Hubungan Antara Cinta dan Sifat Malu

0
697

BincangSyariah.Com – “Ketika aku jatuh cinta, aku merasa malu terhadap semua.
Itulah yang dapat aku katakan tentang cinta

Dulu dia mengusirku, sebelum belas kasih pun turun ke hatinya dan memanggil. Cinta telah memandangku dengan ramah pula

Cinta bagai perantara yang menaruh kasihan, datang memberi perlindungan pada kedua jiwa yang sesat ini
Menangislah seperti kincir angin, rumput-rumput hijau mungkin memancar dari taman istana jiwamu.

Jika engkau ingin menangis, kasihanilah orang yang bercucuran air mata, jika engkau mengharapkan kasih, perlihatkanlah kasihmu pada si lemah”

Bait tersebut merupakan untaian puisi indah Jalaluddin Rumi. Beliau berbicara suatu sifat malu yang selalu dihubungkan dengan cinta (mahabbah), sekaan beliau tidak bisa lepas dengan cinta, karena menurutya cintalah yang mengantrakan segalanya.

Rumi menjelaskan bahwa dengan cintalah ia bisa memiliki sifat malu. Dan sebab sifat inilah gejolak birahi dapat diredam bahkan potensinya dialihkan, baik birahi wanita, tahta, dan lainnya. Karena sifat malu hanya dapat dilakukan oleh seseorang jika ia mampu menundukkan dirinya kepada Tuhan. Dan sifat malu inilah yang merupakan pintu utama untuk memasuki ruangan-ruangan asrar Tuhan yang paling dalam.

Dalam hadisnya Nabi Muhammad Bersabda:

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ قَالَ أَخْبَرَنَا مَالِكُ بْنُ أَنَسٍ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ سَالِمِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَّ عَلَى رَجُلٍ مِنْ الْأَنْصَارِ وَهُوَ يَعِظُ أَخَاهُ فِي الْحَيَاءِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَعْهُ فَإِنَّ الْحَيَاءَ مِنْ الْإِيمَان

“Telah menceritakan kepada kami [Abdullah bin Yusuf] berkata, telah mengabarkan kepada kami [Malik bin Anas] dari [Ibnu Syihab] dari [Salim bin Abdullah] dari [bapaknya], bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berjalan melewati seorang sahabat Anshar yang saat itu sedang memberi pengarahan saudaranya tentang malu. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tinggalkanlah dia, karena sesungguhnya malu adalah bagian dari iman”.

Baca Juga :  Tiga Tingkatan Cinta dalam Sufisme

Hadis ini sesuai dengan rangkaian puisi Rumi, bagaimana ia menyatakan rasa malunya karena dipenuhi cinta, cinta yang berangkat dari keimanan. Sebab itu orang yang tidak memiliki rasa malu maka seperti keihilangan kendali dalam kehidupannya. Ia melakukan apapun demi hasrat dan birahinya, tidak akan peduli apapun yang yang terjadi, asalkan ia dapat menuntas segala keinginan hatinya, pikirannya bahkan keinginan hawa nafsunya.

Rangkaian puisi Rumi, dari bait pertama sampai bait keempat, antara malu dan cinta adalah sebuah keterpaduan, malu berangkat dari cinta, cinta berangkat dari iman, dengan malu iman terjaga, karena hakekat malu adalah ihsan, dan ihsan selalu merasa diawasi oleh Tuhan. Senada dengan firman Alllah dalam QS Al-‘Alaq ayat 14:

أَلَمْ يَعْلَمْ بِأَنَّ اللَّهَ يَرَىٰ

“Tidaklah dia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah melihat segala perbuatannya?”



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here