayatkan hadis.

Baca Juga :  Membicarakan Sejarah Rasm Usmani

Meski para ahli hadis adalah para pakar yang sangat teliti dalam soal mengidentifikasi nama periwayat, namun mereka masih berselisih pendapat soal nama asli Abu Hurairah.

Ada yang mengatakan bahwa namanya ialah Abdur-Rahman bin Shakhr. Ada juga yang bilang bahwa namanya Abdu Syams di masa Jahiliyyah. Ada yang mengatakan nama aslinya Abdu Tuham, Abdu Ghonam dan lain-lain. Beliau juga dulu pernah dijuluki sebagai Ibnu as-Sauda.

Nabi, seperti yang disebutkan oleh Ibnu Kathir dalam al-Bidayah wa an-Nihayah, menyematkan nama Abdullah atau Abdurrahman kepada beliau dan menjulukinya dengan sebutan Abu Hurairah.

Dalam suatu riwayat dikatakan bahwa ibunya bernama Sauda. Riwayat lain menyebut bahwa ibunya bernama Maymunah. Disebut pula dalam riwayat tersebut bahwa ibunya ialah keturunan dan penganut agama Yahudi.

Abu Dzarr al-Ghifari saat marah kepada Abu Hurairah pernah memanggilnya: “Wahai anak Yahudi, diamlah!”

Banyak sekali nama-nama tokoh Islam yang tidak diketahui secara pasti nama aslinya. Misalnya, Ka’ab al-Ahbar, yang terkenal dengan namanya ini sebenarnya memiliki nama asli yang masih diperselisihkan kebenarannya di kalangan para ahli: Ka’ab bin Mati’.

Contoh lain ialah Abu Darda, salah seorang sahabat besar Nabi Muhammad saw. Nama aslinya masih diperselisihkan di kalangan para ahli. Satu riwayat menyebutkan bahwa nama aslinya ialah Uwaimir bin Abdullah. Riwayat lain menyebutkan bahwa nama aslinya ialah Ibnu Zaid. Riwayat lain lagi mengatakan bahwa nama aslinya Ibnu Tha’labah, Ibnu Qais atau Amir bin Malik.

Berdasarkan hal, tidak adanya data yang menyebutkan nama asli Abdullah bin Saba’ bukan berarti bahwa mantan Yahudi ini merupakan sosok legenda atau tokoh fiktif.

Jadi dapat disimpulkan dari keseluruhan artikel yang ditulis ini bahwa Ibnu Saba’ merupakan sosok yang real. Ibnu Saba merupakan orang Yahudi dari Yaman yang masuk Islam di masa Uthman bin Affan atau sebelumnya dan menyebarkan paham al-washi di kalangan awam umat Islam di masa itu….dst.

Baca Juga :  Khulafaur Rasyidin Tidak Mewariskan Sistem Kepemimpinan yang Baku

Ibnu Saba kemudian menjadi pengikut Ali bin Abi Thalib setelah yang terakhir ini menjadi khalifah keempat. Namun ketika Ibnu Saba ini mulai fanatik, Ali bin Abi Thalib mengusirnya ke al-Mada’in. Ketika Ali dibunuh, Ibnu Saba menyebarkan paham raj’ah dan washiyyah. Inilah yang kemudian oleh para ahli sejarah disebut sebagai awal mula munculnya fanatisme buta (ghuluw) terhadap Ali bin Abi Thalib.

Dari paham washiyy dan raj’ah ini, muncul sejumlah keyakinan tentang Imam dan imamah yang berbau mitologis yang kemudian dijadikan ideologi politik oleh al-Mukhtar di masa berikutnya.

Kendati memiliki peranan  dalam memobilisasi masyarakat awam untuk mendukung Ali bin Abi Thalib dan menjadi pendukungnya serta usahanya untuk menggulingkan Uthman bin Affan dari tampuk kekhilafahan, Ibnu Saba’ bukanlah satu-satunya tokoh yang berperan untuk mengkondisikan itu semua.

Ada tokoh lain yang memiliki pengaruh lebih besar di kalangan umat Islam dan memiliki tingkat kesalehan yang tinggi dibanding Ibnu Saba, tokoh-tokoh yang memimpin kudeta terhadap Uthman bin Affan atas nama Islam yang sesungguhnya, Islam yang terpatri secara mendalam dalam kesadaran, keyakinan dan imajinasi mereka sejak fase dakwah Nabi di Mekkah, fase ketika mereka menjadi generasi Islam pertama, generasi Muslim akidah yang mendapatkan siksaan dan penindasan dari kaum kafir Quraisy, yang di masa Uthman memegang tampuk kekuasaan dan memimpin secara semena-mena.

Siapakah itu? Itulah Ammar bin Yasir dan para sahabat lainnya yang tergolong kaum mustad’afin. Mereka ini memiliki pengaruh besar dalam revolusi terhadap Uthman bin Affan. Allahu A’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here