Ibnu Miskawaih: Perumus Filsafat Etika Islam

0
12

BincangSyariah.Com – Ibnu Miskawaih adalah seorang filsuf muslim yang memusatkan perhatiannya pada persoalan filsafat etika Islam. Di saat yang sama, ia juga dikenal sebagai seorang sejarawan, tabib, ilmuan serta sastrawan. Pengetahuannya bukan hanya meliputi tentang kebudayaan Arab dan Islam, namun juga kebudayaan Persia, Romawi, serta tentu saja Yunani.

Asal Usul Nama Miskawaih

Khairuddin Az-Zirkili dalam al-A’laam menyebutkan bahwasanya nama lengkap Ibnu Miskawaih ialah Abu Ali al-Khozin Ahmad bin Muhammad bin Yakub bin Miskawaih. Nama Miskawaih dinisbatkan pada nama kakeknya yang semula beragama Majusi dan kemudian masuk Islam.

Dalam kitab Tahdzib at-Tahdzib karya Ibn Hajar al-‘Asqalani, dijelaskan bahwa penyebutan Miskawaih dilakukan oleh banyak ulama seperti Abi Hayyan al-Tauhidi, al-Tsa’labi, al-Khawarizmi, Abi Sulaiman al-Manthiqi dan ulama lainnya. Miskawaih sendiri maknanya ialah seharum minyak misik. Penyebutan tersebut boleh jadi merupakan pujian terhadap pribadi beliau yang memiliki akhlak yang tinggi serta ilmu pengetahuan

Kota Rayy adalah kota kelahiran Ibnu Miskawaih. Tahun kelahirannya diperdebatkan ahli sejarah. Ada yang menyebutkan kalau ia dilahirkan pada 320 H/932 M, 330 H / 941 M, atau 325 H.

Perjalanan Keilmuan Ibnu Miskawaih

Tempat yang ia pilih untuk menimba ilmu, berjuang dan menutup usia ialah Isfahan. Di kota tersebut ia menekuni bidang kimia, filsafat, logika, sastra, dan sejarah dalam waktu yang cukup lama. Dilihat dari tahun lahir dan wafatnya, Miskawaih hidup pada masa pemerintahan Bani Abbasiyyah namun sedang dibawah kendali Dinasti Buwaihiyyah yang beraliran syiah dan berasal dari keturunan Persia. Pada masa Adhud al-Daulah (tahun 367 H-372 H), ia menjabat sebagai bendahara negara hingga mendapatkan julukan Abu al-Khazin (sang penyimpan), karena ia yang mengatur kekayaan kekhalifahan.

Ibnu Miskawaih memiliki sejumlah guru yang mengajarkannya sejumlah ilmu,

  1. Ia belajar sejarah terutama Tarikh al-Thabari pada Abu Bakar Ahmad bin Kamil al-Qadli (W. 350 H / 960 M).
  2. Filsafat, ia pada Ibn al-Khammar yang merupakan tokoh yang dianggap mampu menguasai karya-karya Aristoteles.
  3. Ia juga belajar kimia pada Abu al-Thayyib al-Razi.

Selain tiga keilmuan diatas, ia juga mempelajari ilmu psikologi dan sosiologi, sehingga pandangannya lebih mengarah kepada gabungan antara pandangan filosofis, sosiologis dan psikologis. Sebagaimana al-Farabi dan al-Kindi, ia juga mendasarkan keilmuannya pada filsafat Yunani, terutama ajaran Plato, Aristoteles dan Neo-Platonis.

Ibnu Miskawaih dan Ilmu Etika

Ibnu Miskawaih adalah seorang filsuf muslim yang telah mengabdikan seluruh perhatian dan upaya-upayanya dalam bidang etika. tetapi beliau bukan hanya peduli pada etika melainkan juga pada filsafat yang mengandung ajaran-ajaran etika yang sangat tinggi. Ia juga banyak merujuk pada sumber-sumber asing, seperti Aristoteles, plato dan Galen dan beliau mebandingkannya dengan ajaran Islam.

Ia berusaha menggabungkan doktrin Islam dengan pendapat filsuf Yunani, sehingga filsafat beliau dikategorikan sebagai filsafat eklektik. Seperti al-Ghazali, Ibnu Miskawaih juga mempelajari ilmu mantiq. Letak perbedaannya dengan al-Ghazali adalah, al-Ghazali dalam filsafat etikanya ebih menekankan pada filsafat amaliah. Sedangkan Ibnu Miskawaih lebih menekankan pada filsafat akhlak sebagai analisis pengetahuan.

Dalam dunia akademik, Ia dikenal dengan gelar Bapak Etika Islam. Selain itu, ia juga digelari sebagai Guru ketiga (al-Muallim al-Tsalits) setelah al-Farabi yang digelari Guru kedua (al-Muallim al-Tsani), sedangkan yang diaggap sebagai guru pertama (al-Muallim al-Awwal) adalah Aristoteles. Sebagai bapak etika Islam, beliau telah merumuskan dasar-dasar etika dalam kitabnya Tahdzib al-Akhlaq wa Tathir al-A’raq (Pendidikan budi dan pembersih akhlak). Sementara itu sumber filsafat etika Ibnu Miskawaih berasal dari filsafat Yunani, peradaban Persia, ajaran Syariat Islam, dan pengalaman pribadi.

Ibnu Miskawaih termasuk ulama yang cukup produktif menulis berbagai macam kitab di berbagai macam keilmuan. Kitab-kitabnya yang cukup dikenbal luas ialah,

  1. Tahdzib al-Akhlaq wa Tathhir al-A’raq.
  2. Tartib as Sa’adah, buku tentang akhlak dan politik.
  3. Al-Musthafa (syair pilihan).
  4. Jawidan Khirad (kumpulan ungkapan bijak).
  5. As-Syaribah (tentang minuman).
  6. Tajarib Al-Umam (pengalaman bangsa-bangsa) yang menjadi acuan sejarah dunia hingga tahun 369 H.

Para pakar juga berbeda pendapat terkait tahun wafatnya. Namun kebanyakan menyebutkan kalau ia tutup usia pada tahun 421 H/1030 M di Isfahan (salah satu kota di wilayah Iran).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here