Hikmah Nabi Muhammad Hidup dalam Keadaan Yatim

0
28

BincangSyariah.Com – Sudah maklum bahwa Nabi Saw hidup dalam keadaan yatim. Ayahnya, Abdullah bin Abdul Muththalib, wafat pada saat beliau masih di dalam kandungan. Ibunya, Aminah binti Wahb, wafat saat beliau masih sangat beliau, yaitu masih berusia enam tahun. Menurut para ulama, terdapat beberapa hikmah dan rahasia Allah dibalik kehidupan yatim Nabi Saw. (Baca: Doa Ketika Mengusap Kepala Anak Yatim)

Menurut Dr. Sa’id Ramadhan Al-Buthi dalam kitab Fiqh Al-Sirah, di antara hikmah terbesar Nabi Saw lahir dan hidup dalam keadaan yatim adalah agar kelak setelah beliau diutus menjadi nabi tidak ada tuduhan dari kaumnya bahwa beliau dipersiapkan oleh ayah dan ibunya untuk berdakwah. Karena beliau yatim, kemungkinan tuduhan itu menjadi sirna.

Dr. Sa’id Ramadhan Al-Buthi berkata sebagai berikut;

لقد اختار الله عز وجل لنبيه هذه النشأة لحكم باهرة، لعل من أهمها أن لا يكون للمبطلين سبيل إلى إدخال الريبة في القلوب أو إيهام الناس بأن محمدًا صلى الله عليه وآله وسلم إنما رضع لبان دعوته ورسالته التي نادى بها منذ صباه، بإرشاد وتوجيه من أبيه وجده. هكذا أرادت حكمة الله أن ينشأ رسوله يتيما، تتولاه عناية الله وحدها

Allah telah memilih pertumbuhan ini (yatim) untuk Nabi-Nya karena beberapa hikmah yang besar. Yang paling penting adalah agar para penentangnya tidak ada jalan untuk memasukkan keraguan di hati masyarakat bahwa bangunan dakwah dan kerasulan Muhammad memang sudah dipersiapkan oleh ayah dan kakeknya sejak kecil. Begini hikmah Allah bekerja untuk menumbuhkan rasul-Nya dalam keadaan yatim sehingga hanya pertolongan Allah yang melindunginya.

Sementara menurut Ibn Al-Imad, Nabi Saw dipersiapkan oleh Allah untuk menjadi orang besar. Karena itu, Nabi Saw ditempatkan dalam keadaan yatim agar kelak di kemudian hari ia menyadari bahwa kemuliaan dirinya berasal dari Allah, bukan karena orang tua atau hartanya.

Baca Juga :  Mengenal Kitab "Al-Mandzumah Al-Baiquniyyah": Kitab Ilmu Hadis Bagi Pemula

Ini sebagaimana dikutip oleh Syaikh Nawawi dalam kitab Nurudz Dzalam Syarh Aqidatul Awam berikut;

وقال ابن العماد لينظر النبي صلى الله عليه وسلم إذا وصل إلى مدارج عزه إلى أوائل أمره ويعلم أن العزيز من أعزه الله تعالى وأن قوته ليست من الآباء والأمهات ولا من المال بل قوته من الله تعالى

Ibn Al-Imad mengatakan bahwa hikmah di balik keyatiman Nabi Saw adalah agar ia memandang awal perjalanannya ketika sampai di tangga-tangga kemuliaannya, agar ia menyadari bahwa manusia dapat menjadi mulia hanya karena diangkat menjadi mulia oleh Allah, dan kekuatannya bukan dari orang tua dan ibu juga harta melainkan dari Allah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here