Haji Misbach: Simbol Perlawanan Islam di Masa Perjuangan Kemerdekaan

0
22

BincangSyariah.Com – Haji Mohammad Misbach atau Haji Misbach adalah simbol perlawanan Islam, salah satu tokoh dari generasi yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dari kekejian kapitalisme. Ia bergerak dan mencari jalan keluar dari keresahan sosial yang muncul di awal-awal abad ke-20. (Baca: Abdul Malik Fadjar: Tokoh Pejuang Pendidikan dari Muhammadiyah)

Sayangnya, Haji Misbach kerap dikenang sebagai sosok muslim-komunis atau komunis-Islam, tanpa dilihat apa saja gagasan-gagasannya dan dinamika konteks yang menyertainya. Haji Misbach sebenarnya adalah sosok yang sangat dikenal terbatas lantaran pendekatan sejarah yang lebih sering membahas tokoh-tokoh besar.

Dua buku yang komprehensif dalam membahas perjalanan hidup dan pergerakan Haji Misbach adalah buku yang diterbitkan berdasarkan disertasi Takashi Shiraishi yang berjudul Zaman Bergerak: Radikalisme Rakyat di Jawa 1912-1926 (1997), dan buku karya Nor Hiqmah yang berjudul H.M. Misbach: Sosok dan Kontroversi Pemikirannya (2000).

Perjalanan Hidup

Haji Misbach lahir pada 1876 di Kauman Surakarta. Ia tumbuh dewasa di lingkungan Kesunanan dan pejabat keagamaan Keraton Surakarta. Ia mengorbankan seluruh kekayaannya untuk pergerakan.

Pada 1924, keluarga Haji Misbach diusir dari tanah Jawa ke Manokwari oleh Belanda pada tahun-tahun terakhir kisah hidupnya. Misbach wafat dan dikubur di Manokwari berdampingan dengan istrinya pada 24 Mei 1926.

Pembuangan Misbach ke Manokwari adalah hukuman yang ketiga dengan tuduhan mendalangi kerusuhan, melakukan sabotase, meneror serta mengganggu rust en orde atau ketertiban umum.

Meskipun pada akhirnya diketahui bahwa tuduhan tersebut tidak pernah terbukti, ia tetap dibuang tanpa diperbolehkan diantar oleh siapa pun. Di pengasingan, ia tidak boleh ditengok dan hanya diperbolehkan membaca al-Quran.

Sebelumnya, pada 7 Mei 1919, ia dipenjara dengan tuduhan menghasut kaum tani untuk mogok. Pada 16 Mei 1920, ia kembali dipenjarakan di Pekalongan selama dua tahun tiga bulan dengan tuduhan melanggar delik pers, menghasut massa melawan raja dan Pemerintah Hindia Belanda.

Baca Juga :  Tahukah Kamu Kalau Terjemahan Al-Qur’an di Indonesia Mengalami Beberapa Revisi?

Terbitan-terbitan di masa itu mengatakan bahwa Misbach adalah sosok yang berdedikasi, berani, dan penuh pengorbanan. Marco Kartodikromo menyebut Haji Misbach sebagai haji populis yang disegani oleh para pemuka Islam.

Sementara itu, Tjipto Mangoenkoesoemo melukiskan Haji Misbach sebagai seorang ksatria sejati yang berani mengorbankan seluruh hidupnya untuk pergerakan. Tan Malaka mengenang Misbach sebagai sosok yang dicintai rakyat.

Ada dua peristiwa penting yang mengarahkan Misbach menggerakkan Islam sebagai inspirasi untuk melawan Belanda dan mempertanyakan tentang kemapanan agama. Hal inilah yang mengokohkan dirinya menjadi simbol perlawanan Islam di masa perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Pertama, adanya keterlibatan Haji Misbach dalam menolak sebuah kebijakan. Kebijakan tersebut adalah perbaikan rumah untuk membasmi wabah penyakit pes yang dikeluarkan Belanda pada 1915.

Haji Misbach menyatakan bahwa program tersebut semakin memiskinkan rakyat karena ada tambahan pengeluaran rakyat yang sat itu sedang menjalankan kerja paksa untuk Belanda. Haji Misbach pun gencar menolak kerja paksa. Ia melihat bahwa program perbaikan rumah memiliki hubungan dengan kebijakan-kebijakan yang lain.

Kedua, keterlibatan Haji Misbach dalam upaya mempertahankan penodaan agama Islam yang dilakukan oleh surat kabar Kristen, pada 1918. Saat itu, Tjokroaminoto sebagai orang berpengaruh di Serikat Islam (SI), mengajak seluruh anggotanya untuk menggempur penodaan agama. Tjokroaminoto pun mendirikan Tentera Kandjeng Nabi Moehammad (TKNM), sementara Haji Misbach dan santri lainnya mendirikan organisasi Sidik Amanah Tablegh Vatonah (SATV).

Kampanye yang dilakukan pada saat itu berbeda dengan keadaan sekarang, di mana penodaan agama direaksikan dengan kekerasan dan arogansi. Pada awal-awal abad ke-20, debat di media surat kabar dan pamflet adalah hal yang biasa. Debat yang berlangsung kemudian akan berlanjut dengan rapat umum. Tidak ada unsur kekerasan sama sekali di dalam perdebatan dan rapat tersebut.

Baca Juga :  Thahir Haddad: Pejuang Feminis Tunisia yang Meninggal Dalam Pengasingan

Selanjutnya, perlawanan antipenodaan agama tersebut akhirnya dihentikan tanpa penjelasan resmi dari Tjokroaminoto. Umat Islam Surakarta merasa ditipu, termasuk Haji Misbach dan kawan-kawannya yang telah mencurahkan tenaga, pikiran dan sumber keuangan untuk mendukung kegiatan tersebut. Tjokroaminoto dianggap berkhianat dan diduga menilep uang kampanye.

Karena peristiwa tersebut, kepercayaan masyarakat pun luntur. Masyarakat mulai melihat Misbach sebagai sosok yang istiqomah dalam menegakkan Islam. Beberapa waktu kemudian, Haji Misbach pun dipercaya memimpin TKNM dan SATV.

Eksistensi Haji Misbach sebagai simbol perlawanan Islam semakin matang dan tidak sekadar menjadi donatur dan follower SI. Ia juga aktif menulis dan menyebarkan gagasan-gagasan melalui rapat-rapat dan surat kabar. Tulisan pertamanya berjudul Sroean Kita dimuat di Medan Moeslimin.[]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here