Ibnu Al-Wardi dan Black Death Abad ke-14: Self Isolation Bukan Berarti Gentar!

0
1106

BincangSyariah.Com – Ibnu Al-Wardi lahir di Ma‘arrah An-Nu’man, Suriah. Hidup antara abad ke 7-8 hijriah. Beliau adalah seorang ahli sejarah, serta penulis dan sastrawan. Salah satu karya beliau yang fenomenal adalah Tarikh Ibn Al-Wardi, sebuah buku sejarah dengan pendekatan metodologi penelitian yang up-to-date. Beliau tinggal di wilayah Aleppo, Suriah.

Di sanalah beliau menorehkan tinta emasnya menjadi bagian dari generasi emas Islam pasca masa kebangkitan. Selain dikenal sebagai sejarawan ulung, Ibn Al-Wardi juga dikenal sebagai Ahli Ilmu Geografi dan Kartografi, di antara karyanya dalam bidang geografi adalah Kharidatul Aja’ib wa Faridhatul Gharaib, buku ini memuat kondisi geografi dunia Arab pada saat itu, termasuk Populasi, Aneka Flora dan Fauna, Iklim, sistem pemerintahan, dan lain sebagainya. Selain itu, Buku ini juga dilengkapi dengan peta berwarna.

Ibnu Al-Wardi lahir tahun 1292 Masehi atau 691 Hijriah di Ma’arrah Al-Nu’man dan wafat tahun 1349 Masehi atau 749 Hijriah di Aleppo, disebabkan wabah yang saat itu sedang menyebar dari arah timur. Wabah yang pada Akhirnya membunuh Ibnu Al-Wardi ini dikenal dengan nama  Black Death atau Al-Maut Al-Aswad. (Baca: Mengenal Subaiah Al-Aslamiyah; Sahabat Nabi Perempuan yang Wafat Terkena Wabah)

Konon, Ibnu Al-Wardi sebelumnya sudah memprediksi akan ada wabah dari Asia Tengah yang akan menghabisi hampir separuh Eropa dan Afrika. Black Death merupakan wabah yang tergolong pandemi, alias wabah yang penyebarannya cukup merata dan tak bisa diprediksi kemunculannya secara global. Dikabarkan lebih dari sepertiga penduduk Eropa tewas, ditambah sekitar 40% penduduk Mesir, dan negara-negara jalur darat Eropa, yakni negara-negara Asia Barat, tak terkecuali Syiria termasuk negara yang ‘diziarahi’ wabah ini.

Baca Juga :  Djamila Bouhired; Tokoh Nasionalis dan Ikon Kebebasan Rakyat Al Jazair

Di antara tokoh yang sangat aktif memberikan semangat hidup pada masyarakat Aleppo dan sekitarnya adalah Ibnu Al-Wardi. Ibnu Al-Wardi sangat aktif menyuarakan Muqowamah (pernyataan perang) terhadap Black Death ini. Baik dari tulisannya, maupun dari puisi – puisinya. Dalam masa-masa Lockdown-nya negara pada saat itu, beliau aktif melakukan Work From Home, menyelesaikan sebuah naskah tentang wabah tersebut, yang kelak diberi nama “Risalah An-Naba An Al-Wabaa”. Dalam naskah tersebut, Ibnu Al-Wardi Menggubah beberapa syair motivasi yang menggugah semangat hidup warga Aleppo.

Syair berikut ditulis oleh Ibnu Al-Wardi kurang lebih 2 hari sebelum ia meninggal. Ia mengajak masyarakat Aleppo bukan untuk sekedar mengenangnya, namun juga berperan aktif untuk mengajak masyarakat untuk tetap tenang dalam situasi seburuk apapun :

ولست أخاف طاعونا كغيري

فما هو إحدى غير الحسنيين

فإن مت استرحت من الأعياد

وإن عشت، اشتفت أذني وعيني.

“Aku tak seperti yang lain, aku tak takut pada wabah!

Wabah ini, bukanlah kebaikan, tidak pula membawa kebaikan

Jika aku mati karenanya, maka waktu istirahatku dari perayaan – perayaan telah tiba

Namun jika aku bertahan hidup, maka ini adalah terapi untuk telinga dan mataku”

Syair di atas mengisyaratkan bahwa menghadapi wabah tak perlu panik, namun juga tak boleh sembrono. Di bait awal kita akan menyangka bahwa Ibnu Al-Wardi adalah seorang Jabbariyah karena keberaniannya untuk menentang wabah yang menurutnya bukanlah apa-apa. Bahkan ketika kita baca hingga bait ketiga pun, kita masih akan menganggap Ibnu Al-Wardi adalah seorang Jabbariyah. Seakan-akan ia hanya bisa berserah diri pada Allah tanpa melakukan usaha apapun, seakan ia hanya menunggu takdir Allah memutuskan untuk menjemputnya lewat wabah itu.

Baca Juga :  Ini Motivasi Imam al-Razi Belajar Kedokteran

Namun, di bait terakhir beliau mengatakan, “jika aku masih bertahan hidup, maka ini adalah sebuah bentuk terapi / pemulihan buat mata dan telingaku”. Ini menunjukkan bahwa Ibnu Al-Wardi tidak mentah-mentah menantang wabah ini. Beliau juga melakukan tindakan preventif berupa Self Isolation atau isolasi diri.

Bait itu membuktikan bahwa selama masa penyebaran wabah, beliau mengistirahatkan mata dan telinganya dari pekerjaan yang dilakukannya sehari –hari. Artinya, ada perubahan pola hidup, dari sebelum wabah datang dan sesudahnya. Sehingga Ibnu Al-Wardi menganggap penyebaran wabah ini adalah saat yang tepat baginya untuk memulihkan kesehatan anggota tubuh yang sudah lama ia gunakan secara kontinyu, walaupun pada akhirnya wabah ini berhasil juga menembus Security System  milik Ibnu Al-Wardi.

Ibnu Al-Wardi dalam baitnya mengatakan bahwa batuk darah adalah ciri khas dari wabah ini

سألت إلى بارئ النسم في دفع طاعون صدم

فمن أحس بلع دم فقد أحس بالعدم

“Aku Memohon pada Allah perlindungan dari wabah yang mengejutkan ini.

Barangsiapa tau rasanya menelan darahnya sendiri, maka ia sedang merasakan ketiadaan”

Ibnu Al-Wardi adalah salah satu figur ‘komplit’ yang bisa dicontoh dalam menghadapi wabah. Ia tak gentar dengan wabahnya, ia tetap memohon perlindungan dari Allah, serta melakukan upaya – upaya preventif. Self Isolation saat terjadi wabah adalah tuntunan Rasulullah SAW, seperti sabdanya dalam Sahih Bukhari:

عن عائشة أم المؤمنين رضي الله عنها قالت : سالت رسول الله صلى الله عليه وسلم عن الطاعون، فأخبرني رسول الله صلى الله عليه وسلم : أنه كان عذابا يبعثه الله على من يشاء، فجعله رحمة للمؤمنين، فليس من رجل يقع الطاعون فيمكث في بيته صابرا محتسبا يعلم أنه لا يصيبه إلا ما كتب الله له إلا كان له مثل أجر الشهيد

Baca Juga :  Macam-Macam Penyakit Menular di Masa Rasulullah  

Artinya : “Dari Aisyah RA Ummul Mukminin, ia berkata : aku pernah bertanya pada Rasulullah SAW tentang Tha’un / Wabah. Lalu beliau berkata padaku : sesungguhnya itu adalah adzab yang diturunkan Allah kepada siapapun yang ia kehendaki, lalu Dia jadikan itu rahmat bagi orang-orang mukmin, maka tidaklah seorang yang (daerahnya) sedang diserang wabah, lalu ia mengurung diri dirumah, sembari bersabar dan meyakini bahwa itu semua tidak akan menimpanya kecuali sudah ditakdirkan oleh Allah padanya, melainkan ia mendapatkan pahala seperti pahalanya orang mati syahid” (H.R Bukhari)

Dalam bukunya tadi, Ibnu Al-Wardi mencatat bahwa wabah ini mengepung dunia selama kurang lebih 15 tahun lamanya, dimulai dari kawaan Asia Tengah (Tiongkok/China) lalu menyebar sampai ke Asia Barat, Mesir, dan Eropa. Ibnu Al-Wardi menyebut wabah ini sebagai Dhab’u atau anjing gila, karena penyebarannya yang tak bisa diprediksi hingga sampai ke semenanjung Alexandria. Kurang lebih ada 1000 orang mati tiap harinya, termasuk Ibnu Al-Wardi pada tahun 749 H/1349 M di Aleppo.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here