Hikmah Pagi: Atikah ‘Adawiyyah Binti Zaid (W. 51 H), Sang Bidadari Para Syuhada (1)

0
278

BincangSyariah.Com – Di nuansa kemerdekaan ini kami akan menyajikan sebuah cerita shahabiyyah yang cantik, cerdas, seorang sastrawati dan memiliki akhlaq yang sangat mulia. Sehingga banyak para lelaki yang mengantri untuk meminangnya. Beliau adalah ‘Atikah Binti Zaid Amr (W. 16 SH) yng merupakan anak perempuan dari paman Umar Ibn Khattab (W. 23 H). Ayah beliau termasuk salah seorang yang digaransi masuk surga.

Yang menarik orang tuanya meninggal sebelum Rasulullah diutus. Tatkala Rasulullah di Isra’ dan Mi’raj-kan melihat Zaid Ibn Amr masuk surga, dikarenakan beliau adalah salah seorang yang setia kepada ajaran Nabiyullah Ibrahim dengan mentauhidkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Dan yang menarik tidak begitu banyak yang membahas tentang perjuangan wanita-wanita sholehah sepanjang sejarah Islam, padahal mereka ikut andil yang luar biasa dibalik kemenangan umat Islam.

‘Atikah merupakan diantara shahabiyyah yang pertama-tama masuk Islam, seorang pujangga yang lisannya cukup fasih, goresannya meluluhkan hati, dan akhlaqnya membuat siapaun akan terpukau dengannya. Beliau dikenal dengan julukan “Bidadari Para Syuhada’”, hal ini dikarenakan semua suami beliau meninggal dalam kondisi syahid, saat tengah memperjuangkan agama Allah. Pernikahan pertama beliau dengan anak Abu Bakar ash-Shiddiq (W. 13 H) yaitu Abdullah Ibn Abu Bakar (W. 22 H). Pernikahan mereka sangat bahagia, gimana tidak; setiap hari beliau menempel bak perangko yang tak bisa lepas satu sama lain, namun disayangkan oleh ayahnya karena saking cintanya sehingga disibukkan dengan perniagaan, dan urusan-urasan duniawi yang membuatnya sering tertinggal berjamaah dan sering terlambat mengikuti medan jihad.

Suatu ketika Abu Bakar lewat menginginkan shalat berjamaah dengan dikawani oleh Abdullah anaknya, karena permintaan orang tuanya, ia pun meninggalkan istrinya sejenak. Seusai shalat Abu Bakar pun lewat masih menempel dengan istrinya dan ditanya, Apakah kamu sudah shalat berjamaah? Sang ayah melihat penurunan ibadah dan sering tertinggal dalam medan pertempuran. Abu Bakar pun memanggil Abdullah guna untuk menceraikan istrinya, akhirnya diceraikanlah oleh Abdullah. (Lihat: I’tilaalul Qulub, Jilid: 1/459).

Baca Juga :  Adab yang Harus Dimiliki Seorang Guru Menurut Imam Ghazali

Dengan sedih dan hati yang penuh rasa kepiluan Abdullah pun menceraikan istrinya yang sangat dicintai, Abdullah mulai membacakan lantunan syairnya sebagai ungkapan rasa sedih dikala malam hari:

وَلَمْ أَرَ مِثْلِي طَلَّقَ اليَوْم مثْلَهَا *** وَلاَ مثْلَهَا فيِ غَيْرِ جُرْمٍ تُطَلَّقُ

“Belum pernah saya melihat seorang suami sepertiku yang menceraikan istri seperti dirinya pada hari ini *** Tidak pula wanita seperti dirinya diceraikan tampa kesalahan dan dosa”

Mendengar syair sang anak, ayahnya pun merasa iba dan kasihan. Lalu memerintahkan putranya untuk kembali rujuk dengan istrinya, dengan sangat senang Abdullah pun merujuk kembali istrinya. Setelah kembali bersama istri tercinta, gelora berjihad pun semakin membara sebagaimana nasehat orang tuanya.

Namun atas kehendak Allah, tatkala beliau ikut serta dalam medan pertempuran di Thoif bersama Rasulullah, sebuah panah melesat kearahnya dan langsung mengenainya; akhirnya beliaupun gugur di medan perang.

Berita gugurnya Abdullah pun sampai pada Atikah. Beliau kemudian membaca sebuah syair:

رُزِيتُ بخَيرِ النَّاسِ بعدَ نَبِيهَّم *** وبعدَ أبي بكْر وما كَانَ قَصَّراَ
فيا ليتَ لاَ تنفكُّ عيني حزينة *** عليْكَ وَلَا ينفكُّ جلدي أغبرا
فللَّه عَيْنَا مَنْ رأى مثلَهُ فتى *** أكرّ وأحمى في الهياج وأصبرا

Saya telah dilindungi oleh sebaik-baik manusia setelah Nabi mereka *** Dan setelah Abu Bakar, dan ia tak pernah mengabaikanku.

Dan saya bersumpah mata ini tak kan pernah berhenti dari kesedihan atas dirimu *** Dan kulit ini akan senantiasa usang.

Duhai kiranya ada mata yang menyaksikan pemuda seperti dirinya *** Dia menyerang dan melindungi dalam perang yang berkobar dipenuhi kesabaran.

(Lihat: ar-Raudloh al-Faihah Fi A’lamin-Nisa’, Hal: 69).

Semoga Allah mengumpulkan kita bersama para syuhada, anbiya dan orang-orang salih, Aamin.



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here