Ibnu Khaldun dan Ilmu Kalam

0
8521

BincangSyariah.Com – Kitab al-Muqaddimah karya Ibnu Khaldun tidak hanya memotret secara utuh mengenai bangkit dan jatuhnya negara dalam sejarah dan kebudayaan Arab Islam melalui kacamata ashabiyyah semata melainkan juga mengandung sejarah ide-ide mulai dari filsafat sampai ke ilmu sihir dan perbintangan yang muncul dari tradisi kesejarahan Arab Islam itu sendiri.

Dalam menjelaskan sejarah ide-ide dan munculnya pengetahuan dalam kebudayaan Islam, Ibnu Khaldun mendeskripsikan semuanya dengan sangat menarik dengan titik tolak sebagai seorang epistemolog yang kritis meski terkadang wajah keasy’ariyyahannya muncul dalam pembahasan-pembahasan mengenai teologi kalam.

Dalam ulasannya mengenai ilmu kalam, Ibnu Khaldun mendefinisikan bahawa ilmu kalam ialah:

علم يتضمن الحجاج عن العقائد الإيمانية بالأدلة العقلية والرد على المبتدعة المنحرفين في الاعتقادات عن مذاهب السلف وأهل السنة.

“Ilmu yang mencakup argumen-argumen untuk membela keyakinan agama dengan menggunakan bukti-bukti rasio dan mematahkan argumen-argumen lawan dari kalangan pembuat bidah yang melenceng dari jalan ulama salaf dan ulama Ahlu Sunnah dalam keyakinan.”

Melalui penjelasan Ibnu Khaldun ini, kita dihadapkan kepada dua definisi ganda dimana yang pertama dan yang kedua merefleksikan fase perkembangan tertentu ilmu kalam. Fase pertama, yakni “ilmu yang mencakup argumen-argumen untuk membela keyakinan agama dengan menggunakan bukti-bukti rasio” ialah fase ilmu kalam yang masih berada dalam genggaman aliran muktazilah.

Sejak awal kemunculannya, ilmu kalam ini digunakan oleh Muktazilah untuk mengkonter narasi-narasi yang gencar menyerang teologi Islam. Karena itu, ilmu kalam yang berisi argumen-argumen rasional dengan sangat baik digunakan Muktazilah di masanya untuk menghantam basis-basis teologis non-Islam. Ilmu ini sangat efektif di masanya dan di tangan Muktazilah mampu mengislamkan banyak penganut-penganut non-Islam.

Sedangkan fase kedua, yakni “mematahkan argumen-argumen lawan dari kalangan pembuat bidah yang melenceng dari jalan ulama salaf dan ulama Ahlu Sunnah dalam keyakinan,” hanya berlaku bagi ilmu kalam yang dirintis oleh aliran al-Asy’ariyyah.

Kendati mencerminkan dua fase berbeda dari perkembangan ilmu kalam, menariknya, definisi ganda ini merefleksikan afiliasi Ibnu Khaldun terhadap aliran al-Asy’ariyyah. Pasalnya, ide dan gagasan yang terkandung dalam fase kedua ilmu kalam ini ialah upaya mematahkan argumen-argumen pembuat bidah yang melenceng dari garis pemikiran ulama salaf dan ahlusunnah dan itu artinya ilmu kalam digunakan untuk menyerang musuh-musuh al-Asy’ariyyah yang selain Sunni dan Ulama salaf.

Dengan demikian, fase kedua ini ialah fase perkembangan ilmu kalam yang menyerang Muktazilah sebagai sekte yang dianggap telah menyeleweng dari ajaran salaf, atau paling tidak, muktazilah dicap sebagai salah satu bagian dari sekian sekte-sekte bidah lain yang dianggap keluar dari jalan yang benar dalam berteologi. Siapa lagi musuh bebuyutan al-Asyariyyah selain Muktazilah.

Baca Juga :  Mengukuhkan Tauhid Seorang Mukmin: Bahasan Tafsir Surah al-Ikhlas

Bagi Ibnu Khaldun, ketika membela keyakinan agama dari serangan-serangan kelompok non-islam lainnya, Muktazilah telah menggunakan akal sampai di luar batas-batas jangkauannya, batas dimana akal tidak boleh menyeberangi wilayah yang tak mungkin dapat dijamahnya. Inilah titik kesalahan terbesar Muktazilah menurut Ibnu Khaldun.

Bagi Ibnu Khaldun, akal tidak akan mampu memahami hakikat zat ilahi beserta sifat-sifat-Nya.

Di sisi lain, zat dan sifat itu sendiri merupakan tema sentral dalam bahasan ilmu kalam. Lalu apakah ilmu kalam dapat menggapai pengertian mengenai sifat dan zat Allah? Jika tidak demikian halnya, bagaimana Ibnu Khaldun memberikan justifikasi bagi ketidakmampuan nalar dalam memahami hakikat ketuhanan?

Untuk menjawab pertanyaan ini, Ibnu Khaldun memulai pembahasannya dengan terlebih dahulu menjelaskan bahwa tujuan utama ilmu kalam ialah tauhid, mengesakan Allah.

Lebih jauh lagi, Ibnu Khaldun mendefinisikan tauhid secara berbeda dari yang kita temukan dalam definisi para ulama lain. Tauhid bagi Ibnu Khaldun ialah:

العجز عن إدراك الأسباب وكيفية تأثيرها وتفويض لك إلى خالقها المحيط بها

“Ketidakmampuan nalar untuk memahami hukum kausalitas dan kelemahannya dalam menafsirkan keterkaitan antara sebab dan akibatnya serta menyerahkan semua proses kausalitas ini kepada Sang Maha Pencipta”.

Jauh sebelum Ibnu Khaldun, dari kalangan al-Asyari sendiri, ada Imam al-Ghazali yang menolak hukum sebab akibat.

Berdasarkan penolakan atas hukum kausalitas ini, ulama asy’ariyyah yang diwakili oleh al-Ghazali memandang bahwa hukum sebab akibat akan menjurus kepada asumsi mengenai ketidakmampuan Tuhan dalam menciptakan dan mengatur alam semesta secara mutlak.

Padahal, bagi kalangan al-Asy’ariyyah, Tuhan memiliki kehendak mutlak yang bebas untuk menciptakan sesuatu berdasarkan tabiat tertentu dan bebas juga dalam menentukan tabiat kebalikannya. Misalnya, Tuhan bebas menciptakan api dengan tabiat panas dan bebas pula menciptakannya dengan tabiat dingin.

Penolakan terhadap hukum kausalitas oleh kalangan al-Asy’ariyyah ini memiliki implikasi yang cukup serius, yakni bahwa mereka terjerumus ke dalam apa yang disebut Ibnu Rusyd sebagai tajwiz ‘pandangan yang serba mungkin’; air bisa jadi api, api bisa jadi udara, udara bisa jadi debu dan seterusnya tanpa ada hukum yang pasti. Prinsip yang serba mungkin ini pada tahap selanjutnya, kata Ibnu Rusyd justru akan menolak ilmu pengetahuan, dan bahkan akan menolak adanya Tuhan sendiri sebagai sumber sebab dan akibat.

Kendati demikian, bagi Ibnu Khaldun, tauhid merupakan konsekwensi logis dari ketidakmampuan akal dalam memahami sebab-akibat yang terjadi di alam semesta ini. Ketidakmampuan nalar ini pada tahap selanjutnya mendorong seseorang untuk menyerahkan semuanya kepada Sang Maha Pembuat sebab-akibat, yaitu Allah SWT.

Baca Juga :  Lima Unsur Dasar Dalam Hadis

Dengan kata-kata lain, tauhid bagi Ibnu Khaldun merupakan pilihan yang tak bisa ditawar-tawar setelah meyakini bahwa akal tidak akan mungkin mampu menjelaskan semua proses yang terjadi di alam semesta ini secara detail dan meyakinkan, baik proses internal maupun proses eksternalnya.

Bagi Ibnu Khaldun, karena akal merupakan hasil dari pencerapan inderawi dan pengalaman, di samping bahwa alam ini tidak lain merupakan rangkaian sebab-akibat baik yang nampak maupun yang tersembunyi dan dimana hasil dari sebab-akibat ini tidak dapat diketahui dan tidak dapat dijangkau olehnya, maka akan keliru jika akal dapat mengetahui sebab-akibat dan dapat mengetahui secara pasti penyebab dari segala sebab ini hanya melalui pengamatan terhadap rangkaian peristiwa kausal tersebut.

Dan kekeliruan lebih besar lagi, kata Ibnu Khaldun, akan terjadi jika akal atau nalar hanya berhenti pada pemahaman atas sebab-sebab tertentu lalu mengklaim sebab-sebab tersebut sebagi sebab primer atau asal segala sebab. Cara berfikir seperti ini akan menjerumuskan kepada kekufuran dan kesyirikan karena akan menuhankan yang bukan Tuhan hakiki.

Berangkat dari titik persoalan ini, bagi Ibnu Khaldun, sedari awal nalar harus berangkat dari asumsi mengenai keyakinan akan adanya musabbib al-asbab kulliha wa fa’iliha wa mujidiha ‘penyebab, pencipta dan pengada dari  semua sebab’ dan inilah yang disebutnya sebagai at-tauhid al-mutlak.

Demikianlah, Ibnu Khaldun dan ulama asy’ariyyah pada umumnya  memberikan penjelasan mengenai tauhid yang berangkat dari deskripsi mengenai sebab-akibat untuk membuktikan adanya Tuhan, penyebab dari segala sebab (musabbib al-asbab) dan setelah itu, mereka kemudian mengabaikan sebab-akibat itu sendiri.

Dengan kata-kata lain, al-Asy’ariyyah dalam sistem teologinya sangat anti terhadap hukum kausalitas.

Ibnu Rusyd sebelumnya pernah mengkritik prinsip yang anti terhadap hukum kausalitas ini dengan mengatakan:

فمن جحد وجود ترتيب المسببات على الأسباب في هذا العالم فقد جحد الصانع الحكيم.

“Barang siapa yang mengingkari hukum sebab-akibat yang terjadi di alam semesta ini, maka sungguh ia telah mengingkari Tuhan Yang Maha Pencipta lagi Maha Bijaksana”.

Pandangan Ibnu Rusyd ini benar jika dilihat dari aspek logis semata karena orang yang mengingkari hukum sebab akibat dengan sendirinya menolak adanya penyebab dari segala sebab (musabbib al-asbab). Kendati demikian, pandangan Ibnu Khaldun ini sendiri dapat dimengerti jika kita melihatnya dari sudut pandang dan konsep yang ia pakai, yakni konsep mengenai dualisme relasi antara akal dan jiwa.

Akal bagi Ibnu Khaldun selalu berusaha memahami proses yang terjadi di luar dirinya dan mengamati rangkaian teratur antara peristiwa yang satu dengan peristiwa yang lain di alam semesta ini selagi objek yang diamatinya masih dalam jangkauan dan batas-batas kemampuannya. Melalui hal ini, akal juga mengaktifkan peran jiwa dalam  menuju kebenaran yang lebih umum, yakni memahami kesalingterkaitan antara rangkaian peristiwa di alam semesta ini yang di saat bersamaan juga menegaskan ketidakmampuannya dalam mengamati kesalingterkaitan ini sampai ke sebabnya yang paling awal.

Baca Juga :  Ilmu Kalam, Semangka India dan Lalat Berakal

Kenyataan  demikian mendorong jiwa untuk berkeyakinan mengenai adanya sebab pertama yang menggerakkan sebab-sebab lain. Inilah yang disebut Ibnu Khaldun sebagai iman sesungguhnya terhadap Tuhan Yang Maha Pencipta lagi Maha Esa. Proses menyeimbangkan dan menyelaraskan jiwa dan akal inilah yang membawa seseorang kepada tauhid yang menjadi inti penghambaan seseorang terhadap Tuhan.

Namun keimanan yang merupakan peran jiwa ini tidak akan cukup mematrikan ‘sifat tauhid secara mendalam ke dalam jiwa. Bagi Ibnu Khaldun, tentu dibutuhkan sifat yang memungkinkannya dapat melekat dan terpatri secara permanen dalam jiwa seseorang (husul sifat tatakayyafu biha an-nafsu). Mematrikan sifat tauhid dalam jiwa ini, bagi Ibnu Khaldun, hanya bisa dilakukan melalui:

تفريغ القلب من شواغل ما سوى المعبود حتى ينقلب المريد السالك ربانيا.

“Mengosongkan hati dari kesibukan-kesibukan yang mengganggu hubungan dengan Tuhan sehingga sang salik dapat berubah menjadi lebih dekat dengan-Nya (rabbaniyyan)”.

Berangkat dari ini, dalam jiwa terkumpul dua maqam: maqam ilmu (maqam al-ilm) dan maqam hal dan sifat (maqam al-hal wa al-ittisaf). Demikianlah akal akhirnya hanya menjadi jembatan dan sarana bagi jiwa untuk menuju Allah atau dengan kata-kata lain ilmu kalam yang menggunakan instrument akal hanya sekedar jembatan yang menghubungkan ke arah tasawwuf.

Berangkat dari asumsi demikian, jika kita kembali ke diskusi awal tentang tauhid, maka tauhid ini memiliki dua maqam: maqam ilmu yang diwakili oleh ilmu kalam dan maqam sifat dan hal yang diwakili oleh tasawwuf dimana yang pertama hanya jembatan dan sarana bagi yang kedua. Melalui penjelasan ini, para ahli kalam jelas keliru ketika mereka berkeyakinan bahwa mereka dapat sampai kepada tauhid mutlak melalui instrument akal. Mereka lupa bahwa hakikat zat dan sifat Allah tidak akan mungkin dijangkau oleh akal karena ruang lingkupnya sangat terbatas pada pengalaman dan pencerapan indrawi.

Maka dari itu, tidak ada jalan lain untuk memahami dan mengetahui Allah dengan sebenar-benar pengetahuan dan pemahaman kecuali dengan jiwa, atau dengan kata-kata lain melalui tasawwuf yang dapat mengantarkan kita kepada ‘musyahadah’, berhubungan langsung dengan hakikat ketuhanan.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here