Ibnu Rusyd; Ilmuwan Multidisipliner dalam Pusaran Politik Muwahhidun

1
754

BincangSyariah.Com – Siapa saja yang pernah membaca Bidayatul Mujtahid tentu akan kagum dengan penalaran fiqih Ibnu Rusyd dalam kitab tersebut. Namun sebenarnya, masih banyak karya Ibnu Rusyd dalam berbagai bidang pengetahuan yang belum pernah kita baca, karena dia adalah penulis yang produktif dan ilmuwan multidisipliner.

Nasab dan Kelahirannya

Nama lengkap Ibnu Rusyd al-Hafiid (cucu), adalah Abu Al-Walid Muhammad bin Abi Al-Qashim Ahmad bin Syekh al-Malikiyyah Abi al-Walid Muhammad bin Ahmad bin Ahmad bin Rusyd al-Qurthubi (Cordoba). Di Barat terkenal dengan sebutan Averrous.

Kakeknya adalah Muhammad Ibnu Rusyd al-Jad (kakek) yang dijuluki dengan Abu al-Walid seorang qadhi di Cordoba, bermandzhab Malikiyah dan memiliki banyak karya dalam bidang fikih, di antara adalah al-Muqaddimat al-Mumahhidat li Mudawwanati Malik.

Ibnu Rusyd al-Hafiid dilahirkan tahun 520-H. / 1126-M berjarak satu bulan sebelum kematian kakeknya.

Belajar dan Kepribadiannya

Ibnu Rusyd belajar kitab Muwaththa’ di hadapan ayahnya, juga berguru kepada Abi Marwan Masarrah dan beberapa ulama sehingga unggul dalam bidang fikih. Kemudian belajar kedokteran pada Abi Marwan bin Jazbul, dilanjutkan belajar ilmu awaail (filsafat dan aturan mantiq).

Adz-Dzahabi dalam Siyaru A’lamin Nubala’ mengutip komentar al-Abbar tentang Ibnu Rusyd, “Di Andalusia tidak ada yang seperti Ibnu Rusyd dari segi kesempurnaan, keilmuan, dan keutamaan. Dia adalah orang yang rendah hati.”

Tentang ketekunannya pernah dikisahkan, dia tidak pernah meninggalkan kesibukannya mempelajari ilmu semenjak akil balig kecuali dua malam saja; yaitu saat ayahnya meninggal dunia, dan saat menjadi pengantin.

Sumbangsih dalam Ilmu Pengetahuan    

Ibnu Rusyd merupakan salah satu master karya tulis, hasil karyanya tercatat kurang lebih sebanyak sepuluh ribu waraqah (lembar kertas). Dia menfokuskan diri pada ilmu hukama’ (filsafat) sehingga menjadi pemimpinnya, dan fatwanya dalam bidang kedokteran dikagumi sebagaimana fatwanya dalam bidang fikih.

Baca Juga :  Hikmah Penciptaan Siang dan Malam dalam Alquran

Kemampuannya dalam bahasa Arab tidak diragukan, bahkan dia hafal Diwan Abi Tammam dan Diwan Mutanabbi.

Berikut di antara sekian banyak karya tulis Ibnu Rusyd: Bidayatul Mujtahid dalam bidang fikih, Kulliyyat dalam bidang kedokteran, Mukhtashar Mustashfa dalam bidang Usul Fikih, Syarah Urjuzah Ibnu Sina dalam bidang kedokteran, al-Muqaddimat dalam bidang fikih, al-Hayawan, Jawami’ Kutub Aristoteles, Syarah Kitab an-Nafs, fi al-Manthiq, Talkhish al-Ilahiyyat li Nocholas, Talkhish ma Ba’da ath-Thabi’ah li Aristo, Talkhisul Istiqshat li Jalinus, Tahafutut Tahafut dan lain sebagainya.

Kitab Kulliyyat milik Ibnu Rusyd merupakan karya yang sangat baik dalam bidang kedokteran, menjelaskan metode umum pengobatan berbagai macam penyakit. Teman dekat Ibnu Rusyd yang bernama Marwan bin Zuhr kemudian menulis metode pengobatan secara juz’i (parsial) dengan memperhatikan setiap gejala yang muncul pada masing-masing anggota tubuh. Kedua tulisan tersebut kemudian menjadi satu karya yang utuh dalam bidang kedokteran.

Ibnu Rusyd dan Penguasa Muwahhidun    

Halimah al-Ghurari dalam Bunaat al-Fikri al-‘Ilmi fil Hadharat al-Islamiyyah menjelaskan, Ibnu Rusyd pertama kali mengunjungi Marrakusy pada tahun 548-H / 1153 M. Kunjungan tersebut atas undangan Sultan Muwahhidun Abdul Mukmin bin Ali karena diajak bermusyawarah soal pembangunan beberapa madrasah di Barat.

Ibnu Rusyd datang kembali ke Marrakusy ketika seorang filsuf dan dokter terkenal pada masa itu, Ibnu Thufail ingin mengenalkannya pada Sultan Abi Ya’qub (Yusuf) pada tahun 578 H / 1182 M. Pada pertemuan tersebut Sultan Abi Ya’qub menugaskan Ibnu Rusyd untuk menguraikan filsafat Aristoteles, selain itu sultan mengangkat Ibnu Rusyd menjadi qadhi di kota Isybiliyah (sevilla). (Baca: Akhir Hayat Ibnu Rusyd Tersandung Hukum Penghinaan terhadap Penguasa)

Pada tahun 578-H / 1182 M. Abu Ya’qub kembali memanggil Ibnu Rusyd ke Marrakusy untuk menjadi dokter pribadi menggantikan Ibnu Thufail, sekaligus diangkat menjadi qadhi di Cordoba.

Baca Juga :  Benarkah Budha adalah Nabi Zulkifli?

Setelah kematian Abu Ya’qub, kepemimpinan berpindah ke putranya yang bernama Abu Yusuf (Ya’qub al-Mansur), dan Ibnu Rusyd memiliki kedekatan dengan Khalifah baru tersebut. Namun, sebagian ulama tidak suka dengan Ibnu Rusyd kemudian menghasutnya.

Ibnu Abi Ushaibi’ah dalam ‘Uyunul Anba’ fi Thabaqatil Athibba’ menceritakan, Ibnu Rusyd memiliki posisi yang kuat dan terhormat dalam daulah al-Mansur, sehingga al-Mansur dan putranya yang bernama Muhammad bin Ya’qub (an-Nasir) menghormatinya.

Ketika al-Mansur berada di Cordoba dalam perjalanan perang mengahadapi Alphanus pada tahun 591 H. maka al-Mansur memanggil Ibnu Rusyd. Setelah datang, al-Mansur sangat menghormati Ibnu Rusyd, dan didudukkan dekat dengannya, melebihi tempat duduk Abu Muhammad Abdul Wahid. Padahal Abdul Wahid adalah orang dekat al-Mansur bahkan dinikahkan dengan salah satu putrinya.

Kedekatan itu membuat banyak orang tidak suka pada Ibnu Rusyd, dan kemudian menghasut Ibnu Rusyd dengan beberapa tuduhan, dia antara tuduhan mereka adalah sebagai berikut:

Ibnu Rusyd memiliki sebuah karya tulis berjudul al-Hayawan, yang di dalamnya disebutkan macam-macam jenis hewan beserta sifat masing-masing. Ketika menyebutkan sifat dari jerapah, Ibnu Rusyd mengatakan bahwa dia pernah melihat hewan tersebut dimiliki penguasa Barbar (al-Mansur yang memiliki darah Kumiyah, salah satu kabilah Barbar), padahal tulisan sebenarnya adalah penguasa Barrain (dua daratan; Barat dan Timur).

Tuduhan lainnya adalah, ada sekelompok orang datang menemui al-Mansur dengan membawa ringkasan tulisan filsafat Ibnu Rusyd, yang di dalamnya terdapat kutipan Ibnu Rusyd dari pendapat sebagian filsuf yang mengatakan, “bintang zuhroh adalah salah satu dari beberapa tuhan”. Tentunya pendapat itu bukanlah pendapat Ibnu Rusyd sendiri.

Kalimat itu membuat al-Mansur murka lantas mengintrogasi Ibu Rusyd di hadapan para pemuka Cordoba. Al-mansur bahkan melaknat Ibu Rusyd dan memerintahkan semua yang hadir di tempat itu untuk melakukannya juga. Setelah itu al-Mansur mengeluarkan larangan mempelajari filsafat dan memerintahkan membakar semua buku filsafat.

Baca Juga :  Adab-adab Menyembelih Hewan Kurban

Ibnu Rusyd kemudian diasingkan di Yussaanah sebuah daerah dekat Cordoba. Tetapi Ibnu Rusyd tidak sendiri, filsuf lain juga banyak yang diasingkan. Namun setelah mendapatkan dukungan dari para ulama yang bersaksi bahwa tuduhan yang dialamatkan pada Ibnu Rusyd itu tidak benar, maka al-Mansur kembali membebaskan Ibnu Rusyd, dan mencabut larangan mempelajari filsafat.

Ibnu Rusyd kemudian pulang ke Marrakisy dan wafat di sana pada permulaan tahun 595-H / 1198 M pada awal pemerintahan an-Nasir.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here