Historiografi Naskah Hadis di Masyarakat Banjar

0
423

BincangSyariah.Com- Mayoritas pakar sejarah hampir sepakat berkesimpulan bahwa Islam yang datang ke Nusantara pada permulaan abad ke-13 bercorak sufistik (Johns: 1961) (Azra, 2002) (Muhajirin: 2009). Hal ini dibuktikan dengan banyaknya warisan intelektual ulama Nusantara dalam kajian tasawuf yang beraneka ragam coraknya.

Secara kronologis, ulama yang pertama kali merintis penulisan kitab tasawuf dalam tulisan Jawi adalah Hamzah al-Fansuri dengan karyanya Sharah al-‘Ashiqin. Model tasawuf yang dikembangkan oleh al-Fansuri dan muridnya Shamsudiin al-Sumatrani ini, cendrung kepada model tasawuf falsafah dengan aliran wujudiyah yang dikembangkan oleh Ibn ‘Arabi ( w. 1240 M), Abu Mansur al-Hallaj (w. 922 M), dan tokoh sejenisnya.

Sedangkan dalam kitab lainnya, Asrar ‘Arifin karangan al-Fansuri dan Jawhar al-Haqa’iq karya al-Sumatrani, dominasi paham wujudiyah-nya yang sangat kental dan begitu mendominasi. Namun paham ini mendapat penolakan dari tokoh tasawuf neo-sufisme sesudahnya, semisal Nur al-din al-Raniri, ‘Abd al-Ra’uf Singkel dan Yusuf al-Makassari. (Khader: 2007, 98-99).

Hal yang sama juga terjadi di masyarakat Banjar. Pola keislaman masyarakat Banjar juga sangat identik dengan nuansa sufistik. Pada awal abad 17 sampai awal abad ke-18 M islamisasi terjadi lewat corak sufistik, tepatnya tasawuf falsafi.

Sederet nama sufi yang tercatat punya andil dalam proses islamisasi bercorak sufistik tersebut tak asing lagi di dunia tarekat. Semisal Syeikh Ahmad Shams al-Din al-Banjari di Martapura, Syeikh Siraj al-Huda atau Datu Sanggul, Datu Suban, dan Datu Nurayya yang berada di Kawasan Rantau. Di Daerah Negara dilakukan oleh Syeikh Muhammad Tahir, atau Datu Negara. Di Margasari dilakukan oleh Syeikh Yusuf Khair (Noor: 2002).

Konon, dalam tradisi lisan masyarakat Banjar, ada tokoh sufi yang dikenal bernama Abdul Hamid Abulung. Ia adalah tokoh sufi yang senasib dengan al-Hallaj yang dieksekusi mati karena paham panteistik yang dianutnya. Versi populer ia dieksekusi mati oleh kerajaan berdasarkan fatwa yang dikeluarkan oleh Syeikh Arsyad al-Banjari yang dianggap sesat dan menyesatkan.

Menurut Asywadi Syukur yang dikutip oleh Mujiburrahman (2013) menyatakan bahwa pernyataan ini tercermin dari fatwa yang dikeluarkan Arsyad al-Banjari yang tertulis dalam kitab Tuhfat al-Raghibin, “tiada syak pada wajib membunuh dia karena murtadnya. Dan membunuh seumpama orang itu terlebih baik daripada membunuh seratus kafir yang sah”.

Yang menarik, menurut Steenbrink (1984) cerita Abulung ini merupakan cerita  al-Hallaj versi Banjar, sedangkan cerita al-Hallaj versi Jawanya adalah cerita Syeikh Siti Jenar.

Kesimpulan Steenbrink bisa jadi benar dan bisa juga kurang tepat. Sebab selama ini cerita Abulung adalah kisah yang turun temurun yang dikisahkan secara lisan.

Walaupun demikian, di sebuah desa di kawasan desa Sungai Batang Martapura Barat terdapat makamnya. Terlepas dari perdebatan keberadaannya, Syeikh Arsyad memang tidak sependapat dengan paham tasawuf semacam itu.

Historiografi Hadis Menyebar Lewat Paham Neo-sufisme

Muhajirin (2009) dalam penelitiannya menyatakan bahwa ketidakpesatan kajian hadis para ulama Nusantara tersebut tidak bisa dilepaskan dari faktor historisnya, ia menyebutkan secara historis memang Islam Indonesia pada mulanya menganut paham bersifat sufistik.  Sehingga tidak mengherankan jika pada masa awal-awal Islam di Nusantara banyak dijumpai literatur-literatur sufistik yang beredar di masyarakat lokal. Begitupula dengan materi fikih yang senantiasa disajikan kepada masyarakat lokal yang berujung kepada taqlid dengan empat imam besar, terutama al-Shafi’i.

Baca Juga :  Amalan-amalan untuk Merayakan Maulid Nabi

Kajian tasawuf dan fikih pada masa awal Islam Nusantara ini terus berkembang dan diajarkan kepada generasi penerusnya, imbasnya ungkap Azyumardi Azra (2002) adalah kedua ajaran tersebut berkembang menjadi sebuah doktrin yang terpatri tanpa harus dikaji dan diolah kembali.

Kajian Hadis pada masa awal Islam di Nusatara menyatu dengan kajian-kajian tasawuf, fikih, dan tauhid. Kadang hadis hanya menjadi sebuah legitimasi paham-paham keagamaan yang ditawarkan oleh ulama Nusantara. Kajian-kajian semisal sharh hadis, kritis terhadap kualitas hadis yang ditulis secara mandiri belum ada, yang ada hadis hanya masuk dalam pembahasan keilmuan lainnya dalam Islam.

Secara keilmuan, karya-karya ulama Nusantara pada kajian tasawuf sangat dominan. Fauzi Deraman  (1998) menyatakan bahwa pada abad ke XVII adalah masa keemasan dibidang tasawuf ini. Tradisi intelektual keislaman oleh Jama‘at al-Jawiyin yang dituangkan dalam karya-karya mereka tentunya memuat beberapa hadis.

Posisi hadis dalam karya mereka menempati ragam posisi, bisa menjadi penjelas, penguat argumen, atau bahkan membantah tradisi budaya yang bertentangan dengan Islam.

Azyumardi Azra (2002) menyebut fenomena perpaduan kajian tasawuf dengan syariah yang berlandaskan al-Qur’an dan menjadikan hadis-hadis sebagai sumbernya disebut dengan istilah neo-sufisme, paham ini bukanlah paham yang baru dalam kajian Islam, al-Ghazali  (w. 1111 M) adalah pelopor model kajian ini yang dituangkan dalam beberapa karyanya, salah satunya adalah Ihya ‘Ulum al-Din.

Kecendrungan paham neo-sufisme inilah yang membuat proses penyebaran hadis di Nusantara secara tidak langsung ikut tersebar juga melalui proses ini. Asumsi ini diperkuat dengan temuan Khader (2007) dalam risetnya yang menemukan bahwa kitab tasawuf karya ‘Abd al-Samad al-Falimbani dengan judul Hidayat al-Salikin memuat 176 hadis.

Secara afiliasi mazhab, kitab ini merupakan kiblat dari paham yang dikembangkan oleh al-Ghazali. Dari data hadis tersebut, secara kualiatas ia menjelaskan terdapat 57 hadis yang Sahih, 10 hadis hasan, 60 hadis da‘if, 3 hadis mawdu‘, 22 hadis mukhtalaf, dan sebanyak 24 hadis yang tidak ditemukan sumbernya.

Riset Khader (2007) ini di satu sisi mengungkap status hadis yang ada dalam kitab tasawuf ulama Nusantara, namun di satu sisi juga memberikan argumen bahwa semua karya kitab tasawuf ulama Nusantara itu pasti mengutip beberapa hadis, kendati status hadisnya masih dipertanyakan.

Kalimantan Selatan sebagai salah satu provinsi yang entitas kemuslimannya terbesar di Indonesia sebenarnya sangat kaya akan pemikiran dan produk karya-karya dari ulama terdahulu. Namun ‘warisan intelektual’ itu masih berserakan dan masih belum ada peneliti yang berminat melakukan kajian serius. Seringkali penelitian yang dilakukan di Kalimantan Selatan hanya berkisar pada asal-usul (sejarah) wilayah, potensi alam dan pergerakan politiknya.

Setidaknya ada dua penelitian yang bisa dikatakan fokus mengkaji peninggalam warisan intelektual ulama Banjar dalam kajian hadis. Pertama penelitian yang dilakukan oleh Rahmadi & Husaini Abbas (2012) yang berjudul Islam Banjar: Genealogi dan Referensi Intelektual dalam Lintasan Sejarah. Penelitian ini hanya menyebutkan beberapa ulama Banjar yang meninggalkan warisan karya tulis di bidang hadis. Namun penelitian ini kemudian sangat memberikan kontribusi bagi penelitian selanjutnya yang dilakukan oleh Saifuddin, Dzikri Nirwana, dan Bashori (2013) yang menganalisis konten dari karya-karya ulama Banjar.

Baca Juga :  Mengenal Sosok Guru Sekumpul, Haul Beliau ke-14 Dilaksanakan Mulai Hari Ini

Dalam konteks Kalimantan Selatan, perkembangan hadis pada masa Islam menjadi agama resmi kerajaan Banjar juga tidak begitu terlihat. Kendati menjadi agama resmi, menurut Azyumardi Azra kepatuhan masyarakat Banjar terhadap Islam kala itu tidak lebih dari pengucapan syahadah saja. Adalah Muhammad Arsyad al-Banjari (1710-1812 M) yang disebut Azra sebagai tokoh pembaharuan Islam di Kalimantan Selatan yang begitu berjasa dalam proses perubahan sikap keberagamaan itu. Karya-karyanya seperti sabil al-Muhtadin dan Tuhfah al-Raghibin menjadi pedoman sekaligus referensi berislam yang sangat penting kala itu.

Lebih jelasnya Mujiburrahman menyebut bahwa perannya begitu penting dalam mengubah pola keberagamaan masyarakat yang dulunya masih terpengaruh dengan budaya masa lalu, seperti menyanggar, mambuang pasilih dan tradisi yang sangat kental dengan nuansa kesyirikannya perlahan dihilangkan dengan cara pendekatan yang efektif.

Sedangkan hadis-hadis yang terdapat di kitab sabil al-muhtadin Jumlah hadisnya dalam kitab ini sebanyak 223 hadis dengan keterangan 167 Sahih, 21 Hasan, 21 Da‘if, 1 Da‘if Jiddan, 7 Mauquf, 1 Maqtu‘, 5 belum diketahui. Data ini diambil dari penelitian yang dilakukan oleh Abdul Majid [2007]. Riset Majid ini perlu dikoreksi kembali, sebab penghitungan yang dilakukan oleh Majid ini melupakan hadis-hadis yang ditulis Arsyad al-Banjari dalam bentuk bahasa Arab Melayu.

Karya-karya tulis Arsyad al-Banjari lebih dominan tentang kajian fiqh, tauhid dan tasawuf. Sehingga karyanya di bidang hadis murni hampir bisa dikatakan tidak ada. Hadis-hadis hanya menjadi pragmen dalam kitab-kitab fikih, tauhid dan tasawuf, tidak dibahas secara mandiri dan terpisah.

Kendati karya-karya Muhammad Arsyad al-Banjari bukanlah karya hadis murni, tetapi muatan-muatan hadis di dalamnya guna menopang argumen yang ia kemukakan begitu penting untuk dilihat guna menemukan model pemahaman hadis yang ia kembangkan. Tekstual atau kontekstual dalam memposisikan hadis kala bersinggungan dengan budaya serta tradisi masyarakat Banjar kala itu yang masih didominasi paham animisme dan dinamisme kendati sudah memeluk agama Islam.

Ulama Banjar dan Warisan Intelektualnya dalam Bidang Hadis dan Ilmu Hadis 

Karya hadis murni dari ulama Banjar sebenarnya baru mulai dibukukan pada tahun 1887. Menurut rekaman sejarah orang pertama yang menulis karya di bidang hadis adalah Muhammad Kasyful Anwar al-Banjari (1887-1940 M)  dengan judul al-Tibyan al-Rawi; Sharh Arba‘in al-Nawawi.

Tradisi penulisan kitab hadis mulai terlihat pasca Kasyful Anwar al-Banjari [w. 1940 M] dengan hadirnya beberapa kitab karya Ulama Banjari lainnya seperti yang ditulis oleh Muhammad Sya’rani ‘Arif al-Banjari (1914-1969) dengan judul Hidayah al-Zaman min Ahadith Akhir al-Zaman, dan Tanwir al-Tullab fi Mustalah al-Hadith dan Tanwir al-Tullab untuk kajian dirayah. Keilmuan Sya’rani ‘Arif dalam bidang hadis sangat populer ketika dia berada di Mekkah kala menuntut ilmu, sehingga dengan kepakarannya di bidang hadis, dia mendapat gelar mufassir dan muhaddith.

Generasi Ulama Banjar dalam pakar hadis kiranya tidak putus sampai di situ saja, adalah Muhammad Syukeri Unus al-Banjari (1947- masih hidup) yang melanjutkan tradisi penulisan kitab hadis. Karyanya di bidang hadis adalah 40 Hadis Kelebihan Ilmu dan Ulama (Hadith al-Arba‘in fi al-‘Ilm), dan Dalil al-Talibin fi Asma al-Rijal tentang ‘ilm hadith. Syukeri Unus al-Banjari adalah ulama yang terkenal memiliki isnad keilmuan yang banyak.

Baca Juga :  Habib Idrus bin Salim Al-Jufri dan Syair Kemerdekaan Indonesia

Tradisi intelektual ulama Banjar di bidang hadis terus berlanjut, adalah Ahmad Fahmi Zamzam al-Nadwi al-Banjari (1959-masih hidup) yang banyak menulis karya di bidang hadis. Karya-karyanya adalah 40 Hadis Peristiwa Akhir Zaman, 40 Hadis Akhlak Mulia, 40 Hadis Penawar Hati, dan 40 Hadis Kiamat Hampir Tiba.

Hal yang sama juga dilakukan oleh ulama Banjar yang lain, adalah Nurdin Marbu al-Makki al-Banjari (1960-masih hidup) ulama yang produktif dalam menulis, tulisan-tulisan beliau berbentuk tahqiq, ta’liq terhadap kitab-kitab klasik, dan ada juga yang tulisan murni darinya. Karya-karya dibidang hadis sangat banyak, diantaranya: Adab al-Mushāfahah, al-‘Ibar bi Ba‘d Mu’jizāt Khayr al-Bashar, al-Ahādīth al-Musalsalah, al-Amr bi al-Ma‘ruf wa al-Nahy al-Munkar fi Kitab wa al-Sunnah, al-Iqtibas min Ahadith ‘Abd ibn ‘Abbas, al-Kawākīb al-Dūrī min Hadīth Abī Sa’īd al-Khudrī, al-Maskh fi Kitab wa al-Sunnah, al-Riddah fi Kitab wa al-Sunnah, al-Yaqīn, Asmā’ al-Thālib bi ba’dh Ahādīth Sayyidinā ‘Alī ibn Abī Tālib, Bingkisan Perpisahan 40 Mutiara Hadis dari 40 Buah Kitab, Fayd al-Ilāh min Ahādīth al-Jabīr ibn ‘Abd Allāh, Hā’ulā’ fī Sahābah Malā’ikah al-Kirām ‘alayhim al-Salām, Hā’ulā’ lā Tamassuhum al-Nār Yawm al-Qiyāmah, Hā’ulā’ Lahum Buyūt wa Qushūr fī al-Jannah, Istila‘ Ara’ al-‘Ulama Hawl Qawluh saw Lan Yuflih Qaum wallaw Amrahum Imra’ah, Majāl al-Sadaqah fī al-Islām, Makānah al-‘Ilm wa al-‘Ulamā wa Adab Tālib al-‘Ilm.

Ulama Banjar yang terakhir yang terdeteksi mempunyai karya di bidang kajian hadis adalah Abdul Wahid al-Banjari (1949-masih hidup). Ulama yang lama menimba ilmu di Mekkah ini menulis karya hadis dengan bahasa arab murni dengan judul lengkap Tadhkirah al-Lisan min al-Ahadith al-Mawdu‘at ‘ala Sayyid al-Bashar. Sesuai dengan nama kitabnya, fokus kajian kirab ini adalah ‘ilm al-hadith tentang hadis-hadis mawdu‘.

Kekayaan intelektual ini merupakan warisan ulama Banjar yang sangat penting dikaji secara mendalam dan serius dengan beragam pendekatan keilmuan. Bahkan bukan hanya itu saja, sebagai peneliti atau pengkaji hadis sudah saatnya kita aktif turun ke bawah untuk mencari karya-karya hadis yang ditulis oleh ulama Indenesia lainnya di kawasan yang lain. misalnya di Jawa, Sumatera, Sulawesi, dan lain sebagainya.



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here