Hati dan Akal dalam Pandangan Imam Al-Ghazali

1
36

BincangSyariah.Com – Hati dan akal adalah dua istilah yang tidak asing lagi di telinga kita. Sering kali kedua istilah ini diperbincangkan tanpa mengerti terlebih dahulu makna keduanya. Akibatnya perdebatan terjadi tanpa ada akhir yang mencerahkan. (Baca: Doa Agar Hati Bersih, Dibaca Saat Sujud dalam Shalat)

Disadari ataupun tidak, memahami istilah hati dan akal ini adalah hal yang urgen bilamana seseorang hendak melafalkannya. Hal ini dimaksudkan agar mereka memahami apa yang mereka ucapkan. Oleh karena itu, dalam bahasan kali ini akan menampilkan pandangan Imam Al-Ghazali tentang hati dan akal.

Dalam bahasa Arab, hati disebut dengan al-qalb. Menurut Al-Ghazali al-qalb memiliki dua makna. Pertama adalah hati yang bermakna segumpal daging berbentuk sanubari yang berada di dalam dada sebelah kiri. Ia memiliki model tertentu yakni berbentuk cekung dan di dalamnya terdapat darah berwarna hitam dan juga ruh bersumber atau berada di dalam hati ini.

Para dokter menganalisis dan menjadikannya sebagai objek kajian, sementara para sufi atau agamawan tidak tertarik membahas hati dengan makna ini. Dengan demikian, perkara-perkara yang berkaitan dengan agama tidak memiliki kaitan dengan makna hati ini kecuali hanya dalam urusan muamalah semata.

Ini sebenarnya merupakan makna hati dilihat dari sudut pandang zahir karena bendanya dapat dijangkau hanya dengan pandangan mata saja. Imam Al-Ghazali memasukkan hati dengan makna ini ke dalam alam materi.

Makna hati yang kedua adalah entitas halus yang bersifat ketuhanan dan spiritual. Ini merupakan hakikat atau inti dari manusia itu sendiri. Makna hati di sini memiliki kaitan erat dan tak bisa terpisahkan dari makna hati di atas. Hati di sini lebih sebagai sifat bagi hati dengan makna pertama.

Baca Juga :  Aneka Model Pakaian Nabi (Bagian 2)

Apabila Al-Quran menyebut hati maka yang dimaksud adalah hati dengan makna kedua ini. Misalnya firman Allah yang berbunyi:

وَلَقَدۡ ذَرَأۡنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرٗا مِّنَ ٱلۡجِنِّ وَٱلۡإِنسِۖ لَهُمۡ قُلُوبٞ لَّا يَفۡقَهُونَ بِهَا

“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah).”(QS. Al-A’raf/7:179))

Lafazd qulub jamak dari qalb pada ayat ini lebih kepada hati dengan makna “Sesuatu yang berada pada diri manusia yang bisa menjangkau, mengetahui dan memahami”. Hal ini sesuai dengan apa yang dituliskan oleh Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya’ Ulumiddin.

Selanjutnya ulasan Imam Al-Ghazali mengenai akal. Beliau merincikan makna akal menjadi empat macam. Macam pertama adalah akal sebagai sifat yang membedakan antara manusia dan hewan lain. Akal ini mampu menerima ilmu-ilmu teoritis dan mengatur jalan pikiran yang samar.

Macam kedua, akal diartikan sebagai ilmu yang dapat mengeluarkan seseorang dari kondisi kanak-kanak menjadi kondisi hampir baligh (tamyiz) sehingga mampu membedakan sesuatu yang mungkin terjadi dan yang tidak mungkin terjadi.

Misalnya dia mampu mengetahui bahwa angka dua lebih banyak dari angka satu, satu orang tidak mungkin berada di dua tempat sekaligus. Pengertian ini yang dimaksudkan oleh ahli kalam dengan kata-kata batasan orang berakal (hadd al-aql).

Macam ketiga,  akal dimaknai sebagai ilmu-ilmu yang dihasilkan dari pengalaman-pengalaman. Pengertian ini berkebalikan dengan kata ghabyun (bebal),  ghamrun (bodoh), jahlun (bodoh).

Macam yang keempat adalah puncak akhir dari kekuatan naluri sehingga dapat mengetahui akibat dari segala sesuatu dan dapat melawan keinginan-keinginan yang mendorong kepada kelezatan temporal.

Dua makna akal pertama dapat diperoleh dengan hanya menggunakan tabiat semata. Sementara dua terakhir baru bisa diperoleh manakala seseorang mengusahakannya dengan maksimal. Ini yang dimaksudkan oleh Sayyidina Ali karramallahu wajhah di dalam syairnya:

Baca Juga :  Pesan Imam Al-Mawardi: Beragamalah dengan Akal dan Hati Nurani

 

رأيت العقل عقلين     فمطبوع ومسموع

ولا ينفع مسموع       إذا لم يك مطبوع

كما لا تنفع الشمس    وضوع العين ممنوع

Aku berpendapat bahwa akal itu ada dua,

yaitu akal yang bersifat naluri dan akal yang bersifat kasbi.

Akal kasbi tidak akan bermanfaat,

manakala akal naluri tidak terdapat.

Sebagaimana tidak bermanfaatnya matahari,

untuk pandangan mata yang terhalangi.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here