Sembilan Alasan Kebolehan Merayakan Maulid Nabi

11
2231

BincangSyariah.Com – Memasuki bulan Rabiul Awal (maulud) tentunya kita mengingat sebuah kegiatan besar yang dilakukan setiap tahun oleh mayoritas umat islam di seluruh dunia. Yaitu perayaan maulid atau hari kelahiran baginda Nabi besar Muhammad saw.

Perayaan ini biasanya dilakukan dengan penuh gembira dan sumringah. Mereka berkumpul bersama-sama dalam sebuah tempat  dengan lantunan shalawat dan puji-pujian terhadap baginda Nabi saw. Disamping itu, juga ada zikir, ceramah dan acara makan-makan yang sengaja disiapkan bagi mereka untuk meyambut hari kelahiran Nabi Muhammad Saw.

Bahkan, faktanya jika mereka sedang dalam kondisi finansial yang tidak memungkinkan untuk menyiapkan makanan mulai dari yang ringan hingga ke yang berat terpaksa mereka harus menempuh jalur hutang demi untuk meluapkan kegembiraannya atas kedatangan hari kelahiran manusia terbaik yang telah menjadi rahmat bagi seluruh alam dan seisinya.

Pertanyaannya sekarang, kenapa mereka begitu ngebet merayakan maulid? Adakah alasan yang logis dan mendasar atas semua itu? Jawabannya dapat ditemukan dalam sembilan point penting dibawah ini sebagai pendukung dan dasar atas sikap mereka.

Pertama, perayaan maulid bagian dari bentuk ungkapan dan ekspresi kegembiraan serta kebanggaan kita terhadap Nabi besar Muhammad SAW.

Ungkapan kegembiraan dari sesuatu kenikmatan yang membanggakan bukanlah hal yang hina dan dilarang. Ia boleh-boleh saja bahkan dianjurkan. Apalagi hal itu dilakukan demi luapan kegembiraan dan kebanggaan terhadap satu-satunya manusia pilihan dan terbaik sepanjang sejarah.

Dasarnya jelas dalam al-Qur’an Surat Yunus 58:

قلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ

“Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan”.

Disamping itu, kemanfaatannya jelas bagi yang merayakannya. Abu Lahab saja yang kafir dapat kemanfaatan keringanan siksaan pada setiap hari senin disebabkan ia telah memerdekakan seorang budak yang bernama Tsuwaibah sebagai bentuk bentuk dari ungkapan kegembiraannya atas kabar gembira kelahiran Nabi Muhammad saw. Masa kita sebagai orang islam dan umatnya kalah dari Abu Lahab yang Kafir. (HR. Abdu al-Razzak dalam al-Mushannafnya, juz 7, halama 478)

Baca Juga :  Cara Bijak Imam Sakhawi Menyikapi Perbedaan Tanggal Lahir Nabi

Kedua, perayaan maulid juga telah dicontohkan oleh baginda Nabi Muhammad saw semasa hidupnya.

Beliau semasa hidupnya telah mengagungkan hari kelahirannya dengan berpuasa seabgai bentuk syukur kepada sang pencipta yang telah memberikan nikmat yang sangat luar biasa terhadapnya yaitu berkat kelahirannya dunia dan seisinya menjadi bahagia.

Diriwayatkan oleh Qatadah, bahwa Nabi Muhammad saw pernah ditanya oleh salah seorang sahabatnya kenapa dia berpuasa di hari Senin. Beliau menjawab, saya dilahirkan pada hari itu apakah salah jika saya mengagungkannya dengan cara berpuasa? (HR. Muslim dalam Shahihnya kitab al-Shiyam)

Ketiga, Nabi Muhammad saw punya perhatian yang lebih terhadap ikatan sebuah kejadian keagamaan yang agung dengan waktu tertentu.

Kejadian keagamaan yang sudah berlalu oleh nabi selalu diperhatikan dengan diikatkan pada waktu tertentu. karena datangnya waktu dimana kejadian itu terjadi merupakan sebuah moment penting untuk mengenang dan mengangungkannya.

Lihatlah apa respon Nabi Muhammad saw di saat melihat orang yahudi berpuasa pada hari A’syura’ sebagai bentuk syukur kepada Allah yang telah menyelamatkan nabi Musa dan menenggelamkan musuh-musuhnya. Beliau mengatakan: kalau begitu saya lebih berhak dari kalian” maka dari itu beliau berpuasa dan menganjurkannya pada umatnya.

Selanjutnya, kita bisa berkesimpulan dari perkataan Nabi tentang bentuk keutamaan dan kemuliaan hari Jumat dimana Nabi Adam diciptakan pada saat itu, bahwa mengagungkan dan memuliakan kelahiran seorang Nabi apalagi kelahiran nabi terbaik dan paling mulia merupakan suatu hal yang sangat penting dan tidak dapat dibantah.

Keempat, kelahiran Nabi Muhammad saw menjadi factor pendorong akan anjuran syariat untuk membaca shalawat dan salam

Itu berarti bahwa sesuatu yang menjadi factor pendorong diberlakukannya anjuran syariat juga merupakan bagian dari syariat pula. Lagi pula, betapa banyak keistimewaan bershalawat hingga penapun sekalian takluk untuk menghitung dan menuliskannya.

Baca Juga :  Bahagia dengan Kelahiran Nabi, Abu Lahab Diringankan Siksanya

Kelima, bukankah perayaan maulid menjadi salah satu cara mengenal Nabi Muhammd saw

Kita dituntuk untuk meneladani beliau otomatis kita juga dituntuk untuk mengetahui dan mengenal lebih dalam tentang beliau. Mulai biografinya, sejarah hidupnya, perangainya, mukjizatnya hingga pada ajaran dan nilai-nilai baik yang dibawa oleh beliau.

Tindakan demikian tentunya sangat membantu bagi kita untuk untuk mengenal lebih dalam yang puncaknya agar ia bisa dijadikan teladan hidup sempurna. Disamping juga, pastinya hal itu akan memberikan efek positif terhadap keimanan kita.

Keenam, perayaan maulid sudah menjadi sesuatu yang diyakini baik oleh ulama dan mayoritas kaum muslimin

Kita bisa lihat dari ujung timur hingga ujung barat dunia mayoritas ulama dan umat islam sudah meyakini baik perbuatan perayaan hari kelahiran Nabi Muhammad saw. Hanya ada sebagian kecil saja yang berbeda dari mereka. Jumlahnya sangat tidak sebanding.

Dasarnya jelas, dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dikatakan bahwa sesuatu yang diyakini baik oleh mayoritas umat islam tentunya juga baik oleh Allah swt. Begitu juga sebaliknya. Sesuatu yang diyakini buruk oleh mereka itu juga menjadi buruk bagi Allah swt.

Ketujuh, bukankah perayaan maulid itu tetap dilakukan dengan cara yang positif? Hingga saat ini, perayaan maulid selalu saja diungkapkan dalam bentuk kegiatan yang positif. Seperti perkumpulan yan didalamnya terdapat silaturrahim, zikir, melantunkan puji-pujian, adanya suguhan makanan dan shadaqah  serta lain sebagainya. Bukankah hal ini semua termasuk dari sesuatu yang dianjurkan dan disunnahkan?

Kedelapan, setiap sesuatu yang tidak pernah dicontohkan secara detail oleh Nabi Muhammad saw bukan berarti dilarang dan bid’ah yang menyesatkan.

Kita harus tahu bahwa sesuatu yang tidak pernah dicontohkan oleh baginda Nabi Muhammad saw bukanlah sebuah bid’ah yang diharamkan. Jika ia, berarti proyek-proyek besar yang baru dan tidak pernah dicontohkan oleh baginda Nabi yang dilakukan oleh para sahabtnya seperti pengumpulan dan penulisan al-Qur’an adalah sesuatu yang diharamkan.

Baca Juga :  Masih Selalu Bingung Apa Hukum Merayakan Maulid Nabi? Ini Penjelasannya

Jadi, jelas tidak semua bid’ah atau hal yang baru itu diharamkan. Kita harus melihat, jika ia baik dan memberikan kemaslahatan tentunya boleh-boleh saja dilakukan. Begitu juga sebaliknya. Jika tidak baik dan dapat mendatangkan mudharat berarti ia harus dilarang. Dari itu kita harus sepakat bahwa sejatinya bid’ah itu ada yang baik dan juga ada bid’ah yang buruk.

Kesembilan, perayaan maulid bagian dari cara menghidupkan kenangan-kenangan keagamaan

Bukti nyata dari point ini adalah banyak pekerjaan-pekerjaan ibadah yang dilaksanakan pada waktu haji merupakan tindakan dan bentuk menghidupkan kenangan-kenangan keagamaan. Seperti sa’i diantara shafa dan marwa, melempar jumrah wukuf di mina dan lain sebagainya. Ini semua adalah kejadian-kejadian lama yang selalu saja dihidupkan oleh umat islam disaat melaksanakan haji. Selanjutnya, bukankan perayaan maulid juga tidak ada bedanya dengan hal ini. yaitu bagian dari cara menghidupkan kenangan-kenangan lama. Wallahu A’lam.

(lihat: Haula Al-Ihtifal Bidzikra Al-Maulid Al-Nabawi Al-Syarif, karya al- sayyid Muhammd bin Alawy al-Maliki. Halaman 22-34, Maktabah al-Asriyah-Bairut)

11 KOMENTAR

  1. TUNJUKAN SAHABAT SIAPA YG MERAYAKAN MAULID NABI???

    SEJARAH MENYATAKAN MAULID NABI ITU DI BUAT OLEH ORANG2 SYIAH,
    SEPERTI:
    MAULID ALI
    MAULID HUSAIN
    MAULID FATIMAH
    MAULID IMAM2 SYIAH YG 12.
    DLL.

    MAULID NABI ADALAH BID’AH YG SESAT.

    • Nabi bermaulid dengan cara berpuasa. Kita umat Islam bermaulid dengan cara membaca sirah nabawi, baik sendiri atau disampaikan oleh ulama dalam forum majlis taklim atau tablig.

  2. Kalau dikatakan Nabi merayakan maulidnya dengan berpuasa, kenapa umatnya gak ikutan cara Nabi aja dengan berpuasa setiap hari senin??

    Kalau cuma membaca sirah Nabawi, shalawat, tahlil kenapa harus tunggu sampai bulan Rabi’ul Awal?

    Ulama sejarah tidak bersepakat kapan Nabi dilahirkan, tetapi mereka sepakat bahwa Nabi meninggal pada tanggal 12 Rabi’ul Awal.. Dengan tidak adanya kesepakatan kapan waktu Nabi dilahirkan, maka itu bisa dikatakan bahwa bentuk perayaan pada hari itu tidaklah penting. Kalau hal itu memang sangat penting, niscaya umat Islam mengetahui sejarah kelahiran Nabi dengan jelas sebagaimana peristiwa penting Isra dan Mi’raj, Hijrah ke Madinah.

    Kalau memang perayaan maulid Nabi bagian dari ibadah, tentu sudah ada kesepakatan umat Islam dalam bagaimana melakukan perayaannya karena Nabi pasti mengajarkannya. Sebagaimana Beliau memberikan tuntunan dalam berwudhu, shalat bahkan dalam hal adab masuk WC dan buang air besar. Kenapa perayaan maulid tidak ada tuntunan jelasnya dalam melakukannya? Harus mulai dari melakukan apa? Harus dirayakan dengan bagaimana? Kapan waktunya?

  3. Pertama, berpuasa memang cara nabi merayakan kelahirannya sendiri. Tapi kita ingin merayakan kelahirannya dengan cara yang berbeda yang tentunya tidak dilarang.
    Kedua, namanya perayaan yang dilakukan secara bersama prakteknya ya belum pernah ditemui pelaksanaaanya dalam setiap minggu. Kalo individu ya sangat mungkin.
    Ketiga, ketidak sepakatan ulama dalam tanggal hari kelahiran nabi tidak menghalangi kita untuk berbahagia dengan mengadakan perayaan berdasarkan pendapat mayoritas yaitu pada 12 rabiul awal.
    Keempat, bekerja dengan tujuan menghidupi keluarga bukankah bagian dari ibadah? Kenapa gak ada tuntunan yang jelas dan detail dari nabi terkait pejerjaan waktunya, memulainya, mengakhirinya dan lain sebagainya?. Anda harus tahu bahwa semua perbuatan baik kita adalah bagian dari ibadah kita. Tapi apakah semuanya diatur dengan jelas? Lain ibadah mahdah dengan ibadah ghair mahdah. Perlu anda pahami.

  4. Pertama, berpuasa memang cara nabi merayakan kelahirannya sendiri. Tapi kita ingin merayakan kelahirannya dengan cara yang berbeda yang tentunya tidak dilarang.
    Kedua, namanya perayaan yang dilakukan secara bersama prakteknya ya belum pernah ditemui pelaksanaaanya dalam setiap minggu. Kalo individu ya sangat mungkin.
    Ketiga, ketidak sepakatan ulama dalam tanggal hari kelahiran nabi tidak menghalangi kita untuk berbahagia dengan mengadakan perayaan berdasarkan pendapat mayoritas yaitu pada 12 rabiul awal.
    Keempat, bekerja dengan tujuan menghidupi keluarga bukankah bagian dari ibadah? Kenapa gak ada tuntunan yang jelas dan detail dari nabi terkait pejerjaan waktunya, memulainya, mengakhirinya dan lain sebagainya?. Anda harus tahu bahwa semua perbuatan baik kita adalah bagian dari ibadah kita. Tapi apakah semuanya diatur dengan jelas? Lain ibadah mahdah dengan ibadah ghair mahdah. Perlu anda pahami.

  5. Selama saya hidup, dari kecil sampai sekarang selalu diikutkan acara Maulid Nadi Muhammad SAW. Dari dulu saya melihat acara nya diisi dengan pembacaan salawat Nabi, Membaca Al quran, Ceramah agama dan ditutup dengan Doa. Tidak ada hal yg menyimpang didalam nya, malahan hal yg kita tidak tau tentanh sejaran Nabi Muhammad SAW, menjadi tau, dan makin membuat kita semakin cinta dengan Rasul kita.
    Maaf dengan jawaban saya yg awam ini. Trims

  6. kalau memang suka kerjakan tidak suka diam lebih bijak jangan nyinyir atau membidahkan orang gitu lebih bijak ya toh gitu saja kok repot.

  7. Melihat postingan ini, saya semakin percaya.
    Bahwa maulid adalah bidah.
    Dan Alhamdulillah saya masih meneladani Rasulullah. saya akan puasa senin untuk mengingat kelahiran nabi. Bukan mengikuti perayaan perayaan seperti ini yg tidak pernah diajarkan beliau

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here