Hanzhalah bin Abu Amir; Sahabat yang Jasadnya Dimandikan Malaikat

0
1573

BincangSyariah.Com – Hanzhalah adalah putra dan Abu Amir bin Sify, pemuka kaum Aus. Abu Amir seorang bangsawan dan hartawan, disegani dan dihormati oleh kaumnya, apa yang ia katakan akan selalu di amini oleh kaumnya.

Suatu ukiran sejarah yang menarik ketika membahas Hanzhalah. Betapa tidak, kejadian menimpanya seperti tak pernah terbayang sebelumnya. Ia adalah putra dari seorang bangsawan yang mempunyai kedudukan istimewa dalam lingkungan kaumnya, kaum Aus.

Dalam usia yang begitu muda, ia begitu meyakini apa yang telah dibawa oleh Nabi Muhammad dan dakwahnya. Dia rela menderita bersama sang Nabi, dengan cara meninggalakan segala kemewahan hidup yang mengitarinya. Bahkan sang ayahanda tercinta, Abu Amir, dan ibundanya ia tinggalakan setelah berbait kepada Nabi Muhammad. Bahkan kemudian ia dengan rela hati hendak membunuh sang ayah sendiri yang masih kafir.

Sehari sebelum perang Uhud pecah, yakni pada malam Jum’at, Hanzhalah bin Amir, dinikahkan dengan Jamilah puteri Abdullah bin Ubay sebagai istrinya. Baru sehari ia menginjakkan kakiknya ditaman surga dunia, serta baru beberapa saat dia meraskan kenikmatan bergaul dengan istrinya yang cantik jelita, keesokan harinya ia harus berpisah dengan teman hidupnya yang baru menikah dengan dirinya. Sebab bedung perang telah berbunyi.

Dengan hati hati dan wajah yang tetap tenang, Hanzhalah pamit dan mengucapkan selamat tinggal kepada sang istri. Sang istri merasa bangga melihat sang suami menggunakan pakaian perang karena terlihat gagah dan menawan. Setelah selang beberapa menit, sepasang mata kekasih yang berhadapan itupun hilang bersamaan dengan berangkatnya sang suami dari halaman rumahnya.

Dimedan perang, Hanzhalah terlihat gagah dan berani. Sewaktu melihat Abu Sufyan, ia terus menerkam pundaknya sehingga Abu Sufyan tersungkur ke bumi. Pada saat itu Abu Sufyan berteriak: “Wahai saudaraku-saudaraku kaum Qurais, lihatlah aku ini Abu Sufyan bin Harb sedang dalam bahaya”.

Baca Juga :  Said Bin Amir: Pemimpin Yang Fakir

Mendengar teriakan Abu Sufyan, maka kaum Qurais segera menyerbu dan memukul Hanzhalah secara bertubi-tubi. Tak sempat membalas karena telah dikeliling oleh kaum Qurais yang memukulinya, lembing musuh telah menembus badannya yang mengantarkan dia ke akhir hayat. Ia meninggalkan sang istri yang baru sehari bergaul bersamanya.

Hanzhalah telah tiada, ia tidak lagi menjadi penghuni dunia yang fana. Mayatnya berupa tubuh kasah boleh berada dibumi dan buat sesuka hati musuhnya, dicencang atau tidak, sudah tidak masalah. Dirinya telah berada di taman-taman sorga.

Beriringan dengan kejadian tersebut, Rasulullah kemudian bersabda kepada para sahabat-sahabatnya: “Aku melihat Malaikat sedang memandikan jasad Hanzhalah bin Abu Amir antara langit dan bui dengan air kasturi dalam bejana perak”.

Mendengar sabda Nabi Muhammad tersebut, para sahabat segera bergegas menuju ketempat mayat Handhalah, dan terlihat ada air menetes di kepala Hanzhalah. Segera mereka melaporkan kepada Nabi Muhammad apa yang telah mereka saksikan.

Waktu itu, Nabi Muhammad mengirim utusan kepada istrinya untuk menanyakan sesuatu. Kemudian istrinya menceritakan kepada utusan tersebut bahwa Hanzhalah kemedan perang dalam keadaan junub karena waktu itu terburu-buru dan tidak sempat mandi. Alangkah berbahagianya sahabat Nabi sekaligus pahlawan Hanzhalah, jasadnya telah dimandikan Malaikat.

Disarikan dari buku karya  A. Hasjmy, Pahlawan-Pahlawan yng Gugur di Zaman Nabi, Jakarta: Bulan Bintang, 1975.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here