Ibnu ‘Athaillah; Malulah saat Dipuji

1
1246

BincangSyariah.Com – Salah satu bahaya dari pujian adalah membuat seseorang merasa berbangga dengan dirinya sendiri dan lupa bahwa di balik pencapaiannya ada campur tangan Allah yang Maha Segala.

Karena itu, agar tidak terpelosok ke dalam benih-benih kesombongan hendaknya seorang mukmin merasa malu saat dipuji, sebagaimana Ibnu ‘Athaillah jelaskan dalam kitab Al-Hikam

المؤمِنُ إذا مُدِحَ اسْتَحْيا مِنَ اللهِ تَعالى أنْ يُثْنى عَلَيْهِ بِوَصْفٍ لا يَشْهَدُهُ مِنْ نَفْسِهِ.

“Ketika seorang mukmin dipuji, maka seharusnya ia merasa malu kepada Allah, karena ia dipuji dengan sifat yang tidak ia dapati dalam dirinya”

Rasa malu ini ditujukan kepada Allah, karena sejatinya kebaikan yang tampak di mata orang lain adalah sebab dari ditutupnya aib kita oleh-Nya Sehingga kejelekan-kejelekan kita tak tampak di mata orang lain.

Hendaknya ia menganggap pujian tersebut adalah sebuah ujian dari Allah Swt. Karena itu, biasanya seseorang yang tawadhu, maka akan merasa malu akan pujian manusia kepadanya sebab ia sadar bahwa kebaikan yang dipuji berasal dari aib kita yang masih bersedia Allah tutupi.

Menurut Ibnu Athaillah, itulah salah satu ciri kaum yang zuhud, yang jika dipuji maka sesaklah hati mereka, karena menyadari bahwa pujian itu datang dari makhluk.

Nasehat Ibnu ‘Athaillah jika mendapati orang-orang memujimu karena apa yang mereka sangka ada pada dirimu. Maka celalah dirimu karena apa yang engkau ketahui ada pada dirimu. Karena merupakan sebuah kebodohan jika meninggalkan keyakinan sendiri dan mengikuti dugaan orang lain.

Maka apabila Allah membiarkan suatu pujian diberikan kepada kita, padahal kita tidak layak mendapatkannya, maka pujilah Allah karena Dialah yang lebih berhak atas pujian tersebut.

Baca Juga :  Tafsir Surah Yasin Ayat 18-19: Mengaitkan Musibah dengan Kesialan Bukan Ajaran Islam

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here