Hassan bin Nu‘man; Juru Gedor Muslim Saat Hadapi Suku Barbar di Afrika

1
75

BincangSyariah.Com – Khalifah Abdul Malik bin Marwan tampak gusar, sebab dua panglima andalannya Uqbah dan Zuhair telah gugur sebagai syahid. Sementara itu, gempuran Romawi terhadap eksistensi Muslim di Afrika Utara hari demi hari kian memuncak. Jelas ini bukan perkara enteng namun harus cepat ditangani. Untuk itu dibutuhkan sosok kredibel sekaligus berpangalaman. Dan pilihan itu tertuju pada satu sosok pembesar  mujahid, Hassan bin An – Nu’man Al Ghassani.

Sejarah mencatat, sejak awal masuknya Islam ke Afrika Utara, gesekan antara Muslim dan suku Amazigh (Barbar) memang sudah sering terjadi. Kelompok Barbar ini tidak bosan – bosannya  menahan umat Islam agar tidak mempengaruhi wilayahnya. Artinya, selama gesekan ini belum dituntaskan, maka umat Islam dipastikan akan selalu dibayang – bayangi kecemasan akan adanya penyerangan.

Abdul Malik melihat ini sebagai permasalahan serius. Ia pun bertekad untuk mencabut tuntas gerakan pemberontakan hingga ke akar – akarnya. Supaya tidak ada lagi cerita mengenai penyerangan Amazigh terhadap masyarakat Muslim. Dimana sebelumnya kasus – kasus semacam  ini sudah sering menjadi  konsumsi publik selama berpuluh – puluh tahun lamanya.

Oleh karena itu, pasca menyelesaikan konflik Ibnu az-Zubair, tahap selanjutnya yang dilakukan Abdul Malik adalah membebaskan umat Islam Afrika Utara dari tekanan Romawi. Terlebih saat itu sosok ratu terkemuka asal suku Amazigh bernama Dihya binti Thabitah (Kahinah) muncul kepermukaan. Begitu mencengangkan, ternyata pertahanan Muslim yang sangat kokoh dapat dibuat kocar kacir oleh ulahnya.

Untuk mengatasi gerakan ini, tahun 77 H diutuslah Hassan bin Nu’man menuju Kairoaun sebagai panglima perang membawahi 40.000 orang prajurit. Menurut penuturan Ibnu Atsir, ini adalah pasukan terbesar yang pernah dikirim ke Afrika Utara. Di Chartage ibu kota Byzantium – Afrika Utara, kedua kubu saling berhadapan.

Baca Juga :  Tujuan Kairouan Dipilih sebagai Pusat Penyebaran Islam di Afrika Utara

Kendati pihak musuh memiliki jumlah prajurit lebih banyak, tidak membuat pasukan Muslim bergeming. Mereka tetap bersabar hingga kemenangan dapat diraih. Melihat situasi yang tidak menguntungkan, pihak Romawi memutuskan untuk membubarkan diri, sebagian mereka kabur ke Sisilia sedangkan sisanya menuju Andalusia.

Setelah itu, tersiar kabar bahwa Romawi dan Babar tengah mengumpulkan pundi – pundi kekuatannya di kawasan Sahthfurah dan Binzert. Hassan bin Nu’man pun segera menuju kesana. Setelah sampai, ternyata kekuatan pasukan musuh sangatlah fantastis. Meski begitu umat Islam kembali memenangkan pertempuran, hanya saja banyak dari mereka mengalami cedera dan terluka.

Menurut Abdusyafi Muhammad Abdullatif dalam Al-‘Alam Al-Islami fi Asr Al-Umawi  memaparkan pasca kekalahan ini, sisa sisa serdadu Romawi melarikan diri ke kota Beja. Sedangakn suku Barbar berlindung ke kota Bunah. Hasan bin Nu’man tidak mengejar mereka dan lebih memilih kembali ke Kairouan sambil memulihkan kondisi kesehatan prajuritnya.  Setelah pulih, kedua kubu kembali bertempur.

Kali ini ratu Kahinah muncul dan memperlihatkan tajinya.  Pertempuran dahsyat meletus di lembah Miskiana saat Hassan hendak menuju markas besar kabilah Bar bar di pegunungan Arus. Korban jiwa jatuh bergelimpangan, banyak diantara mereka adalah muslimin.

Sehingga mengakibatkan kontingen Islam tersudut dan pada akhirnya mendera kekalahan tragis. Orang – orang Muslim kemudian menamai lembah tersebut dengan sebutan lembah bala (bencana). Begitupula menyebut hari itu dengan hari bencana mengingat banyaknya kematian dan tawanan Muslim yang ditangkap.

Hasan bin Nu’man sangat terpukul dengan kondisi tersebut, namun tidak banyak yang bisa ia lakukan selain menyelamatkan diri bersama sisa – sisa pasukannya menuju Barqah. Ia menetap disana hampir selama lima tahun sembari menunggu komando dan kiriman bala bantuan dari Khalifah Abdul Malik bin Marwan yang tengah disibukkan untuk mengurus konflik kawasan Syam.

Baca Juga :  Humor Gus Dur; Cara Gus Dur Bersikap Saat Dibilang Kafir

Sementara itu, ratu Kahinah kian bertambah kuat dan semakin besar pula kekuasaannya mengingat tidak lagi ada pesaing. Sayangnya, hal ini membuatnya acap kali menampilkan sisi kesombongannya. Bahkan, tidak jarang ia berbuat kasar terhadap rakyatnya sendiri yang tidak lain adalah sumber kekuatannya. Sehingga perlahan – lahan  partisipan – partisipannyanya ini berpaling darinya.

Kekalahan tragis Hasan tidak lantas mematahkan semangatnya untuk kembali menghadapi ratu Kahinah. Apalagi dalam konteks perang Afrika Utara baik pihak Islam maupun Romawi sudah biasa bergantian saling mengalahkan. Belum ada diantara keduanya yang menyerah begitu saja.

Selama masa tunggunya di Barqah, Hasan terus memantau perkembangan ratu Kahinah melalui informannya, Khalid bin Yazid. Suatu ketika Khalid mengabari bahwa kelompok – kelompok Barbar tengah terlibat cekcok dengan ratunya sendiri akibat perlakuan buruk terhadap mereka.  Situasi kian memanas hingga terjadi kerusuhan besar.

Hassan sudah menunggu lama kesempatan ini. Tahun 84 H ia beserta pera prajuritnya bergegas keluar dari Barqah untuk mengejar Kahinah. Kota Gabes, Gafsah,Kastilia dan Nefzaoua dengan mudah bisa diambil kembali. Dalam perjalan kekuatan Hassan terus bertambah, sedangkan kekuatan Kahinah justru  merosot sebab pasukannya terpecah belah.

Menurut Hasan Husni Abdul Wahab dalam Khulasat Tarikh Tunis, para ahli berbeda pendapat soal dimana kedua kubu bertempur. Salah satu pendapat mengatakan perang ini terjadi di El – Djem. Sementara itu, Abdurrahman Ibnu Abdul Hakam dalam karyanya Futuh Misra wa Akhbaraha mengungkapkan bahwa perang ini terjadi di kawasan Bir Kahinah.

Di pertempuran keduanya menghadapi Kahinah, An – Nu’man sukses mendulang kemenangan telak. Kelompok Barbar yang masih tersisa kemudian meminta jaminan kemanan kepada Hassan. Ia pun dengan senang hati menjamin hal tersebut dengan syarat mereka mau bergabung dengan pasukan Muslim.

Baca Juga :  Adab yang Harus Dimiliki Seorang Guru Menurut Imam Ghazali

Dari situ, terkumpulah setidaknya 12.000 warga Amazigh dalam jajaran tentara Muslim. Ia pun menjanjikan dua putra Kahinah untuk memimpin masing – masing 6000 prajurit. Sejak saat itu komunitas – komunitas Barbar tidak lagi melakukan penyerbuan terhadap Muslimin. Para sejarawan mengabadikan momen ini sebagai penaklukan hakiki Ifriqiyya (Tunisia).

Tidak hanya sampai disitu, sentuhan emas Hassan berhasil menarik simpati besar masyarakat sekitar. Malah ada fraksi fraksi yang tadinya memusuhi Islam, justru kemudian berperan aktif dalam penaklukan Islam ke wilayah Maghribi. Ini tidak lepas dari kemampuannya dalam mengatur perpolitikan.

Selain ahli berperang, Hassan bin Nu’man memiliki kecenderungan terhadap bidang arsitektur. Maka tidak mengherankan  setelah merampungkan tugasnya membasmi habis para perusuh, ia bergegas membangun infrastruktur – infrastruktur megah.

Seperti mendirikan kota Tunis, meronovasi Masjid Agung Uqbah bin Nafi’ hingga membangun pabrik pembuatan perahu dan alat – alat perang untuk pertama kalinya dalam sejarah umat Islam. Tempat ini dikenal dengan sebutan “Dar Shina’ah”. Ia juga mereformasi sistem administrasi dan perpajakan negara.

Khalifah Walid bin Abdul Malik memberhentikannya dari posisi Gubernur Ifriqiyya (Tunisia). Kemudian ia menemui Walid sambil membawa harta melimpah dan sejumlah permata. Lalu ia berkata “Wahai Amirul Mukminin! Sesungguhnya aku pergi untuk berjihad. Orang sepertiku tidak berkhianat”. Kemudian Walid menjawab, “Aku kembalikan jabatan itu kepadamu”.

Namun Hasan bersumpah tidak akan mengemban jabatan itu lagi selamanya. Berdasarkan sikap amanahnya inilah ia digelari  “Syekh Al-Amin”. Kisah ini disampaikan Adz-Dzahabi dalam Siyar A’lam An-Nubala. Baginya jabatan bukanlah alat untuk mengeruk harta kekayaan atau mendulang popularitas. Namun dijadikan sebagai alat untuk berdakwah. Seperti itulah figur Hassan bin Nu’man.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here