Hanasy As-Shanani; Insinyur Sejumlah Masjid di Spanyol

1
877

BincangSyariah.Com – Semasa hidupnya Hanasy telah mengikuti banyak pertempuran. Mesir,  Maghrib, Syam, Madinah higga Andalusia adalah sebagian kawasan yang pernah dijajakinya. Saat Uqbah bin Nafi’ terbunuh, ia lah yang menggantikan posisinya memimpin bala tentara untuk kembali ke Kairouan. Namun, yang menjadi khas adalah selain pejuang ia merangkap sebagai insinyur masjid.

Soal tanah lahirnya, para sejarawan berbeda pendapat. Ada yang mengatakan bahwa ia berasal dari Sana’a Yaman. Namun ada juga yang meyakini bahwa ia berasal dari desa Sana’a di Syiria. Sebagaimana Yaqut Al–Hamawi menjelaskan dua area bernama Sana’a. Satu di Yaman dan satunya lagi sebuah desa di kawasan Ghouta Syiria. Disisi lain, para ahli juga berbeda soal nama panggilanya. Ada yang menyebutnya Abu Rasyid, Abu Rasyiq bahkan Abu Ali.

Di kalangan Tabiin, Hanasy tumbuh berkembang sebagai pria yang cerdas. Apalagi ia mempelajari sesuatu langsung dari ahlinya. Menurut Abbas Jabir Sulthan Hanasy berguru pada tokoh–tokoh besar Muslim di antaranya Ali bin Abi Thalib, Abdullah bin Abbas, Ummu Aiman, Abdullah bin Umar, Abu Hurairah, Abu Sa’id, Ikrimah, Fadhalah bin Ubaid hingga Ruwaifi’ bin Tsabit.

Seperti telah disinggung di awal bahwa Hanasy sudah malang melintang di berbagai negara.  Namanya dikenal oleh banyak panglima perang berkat kontribusi berharganya terutama dalam bidang pembangunan masjid dan penentuan arah kiblat. Ia diketahui telah membangun sejumlah masjid di Tunisia dan Spanyol.

Kisah perjuangannya di Spanyol, berawal saat ia bergabung dalam sebuah korps militer dibawah pimpinan Gubernur Ifriqiyya (Tunisia), Musa bin Nusair dalam misi penaklukan bumi matador tahun 92 H. Kelompok militer yang didominasi oleh para Sahabat dan Tabi’in ini bertolak menuju Spanyol untuk memperkuat kekuatan Thariq bin Ziyad yang sudah berangkat lebih awal.

Baca Juga :  Hikmah Pagi: Dialog Sang Khalifah dengan Cucu Umar ibn Khattab

Ibnu Qutiyah mengisahkan bahwa Musa bin Nusair sempat kesulitan ketika hendak mendobrak pertahanan musuh di Timur Andalusia. Mereka telah berupaya selama 20 malam namun belum juga mendapat titik terang. Sampai kemudian dua orang Tabi’in salih, Hanasy As-San’ani dan Abdurrahman Al Hubuli memanjatkan doa meminta agar umat Islam diberi kemudahan.

Beberapa saat setelah itu, doanya terkabulkan. Kaum Muslim pun berhasil menerabas pertahanan musuh. Pasca kemenangan tersebut sejumlah benteng di wilayah yang sama mampu dikuasi Musa bin Nusair dan para prajuritnya.

Kisah mengagumkan lainnya terjadi saat  penaklukan Cordoba. Dikisahkan setelah umat Islam mampu menguasi Cordoba, Hanasy segera meletakkan telapak tangannya di samping telinganya kemudian mengumandangkan adzan. Para karibnya heran dengan apa yang dilakukan Hanasy.

Kemudian mereka bertanya, mengapa adzan dikumandangkan padahal belum masuk waktunya. Ia pun menjawab, agar nama Allah (dakwah Islam) di Cordoba tidak terputus hingga hari kiamat kelak. Sejak saat itu, ia dikenal sebagai orang pertama yang mengumandangkan adzan di wilayah tersebut.

Sumber–sumber sejarah mensifati Hanasy sebagai muslim yang taat, zuhud, wara’ dan ahli ibadah. Dikisahkan ia telah bernadzar akan mendedikasikan dirinya hanya untuk Alloh Swt semata. Bukan untuk harta atau popularitas. Maka Hanasy pun konsisten dengan janjinya, ia tidak mengambil sedikit pun dari kekayaan Andalusia.

Peristiwa ini diperkuat oleh Abdul Malik Ibnu Habib As-Silmi dalam Kitab At-Tarikh, “Ibnu Rabi’ah berkata : Pada saat itu, semua orang mengambil bagiannya, kecuali empat orang  dari kalangan Tabi’in yaitu Abu Abdurrahman Al-Hubuli, Ibnu Syamasyah, Hanasy As-Shan’ani dan ‘Iyadh bin Uqbah Al-Fihri”.

Kecintaannya terhadap masjid amat begitu dalam. Bukan karena fisik bangunannya, namun karena melalui perantara masjid lah kalimat – kalimat Allah Swt menggema menyeru umat Islam untuk turut mengagungkan asma-Nya. Bentuk cintanya ini tidak hanya manis di bibir namun ia realisasikan dalam wujud semangatnya untuk mendirikan masjid di tempat yang pernah ia kunjungi.

Baca Juga :  Lima Rasul "Ulul Azmi"

Misalnya, saat ia menetap di Kairouan Tunisia. Ia menyibukan dirinya untuk membangun sebuah masjid. Masjid ini  diberi nama Masjid Hanasy as-San’ani. Namun, ada juga yang mengatakan bahwa namanya adalah masjid Ali sebagai bentuk penghormatan terhadap Sahabat Ali bin Abi Thalib.

Apapun namanya yang pasti, tempat ibadah ini adalah tonggak syiar yang ia rintis untuk mengajarkan sekaligus mengaplikasikan ajaran – ajaran Islam di tengah masyarakat Kairouan baik untuk pribumi maupun pendatang yang kerap hadir di majelis ilmunya. Jika menoleh ke sejarah masjid Kairoan, bisa dikatakan bahwa Majid Hanasy termasuk yang paling tua di antara masjid lainnya.

Apalagi Hanasy satu masa dengan Uqbah bin Nafi’ selaku pendiri kota Kairouan dan perintis Masjid Agung Uqbah. Walaupun memang Uqbah masuk dalam kategori sahabat nabi sedangkan Hanasy adalah titisannya alias Tabi’in. Meski begitu, sejarah mencatat keduanya sering kali bekerjasama di sebuah tim dalam misi penaklukan Afrika Utara.

Menurut Ibnu Al-Qutiya selain di Kairouan,  Hanasy juga membangun masjid di Spanyol. Bersama sahabat dekatnya, Abdurrahman Al Hubuli ia merintis Masjid Agung Cordoba. Namun, perlu diketahui ada juga yang berpendapat bahwa masjid ini dibangun oleh Abdurrahman Ad-Dakhil pendiri Dinasti Umayyah II.

Selanjutnya, Masjid  Agung Zaragoza atau yang kemudian berkembang menjadi Masjid Jami’ Al Abyad. Masjid ini juga dibangun oleh Hanasy As-San’ani. Tepatnya saat rombongan Musa bin Nusair berkunjung kesini dan berhasil mendudukinya sebagai bagian dari pemerintahan Islam. Sebagai simbol  kebesaran Islam disamping kebutuhan umat, masjid ini pun didirikan. (Baca: Mengenal Musa bin Nushair Sang Penakluk Andalusia)

Satu masjid lainnya yang tercatat dibangun oleh sang insinyur adalah Masjid Agung Elvira. Elvira terletak di selatan Andalusia dekat Granada. Menurut sejarawan Andalusia abad 15 Abdul Mun’im Al-Himyari, setelah diprakarsai oleh Hanasy, masjid ini diperbaharui oleh para pejabat termasuk Muhammad bin Abdurrahman, raja ke lima Dinasti Umayyah II.  Hal ini terjadi saat serdadu – serdadu asal Syiria banyak beremigrasi ke wilayah tersebut.

Baca Juga :  Kerajaan Goa: Kerajaan Islam Pertama di Sulawesi

Kendati ketiga masjid tersebut telah mengalami banyak renovasi dan perluasan. Namun, sentuhan Hanasy tidak pernah dihilangkan. Ada beberapa bagaian yang diabadikan sengaja tidak dirubah untuk mengenang dan menghormati jasa besar sang perintis.

Pendirian mihrab dan penentuan arah kiblat menjadi spesialis Hanasy as-San’ani. Meski pada masaya alat ukur masih terbatas dan belum begitu canggih, namun melalui kedalaman ilmu pengetahuan yang ditopang dengan ketelitiannya, ia tetap berhasil mengetahui ke arah mana umat Islam akan bersujud. Jelas hal ini tidak dapat dilakukan kecuali oleh orang – orang yang sudah memiliki jam terbang tinggi.

Menurut beberapa sumber, arah kiblat yang ia tentukan di sejumlah masjid yang telah ia buat tetap bertahan hingga berabad – abad lamanya. Kota Zaragoza menjadi tanah terakhir yang ia kunjungi. Tahun 100 H di usia sekitar 90 tahun, umat Islam kehilangan salah seorang insinyur terbaiknya.  Jenazahnya diitirahatkan untuk terakhir kalinya di pemakaman Bab Al-Qiblah yang dulu berada di dekat pintu selatan kota Zargoza.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here