Ibnu Abi Zaid al-Qairowani; Tokoh Penentang Syiah Tunisia Berjuluk Imam Malik Kecil

0
142

BincanSyariah.Com – Abu Muhammad Abdullah bin Abi Zaid Abdurrahman Al-Qairowani atau yang sering dikenal dengan Ibnu Abi Zaid lahir di saat konflik antara dua sekte besar, Sunni dan Syiah sedang memanas. Hal ini berawal dari munculnya dinasti kecil bernama Ubaidiyyah Syiah di kota Mahdiah, Afrika Utara (saat ini berada di Tunisia).

Siapa sangka, ajaran Syiah yang sebelumnya tertolak di beberapa wilayah Islam, mendapat simpati besar dari kalangan masyarakat Mahdiah. Dinasti kecil itu pun, tak di sangka – sangka berkembang pesat hingga secara mengejutkan dapat menggulingkan kekuatan besar dinasti Aghlabiah. Dinasti Aghlabiah sendiri beraliran Sunni yang kala itu dianut oleh mayoritas masyarakat Afrika Utara. (Baca: Kerajaan Aghlabiah: Kerajaan Islam yang Mampu Taklukan Laut Mediterania)

Pasca peralihan kekuasaan, kerajaan Ubaidiyyah mulai gencar menyebarkan ajaran – ajaran Syiah. Tidak sedikit teori – teori yang dibawa para pemuka Ubaidiyyah menuai kontroversi di kalangan Ulama Maliki Sunni terutama jika menyangkut persoalan akidah.

Perdebatan sengit mengenai sejumlah topik pun beredar di masyarakat. Kedua kubu saling beradu argumen tentang keabsahan ajaran yang dianut.

Sebenarnya perseteruan ini tidak sesimpel adu argumen soal isu-isu agama saja, namun lebih bermuara pada politik kekuasaan. Dimana sekte dengan jumlah pengikut paling banyak secara otomatis akan lebih berpotensi untuk menduduki pusat pemerintahan. Pun sebaliknya, pemegang pemerintahan punya potensi besar untuk menyebarluaskan pengaruh ajaran alirannya di masyarakat.

Meskipun secara politik, Ibnu Zaid hidup dibawah naungan kerajaan Ubaidiyyah, namun faktanya ia tumbuh berkembang di lingkungan Sunni. Hal ini tidak lain berkat pengaruh besar ulama – ulama Maliki yang terus menghidupkan ruh ajaran Sunni di wilayahnya. Termasuk dengan mendidik generasi muda yang tidak lain adalah sasaran utama doktrinisasi kaum Syiah.

Pada saat itu, sejumlah pusat pendidikan telah dikuasai kerajaan Ubaidiyyah sehingga memunculkan kekhawatiran adanya susupan ajaran Syiah terhadap peserta didik.

Beruntung, sejak kecil Ibnu Zaid berada dibawah asuhan para ulama pembesar Maliki Kairouan,  sehingga memiliki fondasi kelimuan Sunni yang cukup kuat. Diantara yang turut mendidiknya sejak dini adalah Syekh Mahrez bin Khalaf at-Tunisiy, yang merupakan salah satu pembesar ulama Tunis.

Berjihad menggunakan harta, ilmu dan tenaga

Dalam perjalanan selanjutnya, gerakan perlawanan ilmiah terhadap Syiah terus digaungkan. Para ulama Maliki bergerilya di tengah – tengah masyarakat. Bahkan, pengajian – pengajian tidak hanya diadakan di masjid namun juga dilakukan di pasar, toko, tempat kerja hingga di pemakaman. Cara ini diharapkan mampu menekan penyebaran pengaruh Mazhab Ubaidiyyah.

Seperti para masyayikhnya, Ibnu Zaid turut aktif dalam menekan gerakan Syiah. Menurut Habib Tahir dalam karyanya Ibnu Abi Zaid Al-Qairowani wa ‘Aqidatuhu Fi ar-Risalah wa al-Jami’ menjelaskan Ibnu Zaid mengerahkan segala kemampuan yang ia miliki untuk menegakan kebenaran yang ia yakini.

Segelontor hartanya disumbangkan untuk kebutuhan tentara Sunni, bahkan rumahnya dijadikan tempat berkumpul para ulama Maliki guna membahas strategi menghadapi kelompok Syiah.

Ibnu Zaid juga pernah ikut mengangkat senjata berperang melawan pasukan kerajaan Ubadiyyah bersama para gurunya di Mahdiah tahun 333 H. Padahal saat itu ia baru berumur 23 tahun.

Selain itu, pemuda ini juga aktif menggerakkan kajian – kajian ilmiah Sunni. Seperti saat Khariji Abu Yazid berhasil mengusir Syiah dari Kairouan. Ibnu Zaid berinisiatif untuk mengembalikan pengajaran Mazhab Maliki di Jami Uqbah bin Nafi’, yang sebelumnya sempat dilarang oleh pemerintah Ubaidiyyah.

Ia bersama para ulama Maliki kembali melaksanakan belajar mengajar tanpa rasa takut akan bala tentara Ubaidiyyah yang sangat mungkin akan kembali ke Kairouan.

Memiliki Sanad keilmuan tinggi

Ibnu Zaid tidak hanya berpegang pada pembelajaran secara langsung namun ia juga memiliki sanad keilmuan seperti Hadist, Atsar, maupun Aqwal Fuqaha. Sanad – sanad ini ia terima dari para pemuka agama diberbagai wilayah.

Sebab keluruhan sanadnya, pria kelahiran 310 H ini mendapat posisi penting di tengah – tengah masyarakat. Bahkan, beberapa gurunya turut mengikuti pendapatnya. Tidak jarang ia diminta para masyayikh untuk mengijazahkan sanadnya tersebut.

Begitupun gelar Malik as-Shaghir (Imam Malik Kecil) disematkan kepadanya tidak lain karena keluhuran sanad yang ia miliki. Dimana ia meriwayatkan dari Sahnun dengan satu perantara, dari Ibnu al-Qasim dengan dua perantara, dan dari Imam Malik dengan tiga perantara.

Risalah Ibnu Abi Zaid dikenal di berbagai wilayah Islam

Ibnu Abi Zaid termasuk ulama yang cukup produktif. Ia telah menghasilkan banyak karya dari berbagai keilmuan Islami khususnya di bidang fikih.

Berkat kecerdasannya, ia mampu mengkaji luasnya kelimuan Islam ke dalam sebuah karangan yang terukur, tersusun dan sistematis. Sehingga mudah dipahami khususnya bagi para pemula.

Salah satu karya terbaiknya Risalah Abi Zaid Al-Qairowani mendapat apresiasi penuh dari kalangan ulama lintas masa. Syarah (penjelasan) kitab ini bahkan mencapai lebih dari seratus buah. Konon, karya fenomenalnya ini dikarang pada tahun 327 H sejak ia berusia 17 tahun.

Ketenaran kitab ini pun telah dikenal diberbagai wilayah Islam seperti Iraq, Yaman, Hijaz, Syam, Mesir, Spanyol dan negara – negara di Afrika Utara.

Saking pentingnya, orang – orang bersaing untuk memperoleh salinan  karya tersebut. Bahkan, salinan pertama kitab ini dibanderol seharga 20 dinar emas di Baghdad.

Abdurrahman ad-Dabbagh dalam karyanya Ma’alimul Iman menjelaskan, bahwa karangan Ibnu Zaid dibuat menggunakan kalimat ringkas. Selain itu, kitab ini mencakup hal – hal esensial seperti kewajiban – kewajiban dalam beragama, sunnah muakkadah hingga  sejumlah permaslahan utama dalam fikih Maliki.

Risalah sendiri bukanlah inisiatif dari Ibnu Zaid, namun merupakan permintaan dari para masyayikhnya khususnya Syekh Mahrez bin Khalaf at-Tunisiy yang tidak lain adalah guru sejak kecil Ibnu Zaid terutama saat belajar Al-Qur’an.

Selain menguasai bidang ilmu syariah, Ibnu Zaid dikenal sebagai seorang ahli bahasa, ia mampu menjelaskan sesuatu  dengan jelas baik tulisan maupun lisan, dan mampu mengarang bait – bait syair.

Pemuda Kaya yang Dermawan

Ibnu Abi Zaid dianugerahi harta kekayaan melimpah. Ia menggunakannya untuk kebutuhan agama dan negaranya. Ia banyak menyedekahkan hartanya itu untuk fakir miskin dan para penuntut ilmu termasuk para Fuqaha.

Dalam kitab Ibnu Abi Zaid Al-Qairowani wa ‘Aqidatuhu Fi ar-Risalah wa al-Jami’, Habib bin Tahir menceritakan bahwa  Ibnu Abi Ziyad pernah menyumbangkan sejumlah hartanya kepada para ahli ilmu.

Seperti  mengirim 1000 dinar emas kepada Qadhi Abdul Wahab al-Baghdadi saat ia kekurangan dana karena telah di sumbangkan kepada para muridnya. Menghibahkan 150 dinar emas kepada Yahya bin Abdullah al-Maghribi, ketika datang ke Kairouan. Mengirim kepada Abu al-Qasim bin Syablun 50 dinar emas saat jatuh sakit. Membekali putri Syekh Abu Hasan al-Qabisi 400 Dinar emas.

Ketika putri dari Syekh Mahrez bin Khalaf lahir, ia menginvestasikan sejumlah harta kepada pedagang. Lalu setelah putri Mahrez tersebut akan menikah, ia menyumbangkan hasil dari investasi itu yang mencapai 50.000 dinar.

Kecerdasannya ditopang dengan budi pekerti luhur. Ia adalah seorang wara’, pemberani dalam mengatakan kebenaran, berwibawa, rendah hati, serta perhatian terhadap masyarakat nya. Ibnu Zaid meninggal di usia 76 tahun pada tahun 996 M. Ia dimakam kan di pemakaman Quraisy, Kairoaun.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here