Hubungan Dakwah Rasulullah dengan Dakwah Para Nabi Terdahulu

0
12

BincangSyariah.Com – Dakwah Rasulullah saw. dengan dakwah para nabi terdahulu tergambarkan dalam hadis riwayat Imam al-Bukhari. Dari Abu Hurairah Ra, Rasulullah Saw bersabda, “Perumpaanku dengan nabi-nabi sebelumku seperti seseorang yang membangun suatu rumah lalu dia membaguskannya dan memperindahnya, kecuali ada satu lubang batu bata di salah satu sudutnya.

Lalu manusia mengelilinginya dan mereka terkagum – kagum sambil berkata, “Duh seandainya ada orang yang meletakkan labinah (batu bata) di tempatnya ini.” Beliau bersabda, “Maka akulah labinah itu dan aku adalah penutup para nabi”. (HR. Bukhari).

Mengenai hadis di atas, Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa kesatuan para Nabi ibarat sebuah rumah. Di mana rumah tidak akan sempurna kecuali jika semua unsurnya telah terpenuhi. Dalam hal ini dakwah para nabi itu untuk membimbing manusia ke jalan yang benar seperti sebuah rumah yang telah dibangun pondasi dan ditinggikan bangunannya namun masih ada satu unsur penyempurna yang belum terpenuhi.

Ibnu Arabi menyebutkan bahwa unsur ini sangat penting sebab tanpanya rumah tersebut akan runtuh. Dan di situlah Rasulullah ditempatkan sebagai unsur penyempurna bangunan tersebut yakni sebagai penutup para nabi dan penyempurna syariat-syariat agama sebelumnya.

Kendati Rasulullah berbeda masa dengan para utusan sebelumnya, namun dakwah Rasulullah dengan para utusan Allah memiliki ikatan yang cukup erat.  Mengacu pada hadits di atas, Syekh Ramadhan al Buthi dalam Fiqh Sirah menyimpulkan bahwa hubungan dakwah Rasul dengan dakwah nabi sebelumnya berjalan atas dasar ta’kid (penegasan) dan tatmim (penyempurnaan).

Adapun dakwah para nabi menurut Syekh Ramadhan al Buthi, terdiri dari dua asas. Pertama, akidah. Kedua, syari’at dan akhlak.

Pertama, akidah

Esensi akidah tidak pernah berubah sejak diutusnya nabi Adam hingga era Nabi Muhammad Saw. Semua utusan mengajak umatnya untuk mengimani Keesaan Allah sekaligus membersihkan atau mensucikan Allah dari sifat – sifat yang tidak pantas bagi-Nya. Lalu beriman kepada hari akhir, perhitungan amal, surga dan neraka.

Selain itu para nabi merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan dimana satu sama lain saling terkoneksi. Misalnya setiap utusan  yang datang merupakan pembenaran atas dakwah sebelumnya. Mereka pun diutus ke berbagai umat dengan misi untuk menegaskan satu hakikat, yakni tunduk dan patuh kepada Allah SWT.

Hal ini dijelaskan dalam surat Asy – Syura ayat 13 :

شَرَعَ لَكُم مِّنَ ٱلدِّينِ مَا وَصَّىٰ بِهِۦ نُوحًا وَٱلَّذِىٓ أَوْحَيْنَآ إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهِۦٓ إِبْرَٰهِيمَ وَمُوسَىٰ وَعِيسَىٰٓ ۖ أَنْ أَقِيمُوا۟ ٱلدِّينَ وَلَا تَتَفَرَّقُوا۟ فِيهِ

 “Dia telah mensyariatkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya”.

Syekh Al Buthi menegaskan, tidak mungkin ada perbedaan di antara para nabi dalam hal akidah. Sebab akidah bersifat ikhbar (pengkabaran). Sehingga tidak mungkin ada perbedaan antara satu pengabar dengan pengabar yang lain. Ditambah lagi para pengabar adalah nabi, orang – orang yang sangat jujur dan amanah. Akan menjadi rancu tentunya, apabila satu utusan mengatakan Allah adalah salah satu dari tiga, sementara utusan lainnya mengatakan bahwa Allah adalah Dzat Yang Maha Esa.

Kedua, syariat dan akhlak

Tidak seperti akidah, syariat tidak termasuk dalam kategori ikhbar melainkan insya, yang mana di dalamnya terdapat amalan – amalan yang perlu dikerjakan oleh umat manusia. Karena bersifat insya syariat satu nabi dengan nabi yang lainnya bisa berubah dan berbeda – beda.

Diantara yang memengaruhi perubahan syariat ini adalah zaman  yang terus menerus berkembang dan perbedaan objek dakwah. Dakwah Rasulullah ditujukan untuk seluruh umat manusia di muka bumi, sedangkan nabi – nabi terdahulu diutus hanya kepada umat – umat tertentu. Dengan begitu penerapan syariat menjadi beragam tergantung zaman dan keadaan umatnya.

Nabi Musa as misalnya. Beliau diutus kepada Bani Israil. Pada masa itu untuk mengatur kemaslahatan Bani Israil diperlukan syariat yang sifatnya ketat. Maka syarat yang diterapkan kala itu bukan bersifat

Berbeda halnya dengan Nabi Isa as, kendati sama – sama diutus untuk Bani Israil, namun karena perkembangan zaman serta kondisi masyarakat sekitar yang sudah berubah maka syariat Nabi Isa bersifat lebih renggang tidak seketat syariat Nabi Musa.

وَمُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَىَّ مِنَ ٱلتَّوْرَىٰةِ وَلِأُحِلَّ لَكُم بَعْضَ ٱلَّذِى حُرِّمَ عَلَيْكُمْ

“…Dan (aku datang kepadamu) membenarkan Taurat yang datang sebelumku, dan untuk menghalalkan bagimu sebagian yang telah diharamkan untuk mu…” (QS. Ali Imaran : 50)

Ayat di atas menjelaskan bahwa Nabi Isa membenarkan serta menegaskan kembali (ta’kid) mengenai hal – hal menyangkut akidah yang tertera dalam kitab Taurat tanpa ada perubahan. Namun dalam hal syariat dan hukum halal haram terjadi beberapa perubahan seperti penyederhanaan ataupun penghapusan beberapa hukum yang memberatkan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here