Hasan al-Banna dan Pemikiran Politiknya

0
13

BincangSyariah.Com – Hasan al-Banna lahir di sebuah desa di Al-Buhaira, sebuah provinsi di Mesir. Desa tersebut bernama Mahmudiyah. Ia dibesarkan dalam keluarga yang taat dalam beragama.

Sang ayah, Syaikh Ahmad Abdurahman al-Banna adalah seorang penghulu, imam masjid, dan guru. Ia adalah anak pertama dari lima bersaudara. Ia menempuh pendidikan di sekolah pemerintah dan di masjid.

Salah seorang gurunya memiliki peran penting dalam membentuk kepribadian dan intelektual dalam dirinya. Guru yang memiliki jasa besar tersebut bernama Syaikh Mahmud Zahra. Ia bersekolah di sekolah pemerintah sampai perguruan tinggi yakni Universitas Dar al-Ulm.

Pada 1932 ada dua peristiwa besar dalam kehidupan Hasan al-Banna. Pertama, ia pindah ke Kairo. Kedua, ia menerbitkan tabloid mingguan bernama Ikhwanul Muslimin, kemudian an-Nazir pada 1938 dan al-Syihab pada 1947.

Pada 1941, ia membentuk formatur untuk merumuskan anggaran dasar dan anggaran rumah tangga atau hai’ah ta’sisiah yang pertama untuk Ikhwanul Muslimin.

Ikhwanul Muslimin terus-menerus mendapat tantangan terutama dari pemerintah Mesir. Pada 8 November 1948, perdana Menteri Mesir Kamil an-Naqrasyi mengumumkan tentang pembubaran organisasi tersebut.

Sejarah mencatat bahwa pembubaran tersebut berakhir dengan pembunuhan Kamil an-Nagrasy dan klimaks dengan terbunuhnya Hasan al-Banna pada 12 Februari 1949 dikarenakan dendam para pengikut Kamil.

Karya Hassan al-Banna yang kemudian menjadi aspirasi penerusnya adalah Ahaditsul Jum’ah atau pesan setiap jumat, Mudzakaratu al-Dakwa wa Da’iyah atau pesan dakwa dan da’i, al’Ma’tsurat atau wasiat-wasiat.

Sementara itu, karya dalam bentuk kumpulan pesan diantaranya adalah Da’watuna atau misi kita, Nahwan Nur atau menuju kecerahan, Ila al-Syabab atau kepada para pemuda, Baina al-Amsi wa al-yaum atau antara kemarin dan hari ini.

Baca Juga :  Mengenal Syekh Sulaiman Ar-Rasuli: Ulama Pejuang Kemerdekaan dari Minangkabau

Selain itu, ada juga Risalah al-Juhad atau pesan jihad, Risalah al-Ta’lim atau pesan-pesan pendidikan, al-Mu’tamar al-Khamis atau konfrensi kelima, Nizhamu al-Usar atau sistem kelompok kecil pergerakan, al-Aqaid atau prinsip-prinsip, al-Nidzam al-Iqtishadi atau sistem perekonomian.

Dalam pandangan Hassan al-Banna, keutamaan Islam bagi umat manusia dengan memberikan metode yang tepat dan sempurna bagi pendidikan rohani, pendidikan generasi, pembentukan umat, dan pembangunan budaya, serta penerapan prinsip-prinsip kemualiaan dan madaniyah.

Artinya bagaimana pembentukan generasi rabbani masa depan mampu menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi tanpa meninggalkan nilai-nilai iman dan akhlak. Pembentukan generasi rabbani direduksi dari teks-teks al-Quran dan al-Hadis memerlukan tanggungjawab mutlak yang satu sama lain mempunyai kaitan yang sangat erat.

Fathi Yakan dalam buku Revolusi Hassan al-Banna (2002) menuliskan bahwa Hasan Al-Banna membagi fase pembinaan dalam tiga tingkatan.

Pertama, fase pengenalan seluruh lapisan masyarakat. Kedua, fase pembentukan kader atau marhalah al-takwin dari elemen pilihan yang sudah terkumpul dan dibentuk regu-regu pejuang dakwa.

Fase yang terakhir yakni fase ketiga adalah fase realisasi atau marhalah al-tanfidz dengan melakukan gerakan atau harakah dakwa bersama-sama dalam mewujudkan hukum Allah Swt. di muka bumi.

Dalam buku Majmu’atu al-Rasail, ia berpendapat bahwa pada saat ini kebutuhan akan tafsir yang sesuai dengan tingkat pemahaman manusia dan kekuasaan berpikir mereka di mana hal tersebut tercantum dalam Q.S. al-Qamar: 17, al-Dukhan: 58, dan al-Fushilat: 53.

Ia sangat menghargai Tafsir bi al-Ra’yi dan selalu memelihara agar tafsir yang dibuat tidak dipahami dan dikuasai oleh tujuan-tujuan khusus atau kepentingan pribadi, termasuk dalam menafsirkan ayat-ayat politik.

Seusai memahami nilai-nilai pendidikan iman dan sosialisasi dalam kehidupan, dilanjutkan memahami nilai-nilai dasar Islam dalam al-Quran. Barulah memulai proses menafsirkan secara benar.

Baca Juga :  Salahuddin Wahid: Sosok Kiai Moderat dan Nasionalis

Ia kemudian membuat konsep-konsep nilai pribadi dalam rumah tangga dalam tiga bagian fase tersebut. Sebab menurutnya, fondasi pemerintahan Islami berangkat dari fondasi keluarga. Banna menyatakan bahwa kuatnya pemerintahan berangkat dari nilai-nilai dalam keluarga.[] (Baca: Perjalanan Intektual Muhammad Abduh; Tokoh Islam Pembaharu dari Mesir)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here