Hikmah di Balik Hijrah yang Dilakukan Rasulullah

0
12765

BincangSyariah.Com – Tahun baru Hijriah merupakan titik penanda di mana dakwah Nabi Muhammad SAW yang sebelumnya ditolak di Mekkah, mendapat penerimaan di Madinah. Hal ini ditandai oleh perstiwa hijrah yang dilakukan Rasulullah dari Mekkah ke Madinah.

Saat itu Rasulullah mendapatkan perintah hijrah oleh Allah untuk menyebarkan syiar Islam secara terang-terangan setelah sekian lama dakwah secara sembunyi di Mekkah. Tentu perintah tersebut dijalankan oleh Rasulullah, namun secara psikologis, Rasulullah sempat berat hati meninggalkan kampung halamannya.

Betapa tidak, Mekkah bagi Rasulullah adalah rumah pertamnya. Ka’bah, keluarga, makam istri tauladannya Khadijah, serta sebagian kaumnya ada di sana. Pergi meninggalkan Mekkah dalam kondisi dakwah yang belum sepenuhnya diterima oleh masyarakatnya, tentu membuat Rasulullah berduka. Namun, janji Allah akan sebuah perjuangan yang menang di negeri baru sudah di depan mata. Rasulullah pun siap menyambutnya meski diiringi sejuta kenangan tentang Mekkah.

Hijrah yang dilakukan Rasulullah dari Mekkah ke Madinah, selain membutuhkan mental yang kuat, juga harus dibarengi dengan fisik yang prima. Para pengikut Rasul pun dengan sabar dan ikhlas mengikuti hijrahnya Rasulullah dengan taat. Sesampainya di Madinah, terang saja, Rasulullah langsung disambut dengan penduduk Madinah yang nampak ramah dan multi-etnis. Penduduk Madinah kala itu terlihat kontras dengan penduduk Mekkah yang notabene keras.

Mendapati lingkungan yang bersahaja dan menerima kedatangannya, Rasulullah merasa terhibur dan seperti mendapatkan kembali apa-apa yang ditinggalkannya di Mekkah. Mulai dari membangun Masjid Kuba di Madinah, dakwah Rasulullah pun mencapai puncak kegemilangannya di fase Madinah. Piagam Madinah merupakan kegemilangan kepemimpinan Rasulullah yang merangkul semua etnis dan agama yang ada di Madinah.

Islam yang toleran, maju, beradab, menghargai ilmu pengetahuan, serta inklusif adalah buah dari kemenangan dakwah Rasulullah dari Madinah. Dari sinilah akhirnya Rasulullah pun dapat menakhlukan Mekkah.

Baca Juga :  Memasuki 1 Muharam 1441 H, Baca Doa Awal Tahun Agar Lebih Berkah

Lalu pelajaran apa yang patut kita petik dari hijrahnya Rasulullah?

Tentu saja, pada tahun baru Hijriah kali ini, semangat hijrah Rasulullah harus dimaknai dengan karya dan sikap. Kita tidak cukup hanya merenungi lalu diam tanpa melakukan evaluasi pada rapor hidup kita yang merah. Merenung, memohon ampun, dan mengeksekusi makna hijrah haruslah menjadi utama.

Pada hati yang sedang berberat dirundung masalah, fisik yang lelah menanggung aktifitas kerja, serta kekosongan nurani akan Kalam Ilahi, mari lihatlah kembali janji Allah kepada mereka hamba-hambanya yang sukses berhijrah. Bukan hanya hijrah simbolik yang identik dengan apa yang kau pakai, kau makan, atau berkata-kata mengutip hadis populer di depan mimbar. Namun hijrah dimulai dengan ketetapan hati yang matang, mengakui kesalahan, dan berbenah pelan-pelan.

Move on! Bergerak. Hijrah. Gerakkan hatimu untuk lebih mendekatiNya. Bersikap dan berbuat kepada jalan yang mengarah hanya kepadaNya. Bukan lagi hijrah dalam lautan massa yang membusungkan dada dan menyombongkan diri sebagai ahli ibadah. Ingat, manusia adalah tempatnya salah dan nafsu. Itulah kenapa Nabi Adam sempat berbuat salah, namun ia bertaubat, dan Allah mengabulkan taubat dan permintaan maafnya.

Namun setan tidak. Ia berbuat salah, tapi kesalahannya fatal: sombong. Dan sifat sombong, tidak ada pengampunannya. Maka, Allah tak akan pernah mengizinkan setan kembali ke surga.

Semangat hijrah jangan sampai berhenti pada hari ini. Semoga kita merupakan bagian dari orang-orang yang berhijrah ke arah yang lebih positif setiap harinya. Amin ya Rabbal-alamin.

Wallahu a’lam

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here