Ibn Sina di tengah Pusaran Pujian dan Pengkafiran

0
216

BincangSyariah.com Ibn Sina adalah tokoh yang tidak perlu diperkenalkan. Seluruh umat Islam tentu mengenal beliau, di kalangan awam sekalipun, beliau diketahui sebagai tokoh legenda ilmu kedokteran. Penemu sistem peredaran darah. Ilmuwan Islam  yang menjadi sumber kemajuan kedokteran modern. Bukti nyata hutang peradaban Barat kepada peradaban Islam.

Nama Ibn Sina dipakai sebagai nama masjid, rumah sakit, sekolah agama, taman pembelajaran Alquran hingga majelis taklim. Ibn Sina adalah bukti nyata kemajuan Islam yang begitu menghanyutkan hingga sekarang. Setelah pusat keilmuan dan sains telah lama bergeser ke Eropa, kehadiran seorang Ibn Sina’seolah masih “cukup” menutup kekecewaan umat Islam terhadap kemunduran besar itu.

Di luar dari glorifikasi tersebut, Ibn Sina adalah tokoh yang begitu problematis. Seiring dengan penggunaan nama beliau di berbagai tempat bercorakkan Islam, di sana pula suara-suara yang mempermasalahkan hal tersebut. “Kenapa orang yang akidahnya menyimpang dijadikan nama dan kebanggaan bagi umat Islam?”, demikian diantara ungkapan sebagian muslim. Seiring dengan pujian kepadanya dalam berbagai kesempatan, di sana pula dengan lantangnya ia disebut sebagai orang yang sesat dan menyimpang dari Islam.

Tuduhan negatif kepada Ibn Sina bukanlah sesuatu yang aneh atau langka. Mari melihat sebuah kitab dalam ilmu Rijal (ilmu tentang nama dan tokoh) tulisan Ibn Hajar Al-‘Asqalani (seorang ulama yang juga sangat diakui dalam ilmu tersebut) yang berjudul Lisanul Mizan (3/176).

Ibn Hajar dalam catatan identitas rawi-rawi hadis tersebut langsung memulai dengan penjelasan yang amat frontal. Menurut Ibn Hajar, “Ibn Sina’ tidak pernah menyampaikan riwayat apapun tentang hadis. Kalau pun ada, riwayat dari Ibn Sina’ hukumnya batil dan tertolak karena beliau adalah orang berkeyakinan falsafi, sesat dan tidak diridhai oleh Allah SWT.”

Penggolongan Ibn Sina’ sebagai satu kelompok keyakinan yang seolah terpisah dari keyakinan umat Islam juga dilakukan oleh As-Syahratsani dalam kitab beliau al-Milal Wan Nihal (2/293). Ibn Sina’ bersama dengan Al-Farabi dalam kitab tersebut dikatakan sebagai imamnya kaum Falsafiyun.

Di akhir penjelasan beliau, Ibn Hajar juga memberikan konklusi yang tidak kalah frontal. Menurut beliau, semua ulama yang hidup sezaman dengan Ibn Sina maupun yang hidup setelahnya sepakat tentang kekafiran beliau dan perbedaan keyakian beliau dengan keyakinan Islam.

Baca Juga :  Dua Corak Pemikiran Islam yang Menolak Filsafat

Mari melanjutkan ke ulama besar lain. Ibn Katsir, beliau juga seorang ulama seperti Al-‘Asqalani yang nyaris tidak pernah terbantahkan di kalangan Sunni. Dalam al-Bidayah Wa an-Nihayah (15/668) Ibn Katsir memulai dengan menyimpulkan penjelasan Imam Ghazali tentang akidah Ibn Sina. Ibn Katsir menyebutkan bahwa Al-Ghazali membantah Ibn Sina dalam 20 masalah dan tiga diantara masalah tersebut telah mengantarkan Ibn Sina kepada kekafiran. Adapun sisanya (17 masalah yang lain) mengantarkan Ibn Sina’ pada level ahli bid’ah.

Tuduhan yang lebih serius lagi disebutkan oleh Ibn al-Qayyim al-Jauziyyah dalam Itsaghatul Lihfan (2/1031), Ibn al-Qayyim menyebutkan bahwa Ibn Sina adalah seorang Syiah Qaramithah, tidak mempercayai penciptaan, kebangkitan dan juga kerasulan. Poin-poin ini tentu saja berarah pada kesimpulan bahwa Ibn Sina’ kafir.

Dalam sebagian catatan memang disebutkan bahwa Ibn Sina’ sempat bertaubat dari penyimpangan dan kekafiran beliau. Diantaranya Ibn Khulqan dalam Wafayatul A’yan (2/160). Tetapi tidak ada yang dapat memastikan hal tersebut. Bagaimana pun juga, Ibnu Sina’ adalah seorang ulama yang hidup bergelimangan dengan keyakinan yang divonis kafir oleh para ulama.

Faktanya, Ibn Sina di tengah pusaran pujian dan pengkafiran secara bersamaan. Ia diagung-agungkan sebagai representasi kemajuan “sains Islam”, tapi di saat yang sama adalah tokoh kafir dan sesat. Ibn Sina yang dikatakan orang menggali ilmu pengetahuan dari kemukjizatan Alquran dan hadis ternyata tidak memiliki akidah dan keyakinan sebagaimana tuntunan Alquran dan hadis.

Ibn Sina yang dipasang di papan nama masjid dan sekolah Islam ternyata adalah nama yang divonis sesat oleh ulama yang kitabnya dipelajari di masjid dan sekolah tersebut. Ibn Sina’ yang diheboh-hebohkan sebagai tokoh sentral poros hegemoni kemajuan Islam, tokoh yang dipasang di posisi paling depan sebagai bukti bahwa kemajuan barat sebenarnya hanyalah curian dari Alquran ternyata adalah orang yang akidahnya menyimpang.

Baca Juga :  Pelaku Dosa Besar dalam Mazhab Teologi Islam

Bagaimana menyikapi fakta menyakitkan ini? Tentu semua orang dipersilahkan menyampaikan jawabannya. namun fakta yang tidak terbantahkan adalah Ibn Sina merupakan orang yang diperhitungkan dalam perkembangan sains, sekaligus  divonis sesat bahkan kafir oleh banyak ulama.

Jadi, tentu Ibn Sina bukanlah cerminan pribadi yang bersedia dipasung pada sebuah keyakinan skriptural. Apalagi jika digambarkan bahwa apa yang ditemukan oleh Ibn Sina adalah hasil dari kontemplasi  terhadap ayat-ayat yang baru saja beliau baca di kitab suci. Hal seperti itu tentu sesuatu yang sangat berlebih-lebihan dan mustahil, tidak mungkin orang yang menolak prinsip-prinsip dasar sebuah kitab suci, lalu menjadikannya sebagai sumber kebenaran ilmu pengetahuan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here