Hukum Mewarnai Rambut

7
21346

Dalam al-Fiqh al-Manhaji ‘ala al-Mazhab al-Syafi’i, dijelaskan bahwa mewarnai rambut kepala atau jenggot dengan warna hitam untuk mengaburkan uban yang berwarna putih, hukumnya haram. Sementara, mewarnai dengan selain hitam seperti kuning atau merah malah justru dianjurkan.

Dalilnya adalah hadis riwayat Imam Muslim, dari Jabir bin Abdillah Ra., beliau berkata,

أتي بأبي قحافة يوم الفتح، ورأسه ولحيته كالثغامة بياضا، فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: غَيِّرُوا هذا بشيء واجتنبوا السواد

“Abu Quhafah, ayah Abu Bakar, tiba bersama (orang-orang) di Hari Kemenangan (yaum al-Fath, masuknya kembali umat Islam ke kota Mekkah). Rambut dan jenggotnya layaknya tanaman al-tsaghaamah (jenis rumput berdaun putih) yang berwarna putih. Lalu Rasulullah Saw. bersabda: “Ubahlah dengan warna lain tapi jauhi warna hitam!”

Abu Quhafah adalah ayah dari salah seorang sahabat terdekat dan mertua Nabi saw., Abu Bakar As-Shiddiq. Nama asli ayahnya adalah ‘Utsman.

Dalam riwayat lain, tepatnya riwayat Imam al-Tirmidzi dari Abu Hurairah r.a., disebutkan bahwa mengubah warna rambut tidak dengan warna hitam karena itu menyerupai kebiasaan orang Yahudi.

Mengapa tidak boleh berwarna hitam? 

Seperti disebutkan dalam al-Fiqh al-Manhaji, pada dasarnya hikmah dari disyariatkan sesuatu itu tidak terlepas dari tujuan utamanya yaitu murni mengikuti Nabi saw. Artinya, ia bersifat ta’abbudii (murni urusan ibadah). Namun, boleh jadi ada hikmah dilarangnya menghitamkan rambut yang sudah putih. Hikmahnya adalah agar tidak terjadi pengelabuhan bahwa seseorang sebenarnya sudah tidak muda lagi. Karena salah satu isyarat menuanya seseorang adalah berambut putih. Meskipun, itu bukanlah menjadi isyarat mutlak. Ada salah satu syair yang diungkapkan oleh Abu Ishaq al-Ilbiri,

ويقبح بالفتى فعل التصابي * * * وأقبح منه شيخ قد تفتا

Baca Juga :  Bentuk Rambut Nabi

“Buruk sekali seorang pemuda berperilaku kekanak-kekanakan *** lebih buruk lagi orang tua yang merasa masih muda.” 

Sementara, selain warna hitam diperbolehkan karena itu lebih menunjukkan kalau seseorang tersebut memang mewarnai rambutnya. Tapi kalau hitam, boleh jadi orang mengira rambutnya masih hitam seluruhnya. Padahal kenyataannya ia sudah memutih.

Wallahu A’lam

7 KOMENTAR

  1. Begini ustads saya ingin bertanya.
    saya mewarnai rambut saya dengan merah namun saya ingin menggantinya dengan warna lain. Dan setelah saya menggantinya ternyata rambut saya warnanya agak pink dan kuning. Lalu saya ingin merubahnya kembali dengan warna coklat tapi sebelum saya merubahnya, saya menggunakan pirang hitam sebelum mengubahnya kembali menjadi cokelat. apakah saya sangat berdosa besar terhadap Allah ustadz? ini sangat mengganjal hati saya ustadz. Saya takut ini adalah dosa yang tidak akan diampuni oleh Allah. Terimakasih mohon solusinya ustadz

  2. Hm. Cukup bisa difahami dari syair tersebut. Bila yang muda mewarnai rambutnya umpama kekanak-kanakan. Bila mana orang tua mewarnai ramburnya merasa muda kembali….

  3. Jadi ustad kalo rambut yg di warnai pirang, lalu di warnai hitam kembali apa di boleh kan ustad, karna saya sebelumnya blum mengetahui hukumnya?

  4. Asallamu allaikum Pak Ustad q mau Taya ap di perbolehkan klo awaly hitam,tp karena ad rasa penasaran,seperti ap sih klo misalkan rambutq di warnai,tp setelah udah berwarna,ingin rasaya kmbli lg hitam,ap di perbolehkan Pak Ustad klo misalkn q pke semir hitam,at alangkah baikya klo q nunggu yg warna hilang sendiri,tp lama Pak Ustad mohon pencerahanya Pak Ustad biar g terlalu jauhmksih

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here