Humor Gus Dur; Cara Gus Dur Bersikap Saat Dibilang Kafir

0
1272

BincangSyariah.Com – Konon, cakapnya retorika dan diplomasi adalah aset paling berharga seorang tokoh besar. Kemampuan untuk merespon/menjawab suatu pertanyaan dengan tangkas dan jitu, selain berfungsi sebagai perisai serangan, juga bisa menjadi serangan itu sendiri.

Zaman dimana orang-orang sibuk mendebat diksi dan mengabaikan substansi, menilai baju daripada lelaku, lifeskill tersebut terbukti semakin relevan dan dibutuhkan. Bukan hanya bagi para tokoh, namun harus segera mengarus utama ke akar rumput.

Seni berdialog yang elegan, sistemis dan agak humoris telah dicontohkan Gus Dur pada beberapa kesempatan. Penulis menukil dua riwayat, yang pertama dari buku Islamku, Islammu, Islam Kita karya Edi AH Iyubenu:

“Gus, menurut Islam, bagaimana hukumnya memilih bentuk negara Pancasila daripada negara Islam, khilafah Islamiyah?” tanya seorang tokoh dalam sebuh acara.

Gus Dur balik bertanya, “Menurut siapa dulu? NU atau Muhammadiyah?

“Menurut NU, Gus”

“Ya, boleh. Ndak masalah, bentuk kan hanya washilah, perantara, bukan ghayah, tujuan. Tujuan bernegara untuk keteraturan dan kemaslahatan tercapai, ya sudah. Sudah islami.”

“Kalau menurut Muhammadiyah, Gus?”

“Sama”

Tokoh itu kembali bertanya, “Lalu, bagaimana hukumnya jika kita ndak mematuhi negara Pancasila ini karena kita mengidealkan daulah Islamiyah?”

Gusdur kembali balik bertanya, “Menurut siapa dulu? NU atau Muhammadiyah?”

“Menurut Muhammadiyah, deh, Gus”

“Tentu saja tidak boleh. Negara Pancasila ini kan, hasil kesepakatan founding fathers kita. Melanggar kesepakatan jelas terlarang. Islam mengecam keras perusak janji”

“Kalau menurut NU, Gus?”

“Sama”

Dengan agak kesal karena merasa dikerjai, tokoh itu lantas berkata, “Gus, kenapa sih, dari tadi ditanya versi NU atau Muhammadiyah, padahal jawabannya sama? Buat apa saya disuruh milih kalo gitu?”

Baca Juga :  Keistimewaan Menjadi Muslim di Indonesia

“Kita harus menundukkan perkara pemikiran organisasi para ulama itu dengan benar, Mas. Jangan serampangan..” sahut Gus Dur.

“Serampangan gimana, Gus?”

“Kalau Muhammadiyah, kan, jelas ajarannya merujuk kepada Rasulullah..”

Lha, kalau NU, Gus?” Tukas sang tokoh dengan penuh penasaran.

“Sama”

Riwayat kedua, dari cerita gusdurian Magelang, Agus Mulyadi dalam bukunya Lambe Akrobat. Ketika Gus Dur ditanya bagaimana sikapnya saat dituduh kafir, jawabannya singkat, brilian dan sarat satire: “ya ndak apa-apa dibilang kafir, tinggal baca syahadat lagi jadi Islam lagi…”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here