Humor Gus Dur: Seorang Lelaki yang Tidak Masuk Neraka

0
211

BincangSyariah.Com – Abdurrahman Wahid, atau akrab disebut dengan Gus Dur, memang tidak ada habis-habisnya untuk diperbincangkan. Mulai dari kisahnya yang sangat tragis; yang membuat banyak orang merasa marah, sampai dengan kisahnya yang sangat lucu; yang membuat gelak tawa setiap yang mendengarkannya.

Adalah Kyai Husein Ilyas, salah satu Kyai yang memiliki kisah menarik saat bersama Gus Dur. Allahu Yarham. Beliau adalah sosok Kyai sepuh yang sangat dihormati dan sekaligus di segani di Jawa Timur. Di pondoknya yang sangat sederhana, di daerah Karangnongko, Mojokerto, Kyai Husein setiap harinya selalu dengan lapang dada menerima tamu, baik dari kalangan awam sampai dengan politisi terkemuka dengan tujuan untuk meminta doa restu, tidak terkecuali Gus Dur.

Dalam sebuah kesempatan, di sebuah acara peringatan wafatnya Mbah Maimun Zubair, Kyai Husein Ilyas menceritakan kisahnya bersama Gus Dur kepada para jamaah. Ia bercerita bahwa pada masa Gus Dur menjabat sebagai seorang Presiden Indonesia, beliau hampir setiap dua minggu sekali datang bersilaturahmi ke kediaman Kyai Husein Ilyas untuk sekedar bercerita. Namun ada satu cerita yang sangat lucu menurutnya.

Suatu ketika, kata Kyai Husein Ilyas, Gus Dur yang pada saat itu menjabat sebagai Presiden keempat datang dengan menggunakan mobil sedan berwarna hitam.

Gus Khusein, adohe Jakarta teko kene, kulo niki gak lapo-lapo, mung kepingin ndongengi sampean (Gus Khusein, jauhnya Jakarta kesini, aku ini tidak mau apa-apa, hanya ingin memberikan cerita kepada kamu)” kata Gus Dur kepada Kyai Khusein Ilyas

Namun di sela-sela ingin mulai menceritakan dongeng Gus Dur, Kyai Khusein menanyakan kepada para jamaah, untuk meyakinkan apakah tetap ingin mendengarkan dongengnya.

Baca Juga :  Abdullah bin Umar Ra.: “Dianggap Jelek Karena Tidak Mengamalkan Ayat Lebih Baik dari Memerangi Saudara Sendiri”

uwong lanang nek bojone telu utowo papat, angel kecemplung neroko (seorang laki-laki kalau mempunyai istri tiga atau empat, susah untuk masuk neraka” Gus Dur memulai cerita

mbiyen iku ono ceritone uwong lanang, bojone telu, uwonge cilik (dulu ada cerita lelaki yang mempunyai istri tiga, orang nya kecil)” sambung Gus Dur

Dalam hati Kyai Khusein Ilyas ”wah ngilokno aku iki (waduh nyindir aku ini)”

bareng nek yaumul fasli saat hari keputusan, uwong seng bojone telu iki, wadulane mbok tuek (ketika sampai di hari keputusan, pengadilan akhirat, lelaki yang memiliki istri tiga ini, laporan dari istri pertama)” kata Gus Dur

“Kulo mboten terimo moloikat, kulo niki saklawase urip, atine kulo niki dilarakne karo bojone kulo niki  (aku tidak terima wahai malaikat, aku ini selama hidup, hatiku ini sering disakiti oleh suami aku ini)

“Iyo nek panase serngenge, iso nggo wong akeh, la nek panase ati? (iya kalau hanya sekedar panasnya matahari, bisa untuk orang banyak, kalau panasnya hati?)” celetuk Gus Dur menceritakan tuntunan istri pertama.

‘’ya trus karepno yaopo? (terus mau mu apa?)tanya malaikat kepada istri pertama

sampean cempluake teng neroko, cek ngerasakno panase ati (malaikat masukkan saja ke dalam neraka, supaya dia merasakan bagaimana panasnya hatijawab istri pertama

Dicekel karo moloikat, barang ngono ndadak kepapakan karo mbok nomor loro mbek mbok nomor telu (ketika malaikat sedang membawa lelaki tersebut menuju ke neraka, di jalan bertemu dengan istri yang kedua dan istri yang kedua), kata Gus Dur.

“sampean niki sinten? (anda ini siapa?)tanya istri kedua

Baca Juga :  Nabi Muhammad pun Melakukan Pekerjaan Rumah Tangga

aku moloikat (aku malaikat)” jawab malaikat

la niki ajeng dibeto teng pundi? (terus ini mau dibawa kemana?)” tanya istri kedua

nang neroko (ke Neraka)” jawab malaikat

“Opo sebabe? (apa sebabnya)” tanya istri kedua

ngelarakno ati ne bojone (menyakiti hati istrinya)” jawab malaikat

ancene malaikat gak tau rabi (memang malakat tidak pernah menikah)” sahut istri

Disini malaikat tidak bisa berbicara lagi

ngeten nggeh poro moloikat nggeh, kulo niki bojone mas niki, adik niki nggeh bojone mas niki (jadi begini malaikat, aku ini adalah istrinya mas itu-menunjuk lelaki itu-, adik ini juga adalah istri mas itu” jelas istri kedua

Masio gak digawakno omah, masio gak dibelanjani, masio gak disandangi, dadi bojone tok mawon, kulo mpun maturnuwun (walaupun tidak dibuatkan rumah, walaupun tidak diberikan uang belanja, walaupun tidak dibelikan pakaian, aku menjadi istrinya saja sudah sangat terima kasih)”, sambung istri kedua

wong wedok koyo aku ini ahli suwargo nopo ahli neroko? (Perempuan seperti ini adalah perempuan ahli neraka atau surga?)”

Malaikat menjawab ”wong aku adile, jelas ahli suwargo (karena aku adil, jelas ahli surga)”

lah nek kulo niki ahli suwargo, yoknopo yoknopo bojo kulo ajak teng suwargo (lantas, kalau aku ini ahli surga, mau bagaimanapun, suamiku aku ajak masuk surga)” celetuk Istri lelaki tadi

Malaikat menjawab” yowes sak karepmu!” (ya sudah terserahmu!)

Khususon ilaa Gus Dur dan Kyai Khusein Ilyas lahumul Fātihah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here