Ibnu Arabi dan Metode Irfan dalam Menyeleksi Hadis

1
2216

BincangSyariah.Com – Dalam berbagai literatur kesufian, Ibnu Arabi terkenal sebagai al-Kibrit al-Ahmar dan Syeikh al-Akbar bagi para penempuh jalan menuju Allah SWT. Tak hanya itu, seperti yang dikemukakannya sendiri dalam bukunya yang terkenal, al-Futuhat al-Makkiyah, Ibnu Arabi mengklaim dirinya sebagai Khotim al-Awliya, penutup para wali sebagaimana Nabi Muhammad sebagai penutup para Nabi.

Menariknya, dalam buku yang sama, Ibnu Arabi menegaskan kesamaan antara Nabi dan Wali sambil mengkritik pandangan al-Imam al-Ghazali yang membedakan kedudukan keduanya. Ibnu Arabi mengatakan bahwa kesamaan antara Nabi dan Wali terletak pada gagasan bahwa keduanya mendapatkan wahyu dari Allah dan bahkan sering bertemu dengan malaikat.

Namun demikian perbedaan di antara keduanya, kata Ibnu Arabi, hanya pada kandungan wahyu yang disampaikan oleh malaikat. Wali hanya mendapat wahyu berupa ajaran-ajaran yang dapat mendukung dan memahamkan ajaran-ajaran sang Nabi atau Rasul. Adapun “dari intensitas bertemu dengan malaikat, Nabi dan Wali tetap memiliki kedudukan yang sama”, demikian Ibnu Arabi menjelaskan.

Atas dasar kemungkinan para Wali sering bertemu dengan malaikat pembawa wahyu ataupun sering bertemu secara spiritual dengan Nabi Muhammad SAW, maka, kata Ibnu Arabi, hadis-hadis yang awalnya dinilai palsu oleh ahli hadis bisa jadi menjadi sahih di tangan sang Wali ini karena ia berguru secara langsung kepada Nabi Muhammad SAW dan Nabi langsung memberitahukan secara kasyfi mana hadis palsu dan mana hadis sahih.

Karena itu, menurut Ibnu Arabi, sahih atau tidaknya suatu hadis tidak melulu harus melalui jalur pendekatan al-Jarh wa at-Ta’dil atau perbandingan para periwayat, melainkan juga bisa ditempuh melalui jalur irfani. Hal demikian seperti yang dapat kita perhatikan dari kutipan berikut:

Baca Juga :  Pandangan Ibnu Arabi tentang Tragedi Pembantaian Imam Husen

فرب حديث ضعيف قد ترك العمل به لضعف طريقه من أجل وضاع كان في رواته يكون صحيحا في نفس الأمر، ويكون هذا الواضع مما صدق في هذا الحديث ولم يضعه، وإنما رده المحدث لعدم الثقة بقوله في نقله. وذلك إذا انفرد به ذلك الواضع، أو كان مدار الحديث عليه.

“Bisa jadi hadis yang awalnya dinilai daif – sehingga tidak diamalkan karena jalur periwayatannya lemah dan karena dinilai ada pemalsu hadis di mata rantai periwayatannya – menjadi sahih  dan periwayatnya dianggap jujur serta tidak memalsukan hadis itu.

Hadisnya itu hanya ditolak oleh para ahli hadis karena mereka tidak mempercayai sang periwayat dalam meriwayatkannya.

Hal demikian terjadi karena sang periwayat hadis [yang dinilai pemalsu] bersendiri dalam meriwayatkan hadis bersangkutan atau karena ia menjadi madar dari jalur periwayatan hadis tersebut.”

Simpulnya menurut Ibnu Arabi, bisa jadi hadis yang secara lahirnya dinilai palsu oleh para ulama hadis [karena mereka tidak mampu menilainya secara batin] akan dianggap sahih oleh orang-orang yang sudah tersingkap cahaya keilahian di hadapannya sehingga yang dilihatnya hanya kebenaran dari Sang Maha Benar.

Karenanya, yang tidak diketahui oleh ahli hadis dapat diketahui oleh sang Wali secara kasyfi ini. Untuk itu, Ibnu Arabi, dalam al-Futuhat al-Makkiyah, menegaskan kembali pandangannya terkait metode penyeleksian hadis berdasarkan  mukasyafah ini:

ورب حديث يكون صحيحا من طرق رواته يحصل لهذا المكاشف الذي عاين هذا المظهر فيسأل النبي صلعم عن هذا الحديث الصحيح فأنكره وقال له: لم أقله ولا حكمت به فيعلم ضعفه فيترك العمل به عن بينة من ربه، وإن كان قد عمله أهل النقل لصحة طريقه وهو في نفس الأمر ليس كذلك.

Baca Juga :  Hukum Memperingati Haul Orang Saleh

“Bisa jadi hadis yang awalnya dinilai sahih karena jalur periwayatannya yang tidak bermasalah menjadi daif di hadapan Wali yang mukasyif ini. Sang Wali bisa menanyakan langsung kualitas hadis tersebut kepada Nabi lalu Nabi sendiri mengingkari bahwa hadis tersebut bukan darinya dan mengatakan: “Aku tidak pernah menyabdakan demikian bahkan tidak pernah memberikan hukum syariat melalui sabda ini.”

Walhasil, sang Wali yang mukasyif ini dapat mengetahui kedaifan hadis tersebut sehingga tidak dapat mengamalkannnya kendati hadis ini diterima dan diamalkan oleh ahli hadis. Hal demikian terjadi karena pengetahuan yang diberikan Tuhan kepada sang Wali ini.”

Pandangan ini menahbiskan metode baru dalam menilai kesahihan dan kedaifan suatu hadis, sebuah metode yang tidak melulu ditempuh melalui jalur al-Jarh wa at-Ta’dil, perbandingan para periwayat dan marwiyyat, atau pun manhaj intiqa’i yang dipegang oleh al-Bukhari dalam menilai validitas sebuah hadis.

Kendati metode baru, Ibnu Arabi hanya menegaskan bahwa metode ini hanya benar-benar bisa digunakan oleh orang-orang yang berusaha mendekatkan dirinya kepada Allah dan telah mengalami mukasyafah dalam perjalanan menuju kepada-Nya. Metode ini jelas sangat elit dan aristokratis serta tidak bisa dijamah semua orang.

Artinya, metode ini hanya bisa ditempuh oleh segelintir orang dan tidak bisa dirumuskan dalam bentuk ilmu yang bisa dipelajari semua orang dari berbagai kalangan. Kenapa demikian? Karena metode irfani hanya bisa didapat melalui anugerah dan pancaran pengetahuan ilahi yang tidak dapat digapai melalui oleh pikir dan perenungan mendalam.

Metode ini hanya bisa dijangkau oleh orang yang selalu membersihkan hatinya dan bergiat secara terus menerus untuk mendekatkan diri kepada Allah sampai Allah pun menyingkapkan tabir keilahiannya kepada yang bersangkutan.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here