Hari Raya Ketupat; Khazanah Islam Nusantara yang Terus Dilestariskan

3
387

BincangSyariah.Com – Di penjuru dunia, umat Islam hanya merayakan dua hari raya (‘iedain) yaitu hari raya Idul Fitri dan Idul Adha. Berbeda dengan umat Islam di Nusantara, mereka merayakan tiga hari raya yaitu, hari raya Idul Fitri, hari raya Idul Adha dan hari raya Ketupat.

Jika hari raya idul fitri dilaksanakan pada 1 Syawal, hari raya idul ada dilaksanakan pada 10 dzul hijjah, maka hari raya ketupat di Nusantara dilaksanakan pada 7 syawwal. Tentunya jika melihat pada literatur Islam baik klasik maupun modern tidak ditemukan istilah 3 hari raya, yang ada hanyalah istilah “iedain” yang bermakna dua hari raya saja.

Perayaan hari raya Ketupat hanyalah sebuah tradisi shadaqah ketupat ke sanak famili dan para tetangga sekitar atau yang dikenal dalam Bahasa Madura “ter-ater”. Tradisi ini diperkenalkan oleh Kanjeng Sunan Kalijaga menjadi simbol hari raya Umat Islam sejak masa Pemerintahan Demak dibawah Pimpinan Raden Patah di awal abad ke 15, dikenal dengan istilah Bakda Lebaran dan Bakda Kupat. Dalam filosofi Jawa, ketupat bukanlah sekedar hidangan khas hari raya. Ketupat atau kupat merupakan akronim dari Ngaku Lepat (mengakui kesalahan) dan Laku Papat (empat tindakan, kesalahan manusia, saling memaafkan, kesucian hati & kesempurnaan).

Lalu apa landasan umat Islam di Nusantara melaksanakan hari raya Ketupat pada 7 Syawal?

Ya, ada sebuah hadis Rasulullah, “Barang siapa berpuasa di bulan Ramadhan kemudian dilanjutkan berpuasa 6 hari di bulan Syawal , maka seperti berpuasa setahun penuh.” HR. Muslim (Juz 2, hlm. 822)

Lantas timbul sebuah pertanyaan, apakah Hari Raya Ketupat ini bidah?

Hari Raya Ketupat memang belum pernah dilakukan Rasulullah, tapi esensinya sudah dilakukan oleh Rasulullah dan Para Tabiin hingga Ulama sampai sekarang, yaitu shadaqah. Shadaqah kepada sanak famili dan tetangga merupakan sunah Rasulullah yang sangat dianjurkan bahkan memiliki banyak sekali keutamaan. Di antara keutamaannya, menghapus dosa, tidak akan mengurangi harta, melipatgandakan harta, dijauhi dari musibah, mendapatkan perlindungan di hari akhir dan keutamaan-keutamaan lainnya. Tradisi hari raya ketupat ini memiliki kemaslahatan dan tidak bertentangan dengan lima konsep maqashid Syariah.

Merayakan Hari Raya Ketupat dengan shadaqah termasuk dalam kategori hadist Rasulullah, “Barang siapa yang membuat satu kebaikan yang baru dalam Islam, maka akan mendapatkan pahala dan pahala orang yang mengikutinya tanpa dikurangi pahalanya sedikit pun.” (HR Muslim, Juz 2, hlm. 704).

Baca Juga :  Cerita Nabi tentang Si Belang, Si Botak dan Si Buta

Melihat keutamaan-keutamaan tersebut, umat Islam di Nusantara terus menerus dilestarikan secara turun-temurun merayakan Hari Raya Ketupat dengan shadaqah ketupat ke sanak keluarga dan para tetangga pada setiap tanggal 7 Syawal.

3 KOMENTAR

  1. Melaksanakan ajrn agama Islam itu hrs merunut dari Al Quran, Hadits, Ijma’, Qiyas…bukan dari adat..trs dihubungkn/cari2 dalilnya…
    Kupat itu ada sejak jaman budha dn hindu.
    Amaliah bln syawal sdh jls dicontohkan Rasululloh…jgn mereka2 sendiri..

  2. Melaksanakan ajrn agama Islam itu hrs merunut dari Al Quran, Hadits, Ijma’, Qiyas…bukan dari adat..trs dihubungkn/cari2 dalilnya…
    Kupat itu ada sejak jaman budha dn hindu.
    Amaliah bln syawal sdh jls dicontohkan Rasululloh…jgn mereka2 sendiri..

  3. […] BincangSyariah.Com – Islam Nusantara bukanlah mazhab baru yang mengajarkan kesesatan. Islam Nusantara itu maksudnya Islam yang berada di Nusantara. Oleh karena itu, sangat keliru besar orang yang menduga bahwa Islam Nusantara itu sesat menyesatkan. Berikut ini adalah empat karakteristik Islam Nusantara. Yuk simak video ini jika kita masih belum memahami. (Hari Raya Ketupat; Khazanah Islam Nusantara yang Terus Dilestarikan) […]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here