Hikmah di Balik Sahur Nabi dan Berbuka Puasanya

0
226

BincangSyariah.Com – Segala sesuatu yang dilakukan dan diucapkan Nabi Muhammad SAW khususnya yang tidak bersifat khashah untuk beliau selalu memiliki daya tarik tersendiri di hati kaum muslimin. Itu dikarenakan perbuatan dan perkataan beliau selalu mengandung hikmah dan suritauladan yang bisa dijadikan landasan untuk beriqtida kepada beliau, tidak terkecuali dalam permasalah cara sahur dan berbukanya Nabi Muhammad SAW.

Al-Baihaqi, Abdur Razzaq, serta Al-Thabarani, mengutip perkataan Amr bin Maimun salah seorang tabiin yang mengatakan bahwa “para sahabat Rasulullah SAW adalah orang-orang yang paling menyegerakan berbuka dan paling mengakhirkan sahur”. Dari deskripsi Amr bin Maimun tersebut kita tahu bahwa para sahabat yang paling memiliki kedekatan dengan Rasulullah SAW dan paling mengikuti kebiasaan beliau, memiliki kebiasaan menyegerakan berbuka dan mengakhirkan sahur.

Dan tidak perlu diragukan, bahwa apa yang mereka lakukan sesuai dengan kebiasaan Rasulullah SAW sendiri dalam berbuka dan bersahur. Sebagaimana Zaid bin Tsabit mendeskripsikan, bahwasannya Rasulullah SAW mengakhirkan sahur agar menambah kekuatan ketika berpuasa, sehingga puasanya tidak menghalanginya dari memperbanyak ketaatan kepada Allah SWT, dan jarak antara waktu sahurnya Rasulullah SAW dan waktu salat subuh seukuran waktu pembacaan 50 ayat Al-Qur’an.

Sebagaimana diriwayatkan oleh anas bin malik:

عَنْ أَنَسٍ عَنْ زَيْدِ بْنِ ثَابِتٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ تَسَحَّرْنَا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ قَامَ إِلَى الصَّلَاةِ قُلْتُ كَمْ كَانَ بَيْنَ الْأَذَانِ وَالسَّحُورِ قَالَ قَدْرُ خَمْسِينَ آيَةً  (رواه البخاري)

Yang artinya: diriwayatkan dari anas bin Malik, dari zaid bin tsabit, ia berkata, kami makan sahur bersama Nabi SAW, kemudian beliau melaksanakan salat, akupun bertanya (anas), berapa jarak waktu antara adzan dan sahur? Zaid menjawab: jarak antara keduanya seukuran waktu membaca lima puluh ayat Al-Qur’an (HR. Bukhari)

Baca Juga :  K.H. Hasyim Muzadi: Ulama Organisatoris, Promotor Islam Moderat

Dari keterangan tersebut kita dapat mengambil kesimpulan bahwa hikmah dari kebiasaan Rasulullah SAW mengakhirkan sahur adalah agar makanan yang dikonsumsi ketika sahur bisa menambah kekuatan ketika berpuasa, dan agar ketika berpuasa tidak bermalas-malasan dalam melakukan hal-hal kebaikan, karena alasan kurangnya kekuatan untuk beraktifitas. Dengan hal itu, tertolaklah alasan orang yang lebih memilih tidur dan bermalas-malasan ketika berpuasa, dibandingkan menambah volume kebaikan ketika berpuasa.

Sedangkan hikmah di balik kebiasaan Rasulullah SAW menyegerakan berbuka dikarenakan ketiadaan manfaat dari mengakhirkan berbuka itu sendiri, bahkan mengakhirkan berbuka memiliki potensi untuk memberikan mudharat kepada orang yang berpuasa, dan memberikan mudharat adalah sesuatu yang dilarang oleh agama. Oleh karena itu Rasulullah SAW sebagai tauladan bagi umatnya tidak ingin umatnya mendapatkan mudharat jika mereka harus mengakhirkan berbuka ketika mereka berpuasa.

Selain kebiasaan Rasulullah SAW yang selalu mengakhirkan sahur dan menyegerakan berbuka, satu hal yang harus selalu diingat, bahwasannya beliau tidak pernah berlebihan dalam mengkonsumsi makanan, baik saat beliau melakukan sahur, ataupun ketika beliau berbuka.

beliau selalu konsisten menerapkan ukuran maksimal seseorang mengkonsumsi makanan dengan ukuran sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga lagi untuk bernafas.

Bahkan ketika beliau berbuka beliau hanya mengkonsumsi beberapa butir kurma dan air saja.

Sebagaimana diriwayatkan oleh Anas bin Malik RA,

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ : كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُفْطِرُ عَلَى رُطَبَاتٍ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّيَ ، فَإِنْ لَمْ يَكُنْ رُطَبَاتٌ ، فَتَمَرَاتٌ ، فَإِنْ لَمْ يَكُنْ تَمَرَاتٌ حَسَا حَسَوَاتٍ مِنْ مَاءٍ. (رواه أحمد)

Yang artinya: diriwayatkan dari anas bin Malik “bahwasannya Rasulullah SAW hanya berbuka dengan beberapa kurma ruthab sebelum beliau melaksanakan salat maghrib, dan jika tidak ada maka dengan beberapa kurma tamar, dan jika tidak ada juga maka dengan beberapa tegukkan air” (HR. Ahmad bin Hanbal).

Dengan keterangan yang disebutkan, kita dapat mengambil kesimpulan bahwasannya Rasulullah SAW senantiasa mengakhirkan sahur, agar makanan yang dikonsumsi ketika sahur bisa menjadi kekuatan untuk terus beraktifitas melakukan kebaikan meskipun sedang berpuasa, dan beliau senantiasa menyegerakan berbuka, karena terdapat banyak kebaikan di dalamnya, khususnya dalam mencegah kemudharatan jika mengakhirkan berbuka.

Baca Juga :  Apakah Sunnah Buka Puasa dengan Makanan yang Manis-Manis?

Adapun konsistensi beliau untuk tidak mengkonsumsi makanan secara berlebihan dalam berbuka, demi memberi hak kepada tubuh untuk menerima sepertiga makanan, sepertiga minuman, serta sepertiga udara. Wallahu ‘alam bisshawab.



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here