Ibnu al-Afthos: Sastrawan Penerus Kerajaan Islam di Portugal era Andalusia

3
701

BincangSyariah.Com – Pasca wafatnya Muhammad al-Afthos pada 1040 M, Kerajaan Islam yang menguasai wilayah Portugal dan Badajoz ini dipegang kendalinya oleh putranya, Abu Bakar Muhammad bin Abdullah bin Maslamah yang dikenal dengan Ibn al-Afthos. Tetapi panggilan yang lebih akrab dan sering ditulis dalam buku sejarah adalah al-Muzhoffar. Ia memiliki ambisi yang sama seperti ayahnya selama memimpin dinasti ini, memperluas wilayah kekuasaan. Ia memiliki strategi untuk mewujudkan ambisinya, salah satunya adalah dengan mengakui keberadaan dan wilayah kekuasaan kerajaan Islam yang lain tetapi sambil mempelajari dan mengawasi kondisinya.

Strategi politik yang ia lakukan mampu menjadikan Dinasti Islam yang satu ini mengunggulkan Dinasti Bani Abbad di Sevilla dan Dinasti Dzun Nun di Toledo. Sebelum mencapai prestasi ini, Dinasti al-Afthos sempat mengalami pertempuran yang hebat dengan Dinasti Bani Abbad di Sevilla yang terjadi di Niebla dan Evora. Peristiwa ini hampir saja benar-benar memakan ribuan nyawa sampai akhirnya peran Abu al-Hazm menteri sekaligus cendekiawan dari Dinasti Juhur dan  putranya yang mampu meredamkan keduanya.

Diserang Kerajaan Kristen

Selain konflik yang terjadi dengan sesama kerajaan Islam, dinasti ini pernah diserang oleh pasukan kristen yang dipimpin oleh Fernando I sang penguasa pertama di Kastilia. Pasukan kristen menyerang salah satu wilayah kekuasaan dinasti ini, Portugal Utara. Dengan mengumpulkan kekuatan, pengawasan yang dilakukan pada sebelumnya dan persiapan yang matang. Tapi pada akhirnya pertempuran yang dimulai oleh mereka justru dimenangkan oleh umat Muslim.

Kekalahan ini menyebabkan jatuhnya Coimbra dan beberapa wilayah sekitarnya pada tahun 1064 M. Atas kekalahan yang dialami umat kristen, Ibn al-Afthos menetapkan pembayaran denda yang dibebankan kepada kaum kristen agar tetap bisa tinggal di wilayah kekuasaan muslim. Itulah sebabnya ia dijuluki dengan berbagai sebutan dari waktu ke waktu atas pencapainnya.

Baca Juga :  Sejarah Pelaksanaan Syariat "Lockdown" Pertama dalam Islam

Ksatria, Ahli Politik, dan Sastrawan

Ibn al-Afthos memang dikenal sebagai pemimpin yang ksatria, cakap dalam berperang, dan unggul dalam perpolitikan. Meski begitu ia juga dikenal sebagai sastrawan unggul dengan menghasilkan beberapa karya berupa syiir dan buku. Ia senang mengoleksi buku, hadir dalam majlis ilmu dan aktif berdiskusi di dalamnya. Cerita sangat masyhur pada zamannya, ia begitu terkenal akan kecintaannya terhadap ilmu.

Karyanya yang terkenal berjudul “Kitab al-Mudhzoffar”. Ada beberapa versi yang menyebutkan terkait jumlah jilidnya. Sebagian mengatakan kitab tersebut terdapat 100 jilid, sebagian lain mengatakan 50 jilid. Bahkan ada yang menyebutkan hanya 10 jilid. Kitab tersebut berisi tentang ilmu sastra dan jenis-jenis karya sastra. Ia juga menulis ensiklopedia sastra yang berisi tentang pengetahuan sastra, sejarahnya, macam-macam karya sastra, kata-kata bahasa Arab yang asing dan sebagainya. Dalam penulisannya ia hanya dibantu oleh satu sekretaris yaitu, Abu Utsman Said bin Khoiroh.

Dipuji Ibn Hazm

Bahkan Ibn Hazm, salah satu cendekiawan yang berasal dari Cordoba memuji keunggulannya dan kecerdasannya. Ia mengatakan meski ia sibuk mengurus pemerintahan dan menghadapi serangan juga peperangan, ia tidak lalai untuk tetap berkarya dalam bidang sastra. Pada masa Muluk at-Thawaif yang menguasai wilayah Andalusia memang banyak sekali sastrawan yang tumbuh dan mendapati posisi jabatan tertentu di pemerintahan. Sehingga perkembangan dalam bidang literasi begitu pesat dan maju karena pemerintahan sangat memperhatikan hal tersebut.

Ibn al-Afthos akhirnya wafat pada tahun 1067 M dan digantikan oleh putranya, Yahya Ali yang dijuluki dengan al-Manshur.

3 KOMENTAR

  1. Dulu sesama dsulah Islam jarang akur suka saling serang. Belum terfikir untuk bikin bentuk negara federasi seperti di Maksyia atau seperti uni Eropa sekarang. Mgkin itu yg mendasari orang merindukan model khilafah. Padahal model federasi itu juga islami. Inti nya sesama umat Islam harus kerjasama mewujudkan kesejahteraan…karena umat Islam satu meskipun beda beda dikit .kita harus berjiwa besar..warrobbun Ghofur.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here