Hukum Mengadakan Peringatan Empat Puluh Harian

19
26692

BincangSyariah.Com – Apa hukum mengadakan peringatan empat puluh harian yang biasa diisi dnegan membaca surah Yasin, bacaan tahlil dan mendoakan kerabat atau keluarga yang sudah wafat? Tema soal bolehkah mengadakan tahlilan dan yasinan di hari tertentu, seperti empat puluh hari tetap masih ada yang mempertanyakan hukumnya. Bahkan ada juga yang mengharamkan karena dianggap bid’ah. Bahkan, Dar al-Ifta’ al-Mishriyyah (Lembaga Fatwa Mesir)  pun pernah mendapatkan pertanyaan serupa. Berikut ini pertanyaannya,

“saya ingin bertanya soal mengadakan peringatan empat puluh hari sesudah wafatnya seseorang. Saya menemukan bahwa di tengah masyrakat muslim Eropa dan di Mesir juga, orang-orang banyak membaca Alquran selama 40 hari dan melakukan peringatan kematian 40 hari pasca wafatnya mayit. Ini berangkat dari keyakinan mereka bahwa ruh mayit masih berdiam di bumi selama 40 hari. Apa pandangan anda soal ini ?”

Berikut ini, adalah jawaban dari Dar al-Ifta’,

Membaca Alquran untuk ruh orang yang sudah meninggal dan menghadiahkan pahalanya, adalah sesuatu yang dibenarkan oleh keumuman dalil dalam syariah. Para ahli fikih/fukaha dari empat mazhab juga sepakat bahwa menghadiahkan pahala bacaan Alquran dari yang hidup kepada yang sudah wafat adalah sesuatu yang sangat bermanfaat bagi mayit di alam kuburnya, ini seperti yang disampaikan Imam al-Qurthubi dalam kitab al-Tadzkirah.

Tidak ada dalil juga yang melarang untuk membacanya di waktu manapun, sebagaimana tidak ada dalil dalam syariah yang malarang mengirimkan pahala membaca Alquran di hari tertentu. Yang dilarang oleh syariat adalah menetapkan hari tertentu, namun disana ditetapkan menjadi hari berkabung kembali (karena ditinggalkan yang sudah meninggal) sehingga kesedihan itu menjadi teringat-ingat lagi, dan berperilaku berkabung seperti di hari pertama seseorang meninggal (al-‘azaa). Karena, Nabi Saw. sendiri sudah melarang untuk berkabung (al-‘azaa) lebih dari tiga hari, agar terhindar dari perasaan berkabung yang tidak kunjung selesai. Sebagaimana, diharamkan juga untuk mengadakan acara empat puluh harian ini, jika keluarga yang bersangkutan sedang kekurangan.

Baca Juga :  Ini Beda Cinta dan Nafsu dalam Tafsir Para Ulama

Sementara soal masih berdiamnya ruh orang yang sudah wafat di bumi sampai 40 hari, adalah perkara gaib yang tidak diketahui kecuali dari dalil dalam syariat. Riwayat yang ada hanya mengatakan bahwa “bumi menangis atas kematian orang beriman selama 40 kali waktu pagi.” Adapun pernyataan bahwa ruh orang yang sudah wafat tetap berada di bumi selama 40 hari, kami tidak mengetahui riwayat yang sahih terkait persoalan ini. Wallahu A’lam

Artikel ini diterjemahkan dari situs resmi Dar al-Ifta’ al-Mishriyyah.

 

 

19 KOMENTAR

  1. Dalam masalah agama tidak dikerjakan jika tidak ada perintah. Sedang urusan dunia boleh dilaksanakan selama tidak ada larangan

  2. Byk hdis yg melarangnya ( selamatan/makan2) d tempat orang yg brduka.islam sd sempurna&mulia dr Alloh SwT n Rosulnya.jadi ter balik tdk mulia tdk sempurna bila d campur dg ke’iman’an agma lain yg jlas tdk d ridoi Alloh SwT.tp memang byk ‘ulama’ yg dg prtimbangan duniawi(materi,gol,kondisi masykt dll)+ hdis2 palsu bahkn ada yg brsumpah brani mati Al-quran&Sunahrosulloh tdk bisa d jlnkan umat islam#.pewaris nabi mestinya plg takut azab Alloh SwT.bila menyimpang/membelokan warisanNYA .meski k.bykan org senang/setuju .krn memang smua nabi&rosul yg m.da’wahkn islam(muslim) pasti akan d tentang masykat yg msh tetap(nyaman) memegang agma nnek moyangnya

  3. Anda hrs byk mencaritahu hdsnya dr manapun tanpa mlihat gol.dgn jujur.insyaalloh ktmu. Blajar Alquran&hds nabi *m.amalkan* nya mgkn smpai mati blm mampu.tapi byk umat islam .blm mmplajari*nya(tdk tahu) akirnya m.amalkn#sinkretisme.byk ayat -2 PRINTAH utk briman&bramal soleh SAAT HIDUP. tp dg #acara2 itu# jd #m.yakini prsangkaan #sbgaimana agama2lain,masalah dunia boleh hal2 yg baru.masalh agama wajib ittaba’ Rosululloh Uswatun HASANAH.makanya mmpelajari*nya* wajib trus dg hati yg jernih bkn dg prtimbangan -duniawi-

  4. Ini artikel udah kasih argumen pendapatnya. Yang komentar enggak setuju kok cuma bilang banyak hadist, suruh nyari tau, nasehatin.

    Kalo enggak setuju sama artikel kasih argumen dan dasarnya aja dulu. Baru melebar ke mana-mana.

  5. Kebanyakan org sok pinter,sukanya ngeritik.tanfa tau dasar ilmunya.ngajinya ngga tapi sok tau kaya ulama.kalo tau ada ikwan yang salah luruskan jangan cuma nyalahin,dirinya sendiri tidak tau.

  6. Kalo ada 2 kakak beradik yg orangtuanya meninggal kakak melakukan tahlilan (karena ajaran dari guru/kyai/ustadznya) trus yg adik tidak melakukan karena banyak hadist2 soheh Rossululloh dan sahabat tidak melakukan.menurut pak Ilham mana yg bener ,kakaknya atau adiknya ?

  7. Lah ini,, muncul lagi salah satu dari 3 kelompok manusia yg ga beres,, al-tsartsaruun… Kali ini Anda dalam versi yg lebih parah dan terlihat bodohnya, ketika para pembual lain (diluar artikel ini) bisa memberi argumen yg sedikit menguatkan walau itu hanya bualan, tp disine jelas sekali anda sangatlah bodoh dan memprihatinkan dengan keterbatasan pengetahuan anda dan besarnya mulut anda tanpa bisa memberi sedikit bukti / dasar yg jelas.. Ups sorry, maksud sy jari anda yg mengetik komentar Anda… Untuk yg lainnya mohon maaf semoga tidak salah faham dg kata2 sy ini, sy yakin saudara2 seiman mengerti untuk siapa komentar sy ini sy lontarkan,

    • Karena di tulisan ini penulisnya mencantumkan tautan dan menyatakan menerjemahkan dari Dewan Mufti Mesir (Dar al-Ifta al-Mishriyyah), silahkan ada uji teks aslinya. Anda jelaskan mana argumennya yang tidak berdasar. Jangan anda menyatakan “jelas sekali” tapi tidak memberikan jawaban apa-apa sebenarnya. Dar al-Ifta’ itu lembaga otoritatif dan masyhur sejak lama

  8. Fastabiqul Khairot aja….
    Berbuat baik tdk mengenal waktu….mendo’akan org yg sudah meninggal itu baik, sedekah kpd org yg mendo’akan keluarga kita juga mungkin tdk salah….asal jangan sampai ngutang yg akhirnya membebani kita, apalagi Krn hanya ingin dipuji riya’ jadinya, Wallohu ‘alam

  9. […] BincangSyariah.Com – Di kalangan masyarakat muslim Indonesia, ketika ada orang yang meninggal, biasanya diadakan acara tahlilan hingga tujuh hari. Pada acara tahlilan ini, yang dibaca adalah sebagian surah Al-Quran, seperti Al-Fatihah, ayat Kursi, dan lainnya, juga terdapat bacaan tasbih, tahlil, shalawat dan lainnya. Dalam acara tahlilan ini, bolehkah orang junub ikut tahlilan padahal orang junub tidak boleh membaca Al-Quran? (Baca: Hukum Mengadakan Peringatan Empat Puluh Harian) […]

  10. tidak ada yg salah dlm memeperingati 40hari wafatnya seseorang,,,HANYA saja sekarang terdapat banyak mudharat d dalam acaranya,contoh,,,seolah2 40hari menjadi hal yg wajib bagi yg berduka karena sudah menjadi adat istiadat,lalu mebaca yasin dgn cepat,,,lalu makan2 dengan hidangan yg berlebihan bahkan membungkus untuk d bawa pulang,,,,yg seharusnya memperingati wafatnya untuk menghibur ahli musibah dan menghadiahkkan si mayit dgn bacaan alquran malah banyak menjadi kegiatan yg menjurus ke bid’ah…karena sudah mendahului adat ketimbang sunnah rasulullah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here