Ibnu Saba, Sosok Nyata atau Imajiner? (Bagian II)

0
67

BincangSyariah.Com – Artikel sebelumnya membahas sumber dari model pertama, yakni sumber yang menyatakan bahwa Ibnu Saba memiliki peranan yang begitu penting dalam mempengaruhi opini publik untuk melawan pemerintah.

Disebutkan juga di artikel sebelumnya bahwa dalam riwayat Saif bin Umar at-Tamimi seperti yang dikutip oleh at-Tabari dalam Tarikh al-Umam wa al-Muluk adanya cerita yang diada-adakan, yakni terkait sosok Ibnu Saba yang tidak mungkin dalam waktu singkat dengan jarak negeri yang berjauhan dapat memprovokasi massa untuk memberontak terhadap Uthman bin Affan dimulai dari Hijaz, Basrah, Kufah, Suriah sampai Mesir.

Tentu hal ini tidak masuk diakal karena mana mungkin umat Islam terutama para sahabat-sahabat besar dengan mudahnya dapat dipengaruhi oleh sosok yang baru masuk Islam dan dapat berbuat apa saja untuk menghancurkan persatuan umat di saat itu.

Kendati banyak unsur yang fiktif dalam narasi yang dikemukakan oleh Saif bin Umar at-Tamimi ini, tulisan ini ingin menunjukkan bahwa Ibnu Sabai ialah sosok yang real dan bukan diciptakan oleh sejarawan atau sahabat atau lain-lainnya untuk meringankan kekeliruan ijtihad politik para sahabat pada masa itu yang berujung kepada pertikaian internal antara umat Islam.

Alasannya demikian; jika kita melihat peranan penting yang dimainkan oleh Ka’ab al-Ahbar dan Wahab bin al-Munabbih dalam menyebarkan kisah-kisah Isra’iliyyat di kalangan para sahabat dan masyarakat awam, dimana Ibnu Abbas, Abu Hurairah dan para sahabat lainnya meriwayatkan kisah-kisah dari dua tokoh ini, tentunya tidak akan aneh jika ada tokoh ketiga, tokoh Yahudi Yaman yang masuk Islam yang memainkan peranan penting dalam dunia politik, baik dengan tujuan yang baik atau dengan tujuan yang buruk.

Peranan dalam dunia politik yang dimainkan Ibnu Saba ini sama seperti peranan yang dimainkan oleh Ka’b al-Ahbar dan Wahab bin Munabbih dalam dunia tafsir, hadis dan kisah-kisah para nabi. Ketiga-tiganya merupakan mantan Yahudi yang masuk Islam yang memiliki peranan masing-masing. Yang jelas, Ibnu Saba’ memainkan peranan di dunia politik ketimbang di dunia agama.

Terlebih seperti yang dapat kita ketahui bersama bahwa salah satu konsep Isra’iliyyat ini di antaranya ialah konsep-konsep politik seperti raj’ah, wasiyyah dan kemunculan Imam al-Mahdiyy.
Selain itu, ketika konsep-konsep ini diadopsi untuk memobilisasi imaginasi politik massa sehingga mereka dapat menguasai Madinah saat fitnah, dapatlah kita berkesimpulan, tentunya dengan sedikit berhati-hati, mengenai kemungkinan adanya sosok Ibnu Saba’ yang memainkan peranan sebagai ideolog bagi kalangan awam di masa itu.

Baca Juga :  Membincang Tradisi Bagi-bagi THR di Hari Raya Idulfitri

Ibnu Saba sebagai ideolog revolusi dalam hal ini berperan dalam memengaruhi imaginasi politik kalangan bawah saat itu, terutama dengan konsep-konsep politik yang ditimba inspirasinya dari agama Yahudi seperti raj’ah, imam mahdiyy dan lain-lain. Kelak konsep-konsep politik ini kemudian diadopsi dan digunakan kembali oleh al-Mukhtar at-Thaqafi untuk mengembalikan kekuasaan ke tangan keturunan Ali, Muhammad bin al-Hanafiyyah.

Kendati demikian, Ibnu Saba bukanlah tokoh utama baik di awal cerita atau di akhir ceritanya. Ibnu Saba hanya sekedar salah satu alat yang mendukung sutradara utamanya dari kalangan sahabat yang kontra terhadap Uthman bin Affan.

Pendapat ini paling tidak menemukan referensinya dalam beberapa sumber lain yang berbicara mengenai aktifitas politik Ibnu Saba di masa Ali bin Abi Thalib yang akan kita kemukakan di sini berdasarkan urutan wafat para penulis riwayat kesejarahan yang kita kutip.

Sumber yang paling awal yang berbicara mengenai Ibnu Saba ialah kitab at-Tabaqat karya Ibnu Sa’ad (w. 220 H).
Dalam at-Tabaqat ini, Ibnu Sa’ad menyitir sebuah riwayat yang menceritakan bahwa ada orang yang bertanya kepada al-Hasan bin Aliyy: “Ada orang-orang dari kalangan para pengikut Ali bin Abi Thalib yang percaya bahwa kelak Ali akan kembali lagi ke dunia sebelum hari kiamat.” Pertanyaan ini pun langsung ditolak oleh al-Hasan: “Mereka telah berdusta. Mereka bukan para pengikut Ali melainkan musuhnya.”

Setelah itu, ada sumber yang berjudul Kitab al-Muhbir karya Ibnu Habib (w. 245) yang mengemukakan data demikian: “Abdullah bin Saba adalah pemimpin gerakan Saba’iyyah.” Dalam sumber ini, Ibnu Saba’ dikategorikan sebagai keturunan yang berasal dari Habasyah.

Karena dari Habasyah inilah, Ibnu Saba juga sering dijuluki sebagai Ibnu as-Sauda. Kemudian al-Jahidz (w. 255 H) dalam mengumpulkan informasi berkenaan dengan al-Asho “tongkat” mengutipkan riwayat dari Habab bin Musa dari Mujalid dari as-Sya’bi dari Zuhar bin Qais, ia berkata: saat aku sampai di al-Madain pasca terbunuhnya Ali bin Abi Thalib, Ibnu Sauda atau sering disebut juga sebagai Ibnu Harb menemuiku dan menanyakan informasi: “Bagaimana Kabar?” Aku jawab: Amirul Mukminin telah meninggal karena dibunuh. Ibnu as-Sauda kemudian berkomentar: “Jika kalian mendatangkan kepalanya kepadaku, niscaya kita akan tahu bahwa sesungguhnya ia tidak mati sampai ia akan memimpin kalian dengan tongkatnya.”

Baca Juga :  Begini Cara Nabi Berobat Ketika Demam

Sumber ini menyebut Ibnu Harb sebagai Ibnu Saba sementara sumber lain menyebut bahwa Ibnu Harb sebenarnya ialah kawan dekat dan bahkan pengikut Ibnu Saba sebagaimana yang akan kita kutipkan nanti. Tentu pandangan ini lebih mendekati kebenaran karena jika yang dimaksud Ibnu Harb itu ialah Ibnu Harb bin Amru al-Kindiy tentu umurnya masih sangat belia ketika Ali bin Abi Thalib dibunuh.

al-Baladzuri (w. 279 M) seperti yang dikutip Taha Husain dalam al-Fitnah al-Kubra menyebutkan bahwa Ibnu Saba dan para pengikutnya pernah mendatangi Ali bin Abi Thalib untuk bertanya tentang Abu Bakar. Mereka saat itu mulai memaki dan mencela Abu Bakar. Lalu Ali pun melarang dan menegur mereka. al-Baladzuri juga menyebutkan bahwa Ali pernah menulis sebuah surat yang didalamnya dijelaskan mengenai nasib masa mendatang setelah penduduk Irak tunduk kepadanya dan ia menyuruh untuk membacakan surat tersebut. Ibnu Saba memiliki salinan surat ini lalu diselewengkan isinya.

An-Nasyi al-Akbar (w. 293 H) dalam Masa’il al-Imamah berbicara mengenai gerakan as-Saba’iyyah ini. Ia mengatakan bahwa Saba’iyyah ialah kelompok yang meyakini bahwa Ali masih hidup dan tidak mati sampai ia dapat memimpin orang-orang Arab dengan tongkatnya. Mereka itulah yang disebut sebagai gerakan as-Saba’iyyah, pengikut Abdullah bin Saba. Abdullah bin Saba sendiri dulunya adalah seorang Yahudi yang berasal dari San’a. Ibnu Saba masuk Islam di hadapan Ali bin Abi Thalib dan tinggal di Madain.

Kemudian an-Nasyi al-Akbar menyebutkan data seperti yang disebutkan al-Jahidz sebelumnya. Setelah itu, al-Qummi al-Asy’ari (w. 301 H) dalam al-Maqalat wa al-Firaq memberikan informasi yang lebih lengkap tentang Ibnu Saba.

Simpulnya demikian, dalam catatan al-Qummi, Ibnu Saba nama aslinya ialah Abdullah bin Wahb ar-Rasibi al-Hamdani. Ibnu Saba’ ialah orang yang pertama kali mencetuskan paham ghuluww dan percikan pemikiran-pemikirannya telah mempengaruhi Ibnu Harb dan Ibnu as-Sauda yang merupakan pengikutnya. Ibnu Saba’ juga mengajarkan untuk memaki dan mencela Abu Bakar, Umar, Uthman dan para sahabat lainnya dan berlepas dari mereka. Ibnu Saba mengklaim bahwa Ali bin Abi Thalib lah yang memerintahkan demikian.

“Ali pun kemudian menangkapnya karena perlakuannya yang seperti itu dan mencoba mempertegas pandangannya lalu Ibnu Saba pun masih tetap mencaci para sahabat. Lalu Ali memerintahkan untuk membunuhnya. Hanya saja orang kebanyakan pada protes: wahai Amirul Mukminin apakah engkau hendak membunuh seseorang yang mengajak untuk mencintai Ahli Bayt, mendukung kepemimpinanmu dan berlepas diri dari musuh-musuhmu. Lalu Ali pun mengasingkannya ke Yaman.”

Baca Juga :  Kedahsyatan Ucapan Insyaallah

Kemudian masih dalam al-Maqalat wa al-Firaq, al-Qummi menambahkan:
“Menurut beberapa ahli ilmu, Abdullah bin Saba dulunya adalah orang Yahudi kemudian masuk Islam dan menjadi pengikut Ali bin Abi Thalib. Ketika masih Yahudi, Ibnu Saba berpandangan bahwa Yusya bin Nun adalah washi-nya nabi Musa. Ketika Islam, pandangan ini kemudian ia terapkan kepada Ali sebagai washiyy-nya Nabi Muhammad SAW.”

An-Naubkhati (w. 310 M) yang bermadzhab Syiah seperti al-Qummi mengutip pandangan di atas dengan tidak ada banyak tambahan. Dengan memperhatikan kembali data-data kesejarahan yang dikemukakan para sejarawan berdasarkan urutan wafatnya, kita menemukan bahwa data yang disampaikan oleh al-Qummi lebih lengkap. Sedangkan data-data kesejarahan lainnya hanya sekedar ceceran informasi yang tidak utuh namun mendukung data kesejarahan yang disampaikan oleh al-Qummi.

Data kesejarahan yang dikemukakan oleh an-Nasyi al-Akbar yang menceritakan Islamnya Ibnu Saba di masa kekhilafahan Ali bin Abi Thalib patut dipertanyakan. Hal demikian karena dalam data tersebut Ibnu Saba’ di zaman pemerintahan Ali sudah mulai memprovokasi orang-orang untuk mencaci maki Abu Bakar, Umar dan Uthman dan menyebarkan doktrin raj’ah dan washiyyah.

Tentu dalam hal ini penulis lebih memilih pandangan yang dikemukakan oleh al-Qummi dan an-Naubkhati yang menyatakan bahwa Ibnu Saba menjadi pengikut Ali (wala Aliyyan) sedari awal sebelum diangkat menjadi khalifah dan menyebarkan pandangan bahwa Ali adalah penerima wasiatnya Nabi Muhammad SAW sama seperti halnya Yusya atau Joshua yang menjadi penerima wasiatnya nabi Musa AS.

Ini artinya Ibnu Saba telah masuk Islam di masa awal-awal, yakni di masa Uthman bin Affan atau di masa sebelumnya. Jika pandangan ini diterima, tentu data kesejarahan yang dikemukakan oleh Sayf bin Umar melalui riwayat at-Thabari dalam Tarikh al-Umam wa al-Muluk ada benarnya. Artinya, Ibnu Saba’ memiliki peranan dalam menggulingkan Uthman bin Affan dan menyebarkan paham Washiyy di kalangan masyarakat awam saat itu. Ibnu Saba’ saat itu menjadi salah satu ideolog revolusi bagi masyarakat awam namun dia sendiri bukanlah tokoh utama di balik dalang revolusi tersebut. Ada tokoh-tokoh lain.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here