Ibnu Khaldun dan Ilmu Hadis

0
782

BincangSyariah.Com – Ibnu Khaldun dikenal di dunia akademik sebagai salah satu perintis kajian sosiologi, kebudayaan, filsafat sejarah. Al-Jabiri dalam Ashabiyyah Ibnu Khaldun juga menegaskan bahwa selain dijuluki dengan julukan-julukan seperti ini, Ibnu Khaldun juga bisa disebut sebagai seorang epistemolog. Hal demikian karena kajian-kajiannya tentang berbagai pengetahuan yang dikenal di kebudayaan Arab dan analisis kritisnya terhadap jenis-jenis pengetahuan tersebut menjadikannya bukan hanya sebagai sosiolog, budayawan dan sematan-sematan lainnya namun juga sebagai seorang epistemolog.

Dalam ulasan mengenai berbagai macam ilmu pengetahuan yang dikenal dalam kebudayaan Arab ini, kita dapat melihat keahlian Ibnu Khaldun yang lain dari yang kita kenal sebelumnya. Beliau ialah seorang pakar hadis. Ya, kita beliau sebagai pakar dan tidak menyebutnya sebagai al-hafidz, al-imam dan gelar-gelar lainnya dalam ilmu hadis karena memang beliau dalam ilmu hadis ini tidak sebesar nama-nama seperti al-Bukhari, Muslim, Ibnu Majah dan sedertan ulama hadisnya. Namun demikian, penguasaan beliau terhadap berbagai cabang ilmu hadis tidak perlu dipertanyakan.

Tak ayal, Ibnu Khaldun, seperti yang dibuktikan oleh Ali Abdul Wahid Wafi dalam Abqariyyat Ibnu Khaldun, memiliki keluasan ilmu dan pengetahuan mengenai kitab-kitab hadis, terlebih Sahih Muslim, kitab hadis yang menjadi pegangan di berbagai wilayah Barat Islam (al-magrib), tempat Ibnu Khaldun dibesarkan. Selain itu, Ibnu Khaldun juga pernah mengajar kitab al-Muwatta karya Imam Malik bin Anas di beberapa perguruan tinggi di Mesir saat itu. Ibnu Khaldun juga sangat mumpuni dalam ilmu mustalah hadis dan telaah sanad.

Ada beberapa argumen yang bisa menjadi alasan kuat bagi layaknya Ibnu Khaldun disebut sebagai ahli dalam bidang hadis. Pemaparan di sini sepenuhnya saya dapatkan dari pengantar kitab al-Muqaddimah oleh Ali Abdul Wahid Wafi yang berjudul Abqariyyat Ibnu Khaldun. (Baca: Kelebihan Mengetahui Hal Gaib bagi Wali Allah Menurut Ibnu Khaldun)

Baca Juga :  Lima Syarat agar Hadis Bisa Dikatakan Sahih

Pertama, Ibnu Khaldun dalam kitab at-Ta’rif menceritakan tentang studinya dengan beberapa ulama hadis dalam berbagai fase kehidupannya berikut juga mempelajari karya-karya penting yang ditulis oleh para ulama hadis di wilayah Maroko (Maghrib). Ibnu Khaldun belajar kitab at-Taqassi li-Ahadits al-Muwattha karya Ibnu Abdil Barr kepada Muhammad bin Sa’ad bin Burral al-Anshari. Ibnu Khaldun juga menimba ilmu tentang kitab Sahih Muslim, kitab al-Muwattha, Sahih al-Bukhari, Sunan Abi Dawud, at-Turmudzi dan an-Nasa’i kepada Muhammad bin Jabir bin Sulthan al-Qaisi.

Ibnu Khaldun juga mendengarkan riwayat al-Muwatta dari Muhammad bin Abdis Salam. Muhammad bin Abdus Salam sendiri memiliki jalur yang tinggi (at-turuq al-aliyah) dari Abu Muhammad bin Harun at-Ta’i. Jalur yang tinggi atau disebut juga sebagai at-turuq al-aliyyah merupakan matarantai periwayatan terdekat dengan generasi sebelumnya.

Ibnu Khaldun juga belajar Muwatta Imam Malik, Sahih Bukhari, Sahih Muslim, Sunan Abi Dawud, at-Turmudzi, an-Nasa’i, Ibnu Majah secara sima dan ijazah kepada Muhammad bin Abdul Muhaimin al-Hadrami. Di bawah bimbingan Imam hadis di zamannnya ini, Ibnu Khaldun juga mempelajari kitab Mustalah Hadis yang ditulis oleh Ibnu as-Solah. Ibnu Khaldun juga belajar sebagian kitab al-Muwatta kepada Muhammad bin Ibrahim al-Abili yang merupakan guru istimewanya sekaligus mendapat ijazah darinya. Muhammad bin Muhammad as-Shabbagh yang merupakan Imam ahli hadis dan sangat pakar dalam ilmu hadis dan para periwayatnya pernah juga menjadi guru Ibnu Khaldun. Ini ketika beliau masih di Tunisia.

Dalam kitab at-Ta’rifat juga disebutkan, bahwa Ibnu Khaldun belajar kepada banyak ulama di Maroko ketika di bekerja di bawah pemerintahan Sultan Abu Inan dan sebagian besar gurunya ini ialah berasal dari kalangan ulama yang pakar dalam bidang hadis. Di antara gurunya itu ialah Abu Abdillah Muhammad bin as-Shaffar dan Muhammad bin Muhammad bin al-Haj al-Balfiqi. Kepada dua ulama hadis ini, Ibnu Khaldun belajar kitab al-Muwatta.

Kedua, dalam kitab al-Muqaddimah, Ibnu Khaldun menulis satu bab tersendiri tentang ilmu hadis. Ulasannya tentang ilmu ini menunjukkan kepakarannya dalam ilmu hadis dengan berbagai cabang-cabangnya dan keluasan telaah dan wawasannya tentang karya-karya yang ditulis dalam bidang ini.

Baca Juga :  Telinga Berdengung, Pertanda Ada Seseorang Membicarakan Kita?

Tak lupa pula, dalam bab yang mengulas tentang hadis ini, Ibnu Khaldun memberikan komentar dan keterangan kritis yang menunjukkan bahwa mustahil beliau tidak menguasai ilmu ini. Ibnu Khaldun merupakan ulama yang memiliki daya kritis tinggi. Dan karenanya, berbagai cabang ilmu hadis telah dikuasainya dengan detail. Ulasan mengenai ilmu hadis ini bisa dikatakan tambahan yang beliau sematkan kepada kitab al-Muqaddimah selama beliau tinggal di Mesir.

Ketiga, selama di Mesir, Ibnu Khaldun ditunjuk sebagai pengajar ilmu hadis di salah satu perguruan tinggi bergengsi di masanya, yakni perguruan tinggi bernama Shargatmus. Mesir di masa itu merupakan negeri Islam yang sangat tinggi peradabannya dengan perpustakaannya yang besar, bangunan-bangunanya yang megah, dan ulamanya yang menguasai banyak bidang pengetahuan, dan di antara ulama besar ini ialah para ulama besar yang pakar dalam ilmu hadis. Di Mesir ini, kita temukan ulama besar bernama Ibnu Hajar al-Asqalani, pengarang kitab Fathul Bari, syarah Sahih al-Bukhari. Jadi melalui kenyataan ini, mana mungkin, kata Ali Abdul Wahid Wafi, Ibnu Khaldun tidak pakar dalam ilmu hadis, dan tentunya kepakarannya dalam bidang ini jauh di atas rata-rata. Konon, Ibnu Hajar al-Asqalani sendiri pernah menjadi murid Ibnu Khaldun.

Keempat, dalam kitab al-Muqaddimah, Ibnu Khaldun menulis satu bab tersendiri tentang Imam Mahdi. Dalam pembahasan tentang Imam Mahdi, Ibnu Khaldun  mengemukakan berbagai macam hadis terkait kemunculan Imam Mahdi berikut sumber-sumber dan berbagai varian riwayatnya dengan melihat kualitas para periwayat yang meriwayatkan hadis-hadisnya. Ulasan ini sangatlah menarik decak kagum karena menurut Ali Abdul Wahid Wafi tidak ada ulama sebelumnya yang mengulas secara rinci berikut telaah kritisnya terhadap hadis-hadis yang memprediksikan Imam Mahdi. Bahkan melalui kritik jalur periwayat hadis secara kritis ini, Ibnu Khaldun sampai-sampai ragu atau mungkin juga tidak percaya akan kehadiran Imam Mahdi.

Baca Juga :  Menyambut Hari Santri, Dapatkan Diskon Buku-Buku Ilmu Hadis yang Jarang di Pasaran

Inilah sekelumit keterangan tentang kepakaran Ibnu Khaldun dalam bidang ilmu hadis. Sebenarnya ingin saya kemukakan secara lebih rinci tentang analisis kritis Ibnu Khaldun terhadap hadis-hadis tentang Imam Mahdi tapi insya Allah akan saya sajikan dalam tulisan lainnya. Semoga sempat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here