Hirarki Kosmos dan Negara Para Wali Allah

0
3440

BincangSyariah.Com – Persoalan yang sering dibahas oleh para teoretikus mistisisme Islam (Ibnu Khaldun dalam Syifa as-Sa’il menyebutnya sebagai al-mutasawwifah al-mutakallimun) dalam berbagai karya mereka ialah soal hirarki wujud dan implikasinya bagi tatanan kosmos.

Hirarki wujud ini biasanya diisi oleh para wali pada setiap tingkatannya yang tanpa adanya mereka, tatanan semesta ini akan hancur.

Dengan kata-kata lain, semesta ini berjalan seperti apa adanya melalui keberkahan yang disebarkan oleh para wali. Adanya hujan, tumbuhnya tanaman, berkembangnya tumbuh-tumbuhan, bergelombangnya ombak dan lain-lain merupakan hasil kreatifitas para wali. Jika tidak ada mereka, kosmos atau tatanan semesta ini akan hancur.

Begitulah kesimpulan singkat jika kita membaca penjelasan poin ini dalam kitab Kasyful al-Mahjub karya al-Hujwairi. Untuk lebih memperjelas, kita bisa membaca sendiri kutipan berikut ini:

جعلهم الله أولياء العالم…حتى إن الأمطار تمطر من السماء ببركتهم وينبت النبات من الأرض بصفاء أحوالهم وينتصر المسلمون على الكفار بهمتهم.

“Allah menjadikan mereka wali-wali semesta…hujan turun dari langit karena berkah dari mereka, tumbuh-tumbuhan tumbuh dengan mekarnya di atas tanah karena kesucian hati mereka, dan kaum muslim menang melawan kaum kafir karena kehendak mereka pula.”

Bayangkan melalui kutipan ini, tatanan alam semesta ini seolah akan hancur dan rusak  kalau tidak ada wali. Hal demikian sama seperti halnya negara yang hancur jika tidak ada pejabat yang mengurus dan tentara yang menjaganya.

Singkatnya, tatanan kosmos para wali hampir mirip dengan hirarki dalam suatu negara. Jika para penganut tasawwuf berbeda pendapat soal jumlah pasti para wali Allah di dunia ini dan juga berbeda pendapat soal susunan tingkatannya, mereka tetap memiliki titik temu dalam soal struktur umum ‘negara kebatinan semesta’ di mana mereka letakkan Waliyy al-Awliya ‘Walinya Para Wali’- atau yang sering disebut juga sebagai al-Qutb dan al-Ghouts – di ujung hirarki teratas.

Kemudian posisi di bawahnya diisi oleh para wali lain yang lebih rendah derajatnya dan yang memiliki nama-nama unik mulai dari puncak hirarki piramida tertinggi sampai ke posisi piramida terendah. Hal demikian sama persis dengan tingkatan pangkat para pegawai negeri atau  pejabat dalam negara.

Abu Bakar Muhammad bin Ali bin Ja’far al-Kattani (w 322 H) yang merupakan sosok sufi Baghdad dan pernah belajar kepada al-Junaid dan an-Nuriy menjadikan struktur hirarkis negara para wali ini sebagai berikut; pertama, al-Ghouts; kedua, Imad yang berjumlah empat anggota dewan wali; ketiga,  akhyar yang berjumlah tujuh anggota dewan wali; keempat, abdal yang berjumlah empat puluh anggota dewan wali; kelima, nujaba yang berjumlah tujuh puluh anggota dewan wali, dan terakhir; keenam, nuqaba yang berjumlah tiga ratus anggota dewan wali.

Baca Juga :  Tradisi Mendoakan Arwah Leluhur dalam Bulan Sya’ban

Nama-nama ini merupakan istilah tersendiri yang digunakan oleh para teoretikus tasawwuf (mutasawwifah mutakallimun) untuk menunjukkan posisi hirarkis tertentu dari atas sampai bawah yang disandang nama-nama bersangkutan.

Selain itu, masih menurut al-Kattani, mereka juga memiliki tempat tinggal atau alamat rumah di dunia ini. Hal demikian seperti yang dijelaskan oleh as-Sya’rani dalam at-Tabaqat al-Kubra mengutip dari al-Kattani sendiri:

فمسكن النقباء في المغرب ومسكن النجباء في مصر ومسكن الأبدال في الشام والأخيار سياحون في الأرض والعمداء في زوايا الأرض ومسكن الغوث مكة. فإذا عرضت الحاجة من أمر العامة ابتهل فيها النقباء ثم النجباء ثم الأبدال ثم الأخيار ثم العمداء ثم أجيبوا وإلا ابتهل الغوث، فلا يتم مسألته حتى تجاب دعوته.

Tempat tinggal Nuqaba di Maroko, tempat tinggal Nujaba di Mesir, tempat tinggal Abdal di Syam, tempat tinggal Akhyar selalu berpindah-pindah tempat di berbagai belahan bumi dan tempat tinggal Umada di berbagai pojok bumi ini. Sementara itu, tempat tinggal atau alamat rumah al-Ghouth sendiri ialah di Mekkah.

Jika ada seseorang yang memiliki hajat dan berdoa, maka Nuqaba juga mendoakan orang tersebut disusul secara urut oleh Nujaba, Abdal, Akhyar dan Umada. Lalu terijabahlah doa yang bersangkutan.

Jika doa tersebut belum terkabulkan juga, maka al-Ghouts sendiri yang akan mendoakannya. Jadi tidak ada permintaan doa kecuali akan selalu diijabah oleh Allah [melalui berkat wali-pen].”

Al-Hujwairi memiliki kalkulasi lain yang berbeda dengan al-Kattani. Al-Hujwairi mengkalkulasi bahwa:

أربعة آلاف وهم المكتومون ولا يعرف أحدهم الآخر…وهم في كل الأحوال مستورون عن أنفسهم وعن الخلق…أما أهل الحل والعقد وقادة حضرة الحق…فثلاثمائة يدعون الأخيار وأربعون آخرون يسمون الأبدال وسبعة آخرون يقال لهم الأبرار وأربعة يسمون الأوتاد وثلاثة آخرون يقال لهم النقباء وواحد يسمونه القطب أو الغوث، وهؤلاء جميعا يعرفون أحدهم الآخر ويحتاجون في الأمور لإذن بعضهم البعض.

Ada empat ribu para wali. Mereka semua tersembunyi dan tidak mengenal satu sama lain…dalam berbagai kesempatan, mereka tetap tidak diketahui baik oleh dirinya sendiri maupun oleh orang lain…

adapun Ahli Hal wa al-Aqd dan para pimpinan yang terdekat dengan Yang Maha Benar…berjumlah tiga ratus wali yang disebut sebagai akhyar, empat puluh wali lainnya yang disebut sebagai Abdal, tujuh wali lainnya yang disebut sebagai Abrar, empat wali lain disebut Autad, tiga anggota dewan wali lainnya disebut Nuqaba dan ada satu lagi yang disebut al-Qutb atau al-Ghauts.

Mereka semua saling mengenal satu sama lainnya. Dan selalu meminta izin ke yang lain jika ingin melakukan sesuatu. ”

Baca Juga :  Mereguk Cinta Ilahi dalam Tasawuf Rumi

Dari dua pandangan mengenai jumlah para wali dan struktur hirarkis yang masing-masingnya disampaikan al-Kattani dan al-Hujwairi di atas, timbul sebuah pertanyaan, apa basis keagamaan yang melandasi struktur hirarkis tersebut berikut nama-nama yang menempati masing-masing jabatan strategis dalam negara para wali?

Al-Hujwairi menjawab bahwa justru struktur hirarkis para wali ini ada landasannya dalam hadis. Karena itu, dalam Kasyful Mahjub, al-Hujwairi menegaskan:

والأخبار المروية ناطقة بهذا وأهل السنة مجتمعون على صحة هذا.

Banyak riwayat  hadis yang menjelaskan tentang ini. Bahkan, Ahlu Sunnah pun bersepakat soal keabsahan urutan tingkatan para wali tersebut.”

Tentu jika ahli tawassuf berbicara masalah hadis, yang akan mereka kemukakan ialah hadis yang mereka terima secara kasyfi, bukan hadis yang ada dalam kitab-kitab terkenal seperti kutub sittah. Untuk itu, kita coba lihat terlebih dahulu hadis yang dijadikan sandaran dalam pembagian jabatan para wali ini berikut tingkatan jabatannya:

Sesungguhnya Allah SWT memiliki tiga ratus wali di kalangan manusia yang qolbunya tertambat kepada qalbu Adam, empat puluh wali yang qolbunya tertambat kepada Musa,  tujuh wali yang qolbunya tertambat kepada Ibrahim, lima wali yang qolbunya tertambat kepada Jibril, tiga wali yang qolbunya tertambat kepada Mikail, dan seorang wali (al-ghouth) yang qolbunya tertambat kepada Israfil.

Jika mati satu, Allah akan menggantikan posisinya dari tiga anggota dewan wali. Jika dari yang tiga, mati satu, Allah akan menggantikan posisinya dengan salah satu dari lima anggota dewan wali. Jika dari yang lima, mati satu, Allah akan menggantikan posisinya dengan memilih salah satu dari yang beranggotakan tujuh wali.

Jika dari yang tujuh, mati satu, Allah akan menggantikan posisinya dengan memilih salah satu dari yang beranggotakan empat puluh. Jika dari yang empat puluh, mati satu, Allah akan menggantikan posisinya dengan memilih salah satu dari yang beranggotakan tiga ratus wali.

Jika dari yang tiga ratus ini, mati satu, Allah akan menggantikan posisinya dengan memilih salah satu manusia [yang akan naik menjadi wali]. Melalui mereka, Allah menghidupkan, mematikan, menurunkan hujan, menumbuhkan tanam-tanaman dan menolak segala macam bencana.

Para periwayat hadis dari kalangan sufi juga menambahkan terkait bagaimana para wali ini bekerja:

Baca Juga :  Manfaat Puasa Perspektif Medis

Ditanyakan kepada Ibnu Mas’ud, bagaimana Allah menghidupkan dan mematikan melalui mereka? Jawabnya, mereka meminta kepada Allah untuk memperbanyak penduduk bumi lalu Ia perbanyak jumlahnya. Mereka meminta agar para tirani disingkirkan, lalu Allah binasakan mereka.

Mereka meminta diturunkan hujan, lalu Allah pun menurunkan hujan. Mereka meminta ditumbuhkan tumbuh-tumbuhan, lalu Allah pun mengambulkan mereka. Melalui mereka pula, Allah menolak segala macam bencana.”

Meski memang ada tingkatan para wali yang mengurusi semesta ini seperti yang telah disebut dua hadis di atas (meski tidak akan kita temukan dalam kitab-kitab babon hadis), namun masih tetap muncul tanda tanya, soal darimana nama-nama seperti Qutb, Ghouth, Autad, Nujaba, Nuqaba dst muncul? apakah al-Quran dan hadis menyebut nama ini secara langsung?

Dua pertanyaan ini dengan mudah dan tanpa beban dijawab oleh Ibnu Arabi dalam kitab al-Futuhat al-Makkkiyah-nya yang terkenal:

ولا يعرف هذا إلا أهل الكشف من طريقنا

“Hanya orang yang sudah tersingkap batinnya saja dari kalangan mazdhab kami yang dapat mengetahui hakikatnya.”

Kata-kata ini dan yang semakna dengannya selalu diulang-ulang oleh Ibnu Arabi ketika menjelaskan konsep-konsep yang berada di luar jangkauan nalar.

Mungkinkah ini hanya sekedar imaginasi sufistik belaka yang mereka klaim sebagai kebenaran hakiki? Allahu a’lam kebenarannya karena kita bukan wali dan tidak bisa membuktikan sendiri.

Namun untuk membuktikan kesan bahwa pandangan mereka ini bersifat sangat imaginatif, cukup anda membaca kitab al-Futuhat al-Makkiyah terutama di jilid pertama pada bab yang berjudul Dzikru Ba’dhi Maratib al-Huruf dan bandingkan dengan kritik Ibnu Bajah terhadap kasyaf-nya para sufi.

Ibnu Bajah menegaskan bahwa pandangan kasyaf para sufi itu:

وذلك كله ظن. وفعل ما ظنوا أمر خارج عن الطبع.

“hanya sangkaan imaginatif belaka. Hal demikian terbukti dari khayalan mereka yang super fantastis (kharij an at-tab’i).”

Sekali lagi, kita bukan wali jadi tidak akan tahu kebenarannya dan kita juga bukan filosof sekaliber Ibnu Bajah yang mampu mengamati kepalsuan fenomena kasyaf para sufi. Ala kulli hal, Allahu A’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.