Hukum Mengusir Anak Kecil yang Berisik di Dalam Masjid dan Tradisi Bahsul Masail

3
835

BincangSyariah.Com – Apa hukum mengusir anak kecil yang berisik di dalam masjid? Permasalahannya mungkin sederhana, dan ia mungkin saja bisa langsung dijawab tanpa ibarat. Tapi pertanyaan ini menghabiskan waktu hampir 3 jam sampai akhirnya musyawirin Bahsul Masail Pondok Pesantren se Jabodetabek yang diadakan di Darus-Sunnah tiba di satu titik awal sebuah garis kesepakatan.

Apa yang membuat mereka begitu lama membahas sebuah permasalahan, sehingga pertanyaan yang awalnya sederhana menjadi tak lagi sederhana karena ia dikuliti sampai irisan probabilitasnya yang paling tipis? Tiga jam tentu waktu yang relatif singkat kalau kita bandingkan dengan arena Bahsul Masail di peringatan HAUL dan Harlah Pesantren di Jawa Timur, level Munas dan level Muktamar yang bisa menghabiskan waktu berhari-hari.

Islam Madzhab “kanan” atau kaum sekuler mungkin menganggapnya sesuatu yang sia-sia dan memperumit masalah. Ia sia-sia karena apa yang dibicarakan adalah upaya menabrakkan dua dimensi realitas yang sangat berbeda; realitas teks yang memuat seluruh unsur pembentuknya dan realitas empirik di balik kasus yang dibicarakan ataupun orang yang membicarakan. Ahistoris dan tak relevan! Ia juga memperumit masalah karena memang mayoritas manusia hari ini lebih menyukai instan-itas dan produk cepat saji.

Sebagai orang pesantren, tentu kita memiliki paradigma dan horizon penjelasan tersendiri. Bahsul Masail adalah tradisi intelektual pesantren dengan keniscayaan cara-cara berpikirnya yang khas. Kekhasan dalam membahas dan berpikir ini terlihat sejak perdebatan mengenai kepastian soal. Soal, dalam Bahsul Masail diletakkan sebagai obyek yang memiliki lingkar problematika untuk membatasi ibarat dan kesimpulan hukum. Banyak dari kita mungkin yang terlebih dahulu mempersiapkan pisau analisa sebelum tahu karakteristik obyeknya seperti apa. Orang pesantren membaliknya dengan menerapkan metode bahwa “naw’iyatal mawdhu’ tuhaddidu naw’iyatal manhaj”, bukan sebaliknya. Akhirnya, perdebatan mengenai soal pun tak kalah penting dan ramainya dengan perdebatan soal cara menjawabnya.

Dalam pertualangan panjang untuk merumuskan jawaban, seorang bahis merujuk pada teks, ibarat atau dalil lalu berupaya mencari metode terbaik untuk memerasnya dalam bentuk konsekuensi hukum. Realitas teks diletakkan sebagai poros otoritas dan legitimasi argumen karena ia menjadi lumbung dan sumber mata air interpretasi langsung dari dalil-dalil ayat Al-Qur’an maupun Hadis yang diproduksi oleh para ulama yang kredibel dan kapabel. Tak sampai di sana, dalam model ber-bahsul masail manhaji, yang sebenarnya selama ini telah diterapkan, seorang bahis juga mengukur kekinian problematikanya untuk dijadikan pertimbangan dalam mengambil sikap; di posisi mana ia harus memutuskan tali epistemologis dengan realitas teks yang dibaca sekaligus menemukan titik persamaan problematikanya. Di sinilah terkadang keputusan Bahsul Masail terasa “mengkhianati” teks dan keluar dari tekstualitas ibarat.

Dalam Bahsul Masail, para bahis bermain bukan hanya dalam tataran makna yang dikandung sebuah kata; namun menelusup lebih ke dalam untuk menemukan logika dan kerangka referensial di balik terbentuknya sebuah kata, sekaligus terbentuknya relasi kata-makna di dalam ibarat yang diperdebatkan.

Apapun itu, ber-bahsul masail mengajarkan bahwa tidak mudah merumuskan sebuah hukum di bawah payung syariat. Ada musyawarah, proses menghargai dan menghormati pendapat orang lain, menyela dengan argumentatif dan menyelisik argumentasinya sendiri. Banyak dimensi dan unsur yang harus dipertimbangkan, sehingga pintar tak menjadi syarat satu-satunya. Bijak mengambil putusan dan pemahaman yang meluas akan gelanggang diskursus yang menjadi ruang bagi ejawantahan hukum yang akan diputuskan, juga menjadi kebutuhan mutlak yang tidak bisa diabaikan dalam ber-Bahsul Masail.

Mari ber-Bahsul Masail, mari ber-Bhineka Tinggal Ika dan ber-Indonesia!

3 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here