Hidup Berbangsa dan Bernegara Menurut Ibnu Taimiyah

0
276

BincangSyariah.Com – Sapu lidi apabila diikat menjadi satu maka akan terjalin sebuah hubungan yang kokoh serta tak mudah dipatahkan, di dalamnya ada berbagai corak yang sangat berbeda beda, namun adanya kesamaan fungsi dan tugas yang sama maka hilanglah ego masing masing individu, sehingga tercipta iklim yang kondusif demi terciptanya suasana damai dan tenteram.

Begitu juga sebuah bangsa akan jaya, ketika semua elemen masyarakat saling bekerja sama, dengan kemampuan yang berbeda beda, namun setara di mata hukum.Hal ini sesuai dengan Surat Al Hujurat ayat 13 yang berbunyi:

(يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ)

Artinya: Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki laki dan seorang perempuan, kemudian kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia diantara kamu di hadapan Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui, serta Maha Teliti.

Syeh Nawawi Al Bantani dalam Tafsirnya menjelaskan ayat ini tentang asal usul manusia berasal dari Adam dan Hawa, kemudian Allah menjadikannya berkembang pesat sehingga membentuk suku maupun bangsa, tanpa memandang perbedaan warna kulit, ras, bahasa, suku, dan bangsa, dan juga tidak melihat dari segi jabatan, kedudukan, ketampanan, maupun kekayaan.

Menurut Imam Abu Zahrah dalam kitab beliau yang berjudul Al Wahdah Al Islamiyyah menyatakan bahwa segala macam perbedaan itu sebagai petunjuk tanda-tanda kebesaranNya. Dari sini kita mengetahui bahwa ketakwaan sebagai barometernya, kepatuhan dalam menjalankan perintah serta menjauhi segala larangan agar menjadi manusia yang santun terhadap sesama sehingga tercipta hubungan yang harmonis atas dasar saling kenal mengenal satu dengan yang lain, tanpa adanya kesombongan dalam dirinya.

Baca Juga :  Pilar Akhlak Mulia Menurut ibnu Qayyim

Dalam urusan kenegaraan, apabila pemerintah tidak sejalan dengan rakyatnya maka akan terjadi benturan yang tajam sehingga akan mendatangkan perpecahan sesama anak bangsa.

Menurut Ibnu Taimiyah dalam kitab As Siyasah As Syar’iyah, ada 2 hal yang menjadikan bangsa akan maju, diantaranya:

Pertama, Semua elemen mampu mengemban amanat yang telah diberikan, Pejabat Pemerintah bertugas sesuai dengan yang telah diamanatkan sehingga mampu mengayomi serta malayani rakyatnya dengan sikap santun tak arogan kepada rakyat yang lemah.

Kedua, Terwujudnya keadilan di segala lini kehidupan, karena ini faktor yang sangat berpengaruh demi terciptannya keharmonisan yang menyeluruh. Untuk mewujudkan keduanya dibutuhkan pengetahuan yang mumpuni serta pengamalan yang berdasar untuk rasa kemanusian, karena manusia hakikatnya makhluk yang sering pelupa terhadap dirinya maupun terhadap amanat yang telah diberikan kepadanya, maka diperlukan sumbangsih semua elemen baik pejabat, maupun rakyat, baik berupa saran, masukan, maupun kritikan yang membangun.

Banyak Bangsa maupun Negara hancur dikarenakan ulah penduduknya sendiri yang dengan mudah terprovokasi oleh isu yang dihembuskan oleh oknum yang tak bertanggung jawab baik yang dilakukan oleh anak negeri sendiri, maupun rongrongan negara lain yang ingin menguasai negara kita baik dalam urusan ekonomi maupun politik.

Dalam hal ini ada beberapa poin untuk membangun terwujudnya kemajuan Bangsa:

  1. Menjalin hubungan yang baik dengan siapapun tanpa memandang derajat, pangkat, kedudukan seseorang.
  2. Adanya satu pandangan untuk memajukan bangsa, sehingga perbedaan maupun konflik bisa dikurangi, karena adanya kesamaan pandangan maupun tekad untuk membangun negeri ini.
  3. Mampu merespon perubahan zaman, sehingga bangsa kita tak tertinggal dalam banyak hal, baik teknologi informasi, sains maupun bidang yang lain. Semua pejabat pemerintahan memegang amanah yang diembannya sesuai beban yang telah dipangkunya.
  4. Adanya keadilan di segala lini kehidupan, sehingga tercipta keamanan, kedamaian, serta kerukunan masyarakatnya.
Baca Juga :  Syaikh Ibnu Taimiyah, Sosok Ulama Hebat tapi Banyak yang Tak Suka

Pada akhirnya, semua elemen masyarakat berharap agar segala perbedaan menjadi ajang pendewasaan tingkah laku, sikap, cara pandang satu dengan yang lain, serta mengutamakan titik kesamaan sebagai acuan bersama.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.