BincangSyariah.Com – Tangan saya gatal untuk sekadar menggali informasi valid terkait isu tersebut. Ternyata, sependek pengamatan saya, wacananya tidak seheboh itu. Yang bisa saya simpulkan pasca membandingkannya dengan kabar lain yang serupa di beberapa media, barulah saya paham bahwa yang dimaksud ialah wacana menaikkan harga rokok menjadi 2 kali lipat. Mengapa menjadi 50.000? Karena estimasi perbungkusnya mencapai 25.000 rupiah.

Rokok saya, Djarum MLD harganya 17.000. Kenaikannya tentu tidak akan mencapai 50.000. Jika benar, maka harganya hanya sekitar 34.000 saja, dan hal itu bisa Warga Facebook bandingkan sendiri dengan rokok lainnya.

Hal ini mengacu pada biaya produksi masing-masing perusahaan rokok yang berbeda, sehingga berdampak pada perbedaan harga penjualan masing-masing rokok (teori penjualan mengikuti ongkos produksi).

Secara pribadi, tentu saya cukup risih dengan wacana itu. Namun lama-lama saya cukup tergelitik untuk menanyakan hal berikut; Mengapa para pengusaha rokok seakan diam dan tidak melakukan advokasi terhadap pemerintah terkait rencana kenaikan harga rokok? Bukankah kenaikan harga rokok secara langsung bisa berdampak pada menurunnya penghasilan perusahaan? Dari sini, ada dua skenario jawaban yang bisa saya kemukakan.

Pertama, mereka diam karena mereka paham betul bahwa bagi sebagian masyarakat Indonesia, rokok tidak hanya dianggap sebagai kebutuhan. Lebih dari itu, rokok sangat identik dengan budaya dan kultur sebagian masyarakat Indonesia.

Kita tentu mengetahui kultur sebagian masyarakat yang identik dengan ‘menyan’ dan ‘rokok’, atau di beberapa daerah, orang-orang tua (laki-laki dan perempuan) merupakan perokok tulen yang kesehatannya tidak terganggu akibat merokok. Memulai aktivitas menanam padi, bercengkerama dengan tetangga dengan meroko menjadi bagian tak terpisahkan dari masyarakat kita, tak terkecuali aktivitas sosial keagamaan lain seperti tahlilan dan sebagainya.

Baca Juga :  Empat Tipe Manusia terkait Urusan Dunia

Karena telah menjadi bagian dari kebutuhan dan kultur budaya, tentu berapapun harga yang harus dibayarkan, masyarakat sudah pasti tetap akan mengusahakannya meskipun dapat mengakibatkan penurunan daya beli terhadap rokok dan juga kebutuhan lainnya. Di mata para pengusaha itu, tentu hal tersebut tidak memengaruhi pendapatan mereka, bukan? Terutama jika kita amati teori supply and demand yang cukup populer itu.

Kedua, para pengusaha itu diam karena memang sudah mengetahui nomenklatur dalam Rancangan Undang-undang (RUU) yang sedang digodok (bahkan beberapa media memberitakan pemerintah telah mengesahkannya) itu tidak begitu signifikan mengurangi pendapatan perusahaan rokok, mengingat jenis-jenis rokok tertentu saja yang mengalami kenaikan harga.

Saya sih yakin betul jika di dalam proses penyusunan RUU, pemerintah sebagai regulator pasti melibatkan para pengusaha rokok. Maka, diamnya mereka mengindikasikan bahwa mereka tidak melihat adanya pasal di dalam RUU tersebut yang secara signifikan mengurangi pendapatan perusahaan.

Ini dimungkinkan jika kenaikan harga berlaku pada beberapa jenis rokok saja, atau wacana kenaikan justru terjadi pada tembakaunya, bukan rokok itu sendiri. Tentu saja jika dugaan saya benar, maka jenis rokok yang komposisi terbesarnya adalah tembakau menjadi yang paling dirugikan pasca disahkannya RUU itu.

Dan itu berarti kenaikan berlaku pada rokok-rokok kretek yang memang penjualannya di Indonesia sudah mengalami penurunan cukup signifikan karena masyarakat mulai beralih ke rokok filter.

Kalau skenarionya ini, saya ndak kaget. Sedari awal memang hegemoni rokok filter yang memang produk import itu sudah sejak beberapa tahun belakangan mematikan rokok asli masyarakat Indonesia; “rokok kretek”.

Terlepas benar atau tidaknya bulan depan harga rokok bakalan setinggi langit, namun bagi saya logika pemerintah ya sedari awal memang begitu; Menaikkan harga untuk menambal defisit anggaran yang konon habis-habisan untuk belanja infrastruktur.

Baca Juga :  Karamah Jumat Bersama Syekh Ali Jumah

Terlebih, pemasukan dari sektor perpajakan mengalami penurunan dan UU Pengampunan Pajak sejauh ini baru berhasil mengembalikan dana pengusaha Indonesia yang konon mencapai 10.000 Trilyun itu hanya sekitar 2 Trilyun saja, jauh dari target yang dicapai. Warga bisa menelusuri informasi ini dari sumber-sumber media yang ada.

Kenaikan harga rokok sedemikian rupa dimainkan sebagian media untuk mencapai tujuan tertentu juga sangat mungkin saja terjadi. Alasan-alasan kesehatan, makin tingginya perokok yang berasal dari kalangan muda hingga usia SD serta alasan lainnya merupakan kamuflase untuk menutupi motif utama yang memang sangat sulit diraba kaum awam seperti saya di tengah hegemoni media dan pemberitaan.

Atau jangan-jangan ini hanya isu dan berakhir pada wacana kosong seperti wacana Full Day School yang ramai dibincangkan beberapa waktu lalu? Itu juga mungkin. Entahlah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here