Hukum Berzikir dengan Tarian Sufi

1
1657

BincangSyariah.Com – Tarian sufi yang dikenal juga sebagai “the darvishes whirling” merupakan salah satu jalan di antara banyak jalan untuk menumbuhkan rasa kasih. Tarian ini dipopulerkan oleh kelompok Mevlevi Order yang dipimpin oleh Sang Maestro, Jalaluddin Rumi (1207-1273) ratusan tahun yang lalu.

Tarian sufi tersebut diletakkan dengan ajaran sufistik dalam Islam. Sehingga harapan dari tarian sufi sendiri adalah bisa menggapai kesempurnaan pada imannya, menghapus nafsu, ego dan hasrat pribadi dalam hidupnya. Sebab itu tak jarang dari masyarakat menyebut tarian sufi tersebut sebagai meditasi diri.

Tidak ada dalil khusus dalam Al-Qur’an yang menyebutkan secara implisit tentang tarian yang dilakukan para kaum sufi tersebut, akan tetapi para sufi bersandar pada QS Ali Imran ayat 190-191 yang berbunyi:

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَاب الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِِ

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka”

Menurut Muhammad Jamaluddin Al-Qishi, ayat tersebut menunjukkan bahwa berzikir kepada Allah tidak melihat waktu dan tempat, akan tetapi hati mampu menghadirkan kehadiran Allah pada waktu zikir. Yaitu dengan rasa kedekatan antara seorang hamba dengan Tuhan pada waktu berzikir.

Begitupun dengan Syaikh Nawawi Al Bantani yang menafsirkan bahwa ayat tersebut melukiskan orang yang tidak pernah lalai kepada Allah dalam setiap waktunya untuk menenangkan hatinya dengan berzikir. Adapaun yang dimaksud dengan berzikir di sini adalah mutlak hanya untuk Allah, sama seperti halnya dari segi Zat maupun Sifat dan PerbuatanNya. Nabi bersabda:

Baca Juga :  Hukum Berzikir Menggunakan Tasbih

من احب أن يرتع في رياض الجنة فليكثر ذكر الله

“Barang siapa yang cinta dalam mendapatkan surga-Nya, maka perbanyaklah zikir kepada Allah”

Sayyid Rasyid Ridha dalam tafsir Al Mannar menerangkan bahwa yang dimaksud zikir dalam konteks di atas adalah zikir hati, yaitu menghadirkan Allah dalam dirinya serta memikirkan keutaman dan kenikmatanNya dalam berdiri, duduk, dan berbaring.

Ayat dan hadis yang disebutkan tadi cukup menjadi saksi jika berzikir dengan melalui tarian sufi adalah diperbolehkan. Mereka berputar dalam tarian sebab sesuatu rasa nikmat yang mereka rasakan pada waktu zikir yang timbul dalam hati mereka ketika mengingat Allah. Pada hakikatnya, mereka melakukan seluruh praktek zikir bermuara kepada hadirat Ilahi.



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here