Heboh Alquran “Salah” dan Respon K.H. Ibrahim Hosen

1
1316

BincangSyariah.com – Waktu datang di La Tour Hassan Hotel, pihak panitia memberikan seberkas buku pada kami. Kini buku-buku itu kami lihat satu persatu. Ada buku tentang laporan keberhasilan Kementerian Wakaf dan Urusan Islam, ada buku tentang kumpulan makalah yang diceramahkan di hadapan Raja Maroko dalam acara Durus Hasaniyah tahun-tahun lalu. Dan yang menarik, ada sebuah mushaf Alquran dengan tulisan Arab Maroko dengan qira’at Imam Warasy.

Huruf Arab Maroko memiliki perbedaan sedikit dari huruf Arab secara umum. Misalnya, huruf qof dalam huruf Arab titiknya dua buah di atas, sedangkan dalam huruf Arab Maroko, titiknya satu di atas, sama dengan fa’ dalam huruf Arab secara umum. Sedangkan fa’ dalam huruf Arab Maroko titiknya satu buah di bawah. Dalam huruf Arab secara umum, huruf seperti ini tidak ada. Karenanya, orang yang tidak mengenal huruf Arab Maroko, ia akan kesulitan membaca Alquran yang ditulis dengan huruf tersebut.

Alquran “Salah”

Ada cerita menarik tentang mushaf Maroko ini. Almarhum Bapak Prof. K.H. Ibrahim Hosen, LML., Rektor Institut Ilmu Alquran (IIQ) Jakarta pernah berkata kepada kami, bahwa beliau kedatangan tamu dari Bogor. Tamu itu mengadu karena ia membeli mushaf Alquran di sebuah toko kitab di Bogor. Dan ternyata, mushaf tersebut banyak “salah”nya. Bapak Ibrahim Hosen pun merasa penasaran, apa yang “salah” dari mushaf yang dibeli dari toko kitab itu. Setelah diperlihatkan, ternyata mushaf itu ditulis dengan huruf Arab Maroko, “Itu tidak “salah” kata Bapak Ibrahim Hosen kepada tamunya itu. “Hanya hurufnya sedikit berbeda dengan huruf Arab lainnya”, tambahnya.

Atase Agama Kedutaan Saudi Arabia di Jakarta juga pernah memberikan beberapa eksemplar mushaf Maroko kepada kami. Ceritanya, Kompleks Percetakan Alquran Raja Fahd di Madinah salah alamat dalam mengirimkan mushaf Alquran. Seharusnya, mushaf itu dikirim ke Maroko tetapi nyasar keIndonesia. Tentu saja mushaf seperti itu tidak terbaca di Indonesia. Akhirnya, kami simpan di Perpustakaan Darus-Sunnah untuk bahan pelajaran.

Baca Juga :  Membangun Nalar Teks Syariah

Kami juga pernah mendapat terjemahan Alquran berbahasa Cina. Konon, itu juga nyasar. Semestinya dikirim ke Cina, tetapi nyasar ke Ciputat. Padahal kami tidak dapat membaca bahasa Cina, “haiyyaa”.

Qira’at Alquran di Maroko

Mushaf Alquran Maroko tadi, di samping penulisannya agak berbeda dari mushaf lainnya, qira’at atau cara membacanya juga ada sedikit perbedaan. Misalnya, huruf ma pada kata maliki dalam surah al-Fatihah (Maliki Yaumid Diin) dibaca pendek. Sementara dalam qira;at lain Ma dibaca panjang. Mushaf Maroko juga banyak bacaan imalah (dimiringkan), seperti kata dibaca é (seperti dalam Edward. Maka kata Ya Sin (Ayat pertama surah Yasin) dibaca Yé Sin.

Cara membaca seperti ini dibenarkan menurut ilmu Qira’at, namun tidak boleh dilakukan tanpa mempelajari terlebih dahulu kepada ahli Qira’atQira’at yang ada di negara-negara Islam termasuk di Indonesia umumnya berdasarkan Imam ‘Ashim. Misalnya, kata katsiran dalam riwayat Warasy dibaca katsiran (ran dengan suara a, seperti dalam bahasa Indonesia mengucapkan saran). Dalam riwayat ‘Ashim dibaca katsiron (ron, dengan suara o, seperti dalam bahasa Indonesia mengucapkan buron). Namun sekali lagi, semua itu ada kaidah-kaidahnya, dan harusnya dipelajari pada ahlinya terlebih dahulu. Tidak boleh seseorang membaca seperti itu tanpa belajar lebih dahulu.

Ada orang bertanya, apa yang menyebabkan perbedaan dalam qira’at itu? Ketika dijawab itu adalah dialek (lahjah) dalam bahasa Alquran, maka dia berkata, kalau begitu orang Sunda boleh membaca Waddhuha.Wal Laili idza saja. Orang Betawi boleh membaca Waddhuhe. Wal Laili Idza Saje. Dan, orang Minangkabau boleh membaca Waddhuho. Wal Laili Idza Sajo.

Kontan seorang ahli Qira’at berkata, semua qira’at itu dibenarkan apalagi memiliki riwayat yang sahih dari Nabi saw. Apakah ada riwayat yang sahih Wad Dhuha dibaca Wad Dhuho? Tentu tidak ada. Karenanya, orang Minangkabau tidak boleh membaca Alquran dengan dialek Minangkabau seperti Wad Dhuho tadi. Ha, onde mande.

 

Baca Juga :  Menulis Alquran dalam Keadaan Hadas, Apakah Boleh?

Tulisan diatas disadur dari tulisan dalam buku K.H. Ali Mustafa Yaqub yang berjudul Cerita Dari Maroko. Judul aslinya adalah “Mushaf Maroko”, dengan sedikit perubahan tanpa mengubah pesan utamanya.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here