Ibn al-Baithar: Pakar Ilmu Botani asal Andalusia

0
1047

BincangSyariah.Com – Pada abad ke-13, Islam mengalami perkembangan keilmuan di bidang kesehatan. Hal tersebut karena kemunculan seorang ahli di bidang tersebut, ialah Abu Muhammad Abdullah bin Ahmad Ad-Din bin Al-Baithar Al-Malaki atau yang lebih dikenal dengan nama Ibn al-Baithar. Ia lahir pada tahun 1193 atau 589 H di Malaga, sebuah kota di Andalusia.

Ia memulai pendidikannya di Sevilla, Spanyol. Saat itu ia bersama guru-gurunya mulai mengumpulkan tumbuh-tumbuhan di sekitar bersama beberapa gurunya seperti Abu al-‘Abbas an-Nabati. Abdullah bin Shalih dan Abu al-Hajjaj. Dari situlah ia memiliki minat pada ilmu botani, tumbuh-tumbuhan.

Berkelana hingga Suriah

Pada tahun 1221 M atau 617 H, ia melintasi Afrika Utara menuju Asia Kecil dan Suriah. Di sana ia akhirnya belajar ilmu tumbuh-tumbuhan dari para ahli dan dokter. Ia menekuni bidang tersebut sampai akhirnya ia diangkat menjadi kepala herbalis di bawah kepemimpinan Dinasti Ayyubiah.

Namun tidak hanya berhenti di situ, ia terus melakukan pegembaraan untuk menemukan tumbuh-tumbuhan untuk diteliti. Sampai akhirnya ia bertemu dengan seseorang yang kemudian menjadi muridnya dan penerusnya. Ialah Ibn Abu Ushaibah. Ia menuturkan bahwa Ibnu al-Baithar sangat mengerti tafsir-tafsiran dari buku Dioskorides dan membacakan kepadanya. Dioskorides adalah seorang ahli farmasi berkebangsaan Yunani yang hidup pada tahun 2-70 Masehi.

Menulis Buku Tanaman-Tanaman Obat dan Makanan Bergizi

Dalam mempelajari ilmu botani, Ibnu al-Baithar terpengaruh dari Maimonides dan al-Ghafiqi. Semasa hidupnya ia telah menuliskan beberapa karya berupa buku pengobatan dari tumbuh-tumbuhan. Ada yang merupakan temuan dari ia sendiri, ada juga yang merupakan penjelasan dari buku-buku karangan ahli kesehatan sebelumnya seperti Ibnu Sina, al-Qasim az-Zahrawi, al-Ghafiqi dan lain-lain.

Baca Juga :  Cikal Bakal Politik Identitas dalam Sejarah Islam

Ia menulis buku yang berjudul Al-Jāmi’ li Mufrādāt al-Adwiyyah wa al-Aghdziyyah (Kompendium Obat-Obatan dan Makanan Bergizi). Buku ini dikarang olehnya untuk sang raja Malik as-Shaleh, salah satu pimpinan Dinasti Ayyubiyah, karena ia hidup di zaman tersebut. Bukunya berisi kumpulan temuan racikan obat-obatan dari para ahli terdahulu. Terdapat 2300 lebih yang di dalamnya terdapat 150 catatan dari para ahli sebelumnya hingga ke zamannya. Ada 200 tanaman yang sebelumnya tidak pernah dikenal lalu dikenalkan olehnya di dalam buku itu.

Dalam buku Al-Jāmi’ li Mufrādāt al-‘Adwiyyah wa al-Aghziyyah tersebut ia menuliskan kegunaan tumbuh-tumbuhan sangat lengkap. Mulai dari akar, batang, buah hingga daunnya. Tidak hanya kegunannya, bahkan ia juga menuliskan bagaimana pengolahannya dan cara penggunannya kepada yang sakit. Buku ini benar-benar memberi penjelasan yang rinci. Istilah-istilah dari tanaman tersebut tidak hanya ditulis menggunakan bahasa Arab, melainkan juga bahasa Persia, bahkan bahasa Berber. Karyanya yang satu ini dikagumi oleh bangsa barat dan dijadikan rujukan. Di sana ia dikenal dengan nama Alpetragius.

Karya lainnya tentang ilmu botania adalah Al-Mughnī fi al-Adwiyyah al-Mufradah (Kompendium Obat-Obatan yang Berguna). Buku ini ditulis untuk orang yang sama, Malik as-Shaleh. Tidak jauh berbeda dengan buku sebelumnya, buku ini berisi tentang tumbuh-tumbuhan, kegunaannya dan cara pengolahannnya. Penyusunanya bukan berdasarkan abjad, melainkan berdasarkan pengunaannya. Terdiri dari 20 bab yang berisi tentang ramuan telinga, mata, sakit kepala, demam, penangkal racun bahkan kosmetik.

Ada juga buku Tafsir Diyasquridis, buku ini adalah komentar dan penjelasan terhadap temuan-temuan Diaskorides. Ada juga buku Mizan at-Thalib dan Maqalah fi Laymun sebuah buku yang menjelaskan tentang kegunaan buah jeruk. Ibnu al-Baithar wafat di Damaskus pada 1428 M saat usia yang ke-55 tahun.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here