Hikmah di Balik Siti Khadijah dan Abu Thalib yang Wafat di Tahun yang Sama

0
29

BincangSyariah.Com – Para ulama mengenal tahun 10 pasca kerasulan sebagai Am al-Huzni (tahun kesedihan). Di tahun tersebut dua orang pilar yang setia menjaga dan mendukung penuh dakwah Rasulullah wafat. Keduaya adalah Siti Khadijah, istri tercinta Rasulullah dan paman Rasul, Abu Thalib. (Baca: Syair Cinta Abu Thalib untuk Rasulullah)

Siti Khadijah binti Khuwailid perempuan mulia kelahiran Makkah tahun 68 SH, tidak akan pernah bisa dipisahkan dari kehidupan Rasulullah. Di saat masyarakat mengingkari apa yang diucapkan Rasul, Siti Khadijah lah orang pertama yang mempercayai beliau.

Tatkala orang – orang mencemooh beliau, Khadijah dengan sabar meyakinkan serta menguatkan hati Rasulullah. Tidak hanya itu, segala yang beliau miliki termasuk harta kekayaan diberikan kepada Rasul semata – mata untuk menyokong syiar ajaran Islam dan meraih ridha Allah Swt.

Rasulullah pun kerap berbagi cerita dengan Khadijah. Sang istri dengan senang hati mendengarkan lalu menghibur Rasulullah. Khadijah benar – benar menjadi teman hidup yang setia menemani perjuangan Rasulullah hingga akhir hayatnya.

Dalam riwayat Ibnu Sa’ad, selang satu bulan lima hari pasca kemangkatan Khadijah, Abu Thalib menghembuskan nafas terakhirnya. Belum lama, Rasulullah ditinggal istri tercintanya sekarang ruh paman yang selalu menjaga dan melindungi beliau telah terpisah dari jasadnya. Dua peristiwa ini membuat Nabi bersedih.

Kesedihan bukanlah suatu aib, ia merupakan karunia Allah yang dianugerahkan kepada setiap manusia sebagai suatu fitrah. Tatkala manusia ditinggalkan orang – orang terdekatnya sudah barang tentu kesedihan akan menyeruak, itu hal alami. Apalagi yang kita bicarakan disini adalah Rasulullah, figur terbaik manusia yang memiliki hati lembut dan penuh kasih sayang.

Yang mungkin keliru adalah jika ada orang yang berlarut-larut dalam kesedihan. Ini menunjukan, seakan – akan dia tidak ikhlas dan ridha dengan ketetapan yang telah Allah buat.  Bagaimana pun juga, sesuatu yang berlebihan tidak baik dan kita harus menerima segala takdir Allah.

Baca Juga :  Membincangkan Arti Negara Madinah (Melampaui Sektarianisme) (1)

Rasulullah bersedih atas kepergian Khadijah dan Abu Thalib. Dalam suatu riwayat, Jabir mengatakan, “Ketika Khadijah wafat, Rasulullah sangat bersedih hingga membuat kami menghawatirkannya”. Kesedihan ini menunjukkan betapa besarnya cinta dan rasa kasih sayang beliau terhadap keduanya.

Menurut Syekh Ramadhan al-Buthi dalam bukunya, Fiqh Sirah, penamaan tahun kesedihan sebenarnya bukan sekedar kesedihan atas wafatnya dua karib dekat Nabi, memang Rasulullah bersedih atas itu seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya.

Namun kesedihan Rasulullah lebih disebabkan  dengan berpulang keduanya, dakwah Islam kian menyurut dan bertamabah berat. Rasul tidak lagi bisa leluasa menyampaikan risalah Allah, menyeru kepada kebaikan serta mendebat orang – orang musyrik. Rasulullah sedih karena mereka tidak mau beriman kepada Allah Swt. Hal ini diperkuat dengan hijrahnya Rasul ke Thaif.

Tidak bisa dipungkiri kehadiran keduanya telah memberi dampak positif terhadap perkembangan dakwah Islam. Dan setelah keduanya tiada, kaum musyrikin kian merajalela mengganggu serta menyakiti umat Islam. Kini mereka bisa dengan sesuka hati mengecam serta meneror Rasul tanpa ada jegalan sedikitpun.

Dikisahkan suatu hari beberapa dari mereka naik ke atas loteng sambil membawa sampah dan tumpukan pasir, kemudian saat Rasulullah berjalan melewati gang tersebut, ditimpkanlah sampah dan pasir tersebut ke atas kepala Rasulullah.

Sesampainya di rumah, salah satu putri Rasul membersihkan kepala beliau sambil menangis terisak-isak. Lalu Rasulullah berkata,”Tidak usah menangis wahai putriku, sesungguhnya Allah akan selalu menjaga ayahmu”.

Siti Khadijah dan Abu Thalib adalah dua orang yang sangat dibutuhkan oleh Rasulullah selaku tameng dan pelipur lara. Lalu mengapa Allah Swt mengambil keduanya dalam rentang waktu yang cukup cepat dan di waktu yang hampir bersamaan ? Bukankah jika keduanya menemani Rasul lebih lama lagi akan jauh memudahkan penyebaran Islam ?

Baca Juga :  Ini Hikmah Manusia Diberi Ujian dan Cobaan

Al Buthi membeberkan setidaknya ada dua hikmah dibalik wafatnya Siti Khadijah dan Abu Thalib. Pertama, andaikata Abu Thalib berumur panjang niscaya beliau akan terus menyokong dakwah Rasulullah dan melindungi keponakannya dari rongrongan musyrikin.

Dengan begitu, maka Abu Thalib bisa jadi didaulat sebagai tokoh utama suksesnya dakwah Islam. Dengan modal pengaruh serta kedudukan luhurnya di antara masyarakat Quraisy. Ini memberi celah kepada para pembeci Rasul untuk meremehkan dan menafikan perjuangan Rasulullah.

Bisa jadi mereka menilai bahwa Rasul tidak lebih dari seseorang yang berlindung di bawah bayang – banyang pamannya. Aman dan selamat dari siksaan Quraisy, sementara umatnya teraniaya, terinjak – injak  dan tertindas.

Wafatnya Abu Thalib menunjukkan bahwa penjagaan serta kemenangan Rasulullah tidak lain adalah berkat pertolongan Allah Swt. Di samping itu, Allah telah berjanji akan menjamin keberlangsungan dakwah Rasulullah (Al Maidah, 67). Artinya, ada atau tidak adanya orang yang melindungi Rasul, dakwah Rasulullah akan tersiar dan tetap meraih kemenangan.

Kedua, andaikata keberhasilan dakwah Nabi Muhammad diperoleh dengan mudah tanpa adanya kerumitan dan kepelikan, tentunya umat setelahnya akan berleha – leha dalam menyiarkan Islam. Kondisi seperti ini membuat para pendakwah akan sulit untuk mengarungi samudra dakwah Islam yang sarat akan rintangan.

Tantangan serta cobaan yang menimpa Rasulullah saat berdakwah, menjadi alarm supaya para pendakwah tidak lemah dan mudah menyerah. Sudah sepatutnya mereka dibekali mental yang kuat serta kesabaran yang kokoh agar mampu berlayar membawa bendera Islam, sebagaimana yang telah dicontohkan Rasulullah Saw.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here